11.1.12

al-Imam al-Alamah al-Hafizh asy-Syaikh Ibn al-Jauzi rahimahullah

Nama Lengkap dan Nasabnya

Nama lengkap beliau adalah Jamalludin 'Abdul Faraj 'Abdurrahman ibn 'Ali ibn Muhammad ibn 'Ali al-Qurasyi at-Taimi al-Bakri al-Baghdadi al-Hambali. Nasab beliau sampai kepada Khalifah ar-Rasyidin yang pertama Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu. Nasab lengkapnya yaitu Jamalludin 'Abdul Faraj 'Abdurrahman ibn 'Ali ibn Muhammad ibn 'Ali ibn 'Ubaidillah ibn 'Abdullah ibn Hammadi ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Ja'far ibn 'Abdullah ibn al-Qasim ibn an-Nadr ibn al-Qasim ibn Muhammad ibn 'Abdullah al-Qasim ibn Muhammad ibn Abu Bakar ash-Shiddiq al-Quraysi at-Taimi al-Bakri al-Baghdadi al-Hambali. Beliau diberi gelar Ibn al-Jauzi dinisbatkan kepada kakeknya yang ketujuh yang bernama Ja'far. Kakeknya tersebut terkenal dengan sebutan Ibn al-Jauzi (anak kelapa), karena kelapa yang ia miliki di Wasith, dimana di sana sama sekali tidak ada kelapa selain milik beliau.

Ibn al-Jauzi rahimahullah hidup pada zaman Dinasti Abbasiyah (132-656 H). Beliau lahir di Darbu Habib yang terletak di Baghdad, dan diperselisihkan mengenai tanggal kelahirannya. Ada yang mengatakan beliau lahir pada tahun 507 H, ada pula yang mengatakan pada tahun 509 H atau tahun 510 H. Pendapat yang paling tepat adalah beliau dilahirkan sesudah tahun 510 H.

Pada muqadimah dalam beberapa karyanya, dikatakan bahwa beliau mulai menulis kitab pada tahun 527 H, saat berumur 17 tahun. Juga sebagaimana dinukilkan dari dirinya sendiri, pada bagian akhir Kitab Tarikh Baghdad karya Ibn an-Najar, "Aku tidak bisa memastikan tahun kelahiranku, hanya saja ayahku meninggal pada tahun 514 H. Sementara ibuku mengatakan bahwa umurku pada saat itu adalah 3 tahun." Berdasarkan tulisan itu, tahun kelahirannya adalah 511 H atau 1117 M.

Keluarganya adalah pedagang tembaga, karena itu didapati beberapa nama kuno-nya yang terkenal adalah 'Abdurrahman ibn 'Ali al-Jauzi ash-Shafar.

Saat ayahnya meninggal lalu beliau diasuh oleh bibinya (dari pihak ayah). Ketika beliau mulai tumbuh, bibinya membawa beliau kepada al-Hafizh Abu al-Fadhl ibn Nashir, lalu beliau belajar kepadanya. Dari Ibn Nashir, beliau mendapat seluruh perhatian dan pendidikan yang baik, hingga Ibn Nashir memperdengarkan hadits kepadanya.

Sejak masa kanak-kanaknya, Ibn al-Jauzi hidup dengan wara', taqwa, dan zuhud. Beliau juga tidak suka berkumpul dengan orang banyak, karena khawatir waktunya terbuang sia-sia dan menghindari terjadinya kesalahan. Dengan demikian, dia telah menjaga diri, ruh, dan waktunya.

al-Imam Ibn Katsir berkomentar, "Saat masih kecil, beliau (Ibn al-Jauzi) adalah orang yang taat beragama dan menutup diri, tidak suka bergaul dengan seorang pun, tidak memakan suatu yang mengandung syubhat, tidak keluar dari rumahnya kecuali untuk shalat berjama'ah, dan tidak bermain-main dengan anak-anak lainnya."

Ciri-Ciri Fisik

Ibn al-Jauzi rahimahullah memiliki perawakan yang lembut, tabiat yang manis, suara yang merdu dan gerakan yang teratur, beliau tidak pernah menyia-nyiakan waktu sedikit pun, sehingga beliau dapat menulis empat buku setiap hari.

Ujian dalam Kehidupannya

Ibn al-Jauzi rahimahullah mendapat ujian di akhir umurnya. Hal itu disebabkan karena suatu peristiwa. Saat pemerintahan menteri Ibn Yunus al-Hambali telah diadakan pembubaran majelis ar-Rukn 'Abdussalam ibn 'Abdul Wahhab ibn 'Abdul Qadir al-Kili, dan kitab-kitabnya pun dibakar. Di dalam kitab-kitab tersebut terdapat banyak ajaran atheisme, penyembahan kepada bintang-bintang, dan berbagai pendapat orang-orang terdahulu. Itu dilakukan di hadapan Ibn al-Jauzi dan para 'Ulama lainnya. Sang menteri menyita sebuah madrasah milik kakek 'Abdussaalam dan menyerahkannya kepada Ibn al-Jauzi.

Tatkala Ibn al-Qashshab menjabat sebagai menteri -sedang dia adalah seorang penganut Syi'ah Rafidhah- dia berusaha menangkap Ibn Yunus dan mengejar teman-temannya. ar-Rukn berkata, "Apa tindakanmu terhadap Ibn al-Jauzi? Sesungguhnya dia adalah penentangku dan termasuk anak Abu Bakar, dialah sahabat Ibn Yunus yang paling dekat. Ibn Yunus telah memberinya madrasah milik kakekku dan kitab-kitab kakekku juga dibakar atas saran Ibn al-Jauzi."

Kemudian Ibn al-Qashshab menulis surat kepada Khalifah an-Nashir -yang memiliki kecenderungan kepada Syi'ah-. Ibn al-Qashshab bermaksud menyakiti Ibn al-Jauzi dan memerintahkan agar dia diserahkan kepada ar-Rukn 'Abdussalam.

an-Nashir pun datang ke rumah Ibn al-Jauzi, lalu memaki-maki, menghina, menyegel rumah, dan mencerai-beraikan keluarga beliau. Kemudian beliau dimasukkan ke dalam kapal menuju tempat bernama Wasith. Di sana beliau ditahan di dalam suatu ruangan. Kondisi itu beliau jalani selama lima tahun dan pada saat itu beliau masih beraktifitas seperti biasa. Beliau tetap mencuci pakaiannya dan memasak.

Ujian dengan berbagai jenisnya, kesabaran dalam menghadapinya, dan terus berdiri tegar menghadapi kebathilan, kedzaliman dan thaghud, semuanya merupakan bentuk kegigihan para 'Ulama dan para Mujahid yang ikhlas.

Wafatnya

Imam Ibn al-Jauzi rahimahullah wafat pada tengah malam Jum'at, 13 Ramadhan 597 H di Baghdad, mendekati 90 tahun dari usianya. Jenazah beliau dimandikan pada waktu sahur. Penduduk Baghdad pun berkumpul dan memikul jenasah beliau di atas kepala mereka. Jumlah mereka amat banyak, sampai-sampai jenasah tiba di lubang kuburnya pada waktu shalat Jum'at, saat muadzin tengah mengucapkan, "Allahu akbar". Beliau dimakamkan di Bab Harb, dekat makam Imam Ahmad ibn Hanbali rahimahullah.

Karya-Karyanya

Beliau memiliki peran dalam semua bidang ilmu, beliau adalah seorang yang sangat menonjol dalam bidang tafsir, memiliki gelar al-Hafizh dalam bidang hadits, termasuk 'Ulama yang sangat luas dalam bidang sejarah, bahkan beliau memiliki satu buku dalam bidang kedokteran yang diberi nama Kitab al-Luqath.

Ibn Rajab meriwayatkan dari al-Qathi'i dalam kitab tariknya, bahwa telah terbukti karya tulis yang dibuat oleh Ibn al-Jauzi dengan tulisan tangannya mencapai kira-kira 199 judul buku.

Karya-karya Ibn al-Jauzi rahimahullah, antara lain: Talqih Fuhum Ahl al-atsar fi Mukhtashar al-Sayr wa al-Akhbar, al-Adzkiya' wa Akhbaruhum, al-Mawdhu'at, Manaqib Umar ibn 'Abd al-Aziz, Ruh al-Arwah, Syudzur al-Uqud fi Tarikh al-Uhud (manuskrip), Zad al-Masir fi Tafsir, al-Muntazhim fi Tarikh al-Muluk wa al-Umam (enam jilid), al-Dzahab al-Masbuk fi Sayr al-Muluk (manuskrip), al-Humuqa wa al-Mughfilin, al-Wafa fi Fadhail al-Musthafa, Manaqib Umar ibn al-Khaththab, Manaqib Ahmad ibn Hanbal, Gharib al-Hadits, al-Tahqiq. Dan banyak lagi karya lain beliau dalam berbagai disiplin ilmu.

Para Guru dan Murid-murid Ibn al-Jauzi

Ibn al-Jauzi telah mengarang satu buku khusus mengenai para gurunya. Di dalamnya beliau menyebutkan sekitar 80 orang syaikh. Pada pendahuluan buku tersebut, beliau menyebutkan perhatian beliau dalam memilih para guru yang paling unggul dan paling paham. Beliau berkata, "Syaikh kami, Ibn Nashir membawaku kepada beberapa syaikh, di waktu aku masih kecil. Ia memperdengarkan kepadaku hadits-hadits 'Ali, menegaskan bahwa aku telah mendengar hadits-hadits tersebut dengan bukti tertulis darinya, dan memintakan ijazah-ijazah dari mereka untukku. Tatkala aku telah paham tentang menuntut ilmu, aku tetap berguru kepada beberapa syaikh yang paling pandai dan mengutamakan para guru periwayatan hadits yang paling paham. cita-citaku saat itu adalah memperbaiki semangatku, bukan memperbanyak jumlahnya."

Di antara guru beliau adalah:
1. Abu Bakar Muhammad ibn 'Abdul Baqi ibn Muhammad ibn 'Abdullah ibn 'Abdurrahman ibn ar-Rabi ibn Tsabit.
2. Abu Bakar Muhammad ibn al-Hasan ibn 'Ali ibn Ibrahim, yang terkenal dengan nama al-Muzarra'i.
3. Abu al-Hasan 'Ali ibn 'Abdul Wahid ad-Dinawari.
4. Abu al-Fath 'Abdul Malik ibn Abi al-Qasim al-Karukhi.
5. Abu Sa'ad Ahmad ibn Muhammad ibn al-Hasan ibn 'Ali al-Baghdadi.

Beberapa Muridnya
1. al-Hafizh 'Abdul Ghani 'Abdul Wahid ibn 'Ali ibn Surur.
2. Yusuf ibn Farghali ibn 'Abdullah Abu al-Muzhaffar al-Wa'izh.
3. Ahmad ibn 'Abdul Da'im ibn Ni'mah, al-Katib al-Muhaddits.

Pujian 'Ulama terhadap Beliau

Para 'Ulama merasa takjub terhadap kepribadian dan usaha kerasnya yang hebat, sehingga mereka memuji dan menyanjungnya.

Ibn Khalliqan berkata, "Sesungguhnya beliau merupakan simbol pada masanya sekaligus imam dalam bidang hadits dan nasihat. Beliau mengarang dalam banyak bidang ilmu." Lalu Ibn Khaliqan menyebutkan beberapa karangan Ibn al-Jauzi dan melanjutkan, "Secara garis besar, kitab-kitab karyanya hampir tidak terhitung. Beliau telah menulis tentang banyak hal dengan goresan penanya, hingga orang-orang memberikan komentar secara berlebihan dalam hal itu dengan mengatakan, 'Sesungguhnya jika kitab atau buku yang telah ditulisnya dikumpulkan dan lama umur beliau dihitung, lalu jumlah buku hasil tulisannya dibagi dengan umur beliau, maka hasilnya tidak kurang dari sembilan buku yang beliau tulis dalam sehari'."

adz-Dzahabi berkomentar dalam at-Tarikh al-Kabir, "Menurut kami, Ibn al-Jauzi tidak digelari sebagai seorang hafizh hadits berdasarkan keahliannya menghafal hadits, tapi didasarkan banyaknya ilmu yang dia miliki dan karya yang dia tulis."

al-Hafiz ad-Dubaisi meriwayatkan dari Ibn al-Jauzi, "Beliau termasuk orang yang paling mahir dalam berbicara, urutan pembicaraannya paling tertata rapi, paling enak bahasanya, paling bagus dalam memberikan penjelasan, dan diberikan keberkahan pada usia dan amalnya. Beliau meriwayatkan dari banyak 'Ulama, dan masyarakat mendengar pelajaran dari beliau selama lebih dari empat puluh tahun, serta beberapa kali beliau membicarakan karya-karyanya."

Ibn Katsir berkata, "Ibn al-Jauzi memiliki keistimewaan tersendiri dalam tehnik memberikan nasihat yang belum pernah disamai oleh seorang pun dan ambisinya dalam bidang ini belum ada yang menyamainya; juga dalam metodenya, bicaranya, kemanisan untaian kalimatnya, kemanjuran nasihatnya, kedalaman pembahasannya mengenai makna-makna yang indah, pendekatan yang beliau lakukan terhadap hal-hal
asing dan perkara-perkara indrawi yang bisa dilihat melalui ungkapan yang ringkas lagi cepat dipahami dan dimengerti, dimana beliau menggabungkan banyak makna dalam satu kalimat ringkas."

Demikian biografi singkat dari al-Imam al-Alamah al-Hafizh asy-Syaikh Ibn al-Jauzi. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala meridhai beliau dan menempatkan beliau pada kedudukan yang tinggi di sisi Rabbnya. Amiin.

* Untuk memperdalam lagi wawasan tentang biografi Ibn al-Jauzi, silahkan lihat:
- Dzail Thabaqaat al-Hanaabilah karya Ibn Rajab [I/399-433]
- Tadzkirah al-Huffaazh karya adz-Dzahabi [1342]
- al-Bidaayah wa an-Nihaayah [13/28-30]
- Thabaqaat al-Mufassiriin karya as-Suyuthi [50]



FeedCount

Cari artikel di blog ini

Loading

Ikuti via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Followers

Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template