4.1.12

Sahabat Nabi : Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Perawi Hadits Terbanyak

Nama Lengkap dan Nasab

Nama lengkapnya adalah 'Abdurrahman ibn Shakhr, keturunan Tsa'labah ibn Salim ibn Fahm ibn Ghunm ibn Daus al-Yamani. Beliau berasal dari kabilah Daus, sebuah kabilah yang dinisbahkan kepada Daus ibn 'Adnan ibn 'Abdullah ibn Zahran ibn Ka'ab ibn Harits ibn Ka'ab ibn 'Abdullah ibn Malik ibn Nashr yaitu Sanu'ah ibn Azad. Azad termasuk kabilah Arab terbesar dan terkenal. Nisbah kepada Azad ibn Ghauts ibn Nabt ibn Malik ibn Kahlan dari keturunan Arab Qahthaniyah.

Ibn Ishaq rahimahullah berkomentar tentang Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu: "Abu Hurairah adalah seorang mulia. Berkedudukan tinggi dan dipercaya di kalangan Bani Daus. Bani Daus senang memilikinya."

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu diperkirakan lahir 21 tahun sebelum hijrah, dan sejak kecil sudah menjadi yatim. Semula beliau bernama Abdusy Syams, sebagaimana ditetapkan Imam al-Bukhari, at-Tirmidzi dan al-Hakim. Setelah memeluk Islam, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian mengganti namanya menjadi 'Abdurrahman. Abu Ubaid rahimahullah berkata bahwa nama beliau adalah 'Abdullah, dan Ibn Khuzaimah rahimahullah terbiasa menggunakan nama itu.

Imam Bukhari rahimahullah dalam kitab al-Adab al-Mufrad mengutip dari Musa ibn Ya'qub al-Juma'i rahimahullah yang telah bertemu dengan Sahabat-sahabat setia Abu Hurairah. Bahwa sebelumnya, Abu Hurairah bernama 'Abdullah. Hal ini membuat Ibn Hajar rahimahullah mengakui adanya kemungkinan benarnya dua nama tersebut.

Kunyah (julukan) beliau adalah Abu Hurairah, dan inilah yang masyhur. Tentang julukannya ini, Imam al-Hakim rahimahullah meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata, "Mereka memberikan gelar dan julukan kepadaku Abu Hurairah. Penyebabnya, tidak lain karena aku pernah menggembalakan kambing untuk keluargaku. Dan saat itu kudapati anak kucing liar, lalu aku masukkan ke kantong lenganku. Ketika aku pulang kembali ke rumah, mereka mendengar suara kucing di kamarku, kemudian bertanya, 'Suara apakah itu, wahai Abdusy Syams?' Aku pun menjawab, 'Anak kucing yang kutemukan (saat menggembala kambing).' Mereka berkata, 'Kalau begitu, engkau adalah Abu Hurairah.' Semenjak itu, julukan dan gelar itu terus melekat padaku."

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memanggilku Abu Hirin dan orang-orang memanggilku Abu Hurairah," karenanya beliau berkata, "Kalian memanggil dan menjulukiku dengan julukan laki-laki (Abu Hirin), lebih aku sukai daripada julukan wanita (Abu Hurairah)."

Disebutkan di beberapa tempat dalam Shahih Bukhari, bahwa dalam berbagai kesempatan dan peristiwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memanggil Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dengan panggilan Abu Hirrin.

Ciri Fisik Abu Hurairah

'Abdurrahman ibn Abu Labibah rahimahullah memberikan sifat khusus bagi Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Beliau berkulit sawo matang, bahu dan pundaknya cukup lebar, rambutnya dikepang dan dibelah dua, dan gigi serinya renggang.

Dhamdhan ibn Jaus rahimahullah mensifatkannya sebagai seorang tua yang mengepang rambut kepalanya dan gigi serinya renggang.

Muhammad ibn Sirin rahimahullah memberikan ciri khusus, bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu adalah seorang yang berkulit putih, halus, lembut dan tidak kasar. Beliau mengecat jenggotnya dengan hanna' (pohon pacar) dan berpakaian dengan kain katun.

KeIslaman Abu Hurairah

Ketika sampai seruan dakwah tauhid dari Makkah kepada seorang yang mulia, penyair ulung dan dermawan, yaitu ath-Thufail ibn 'Amr ad-Dausi radhiyallahu 'anhu. Kemudian ath-Thufail masuk Islam dan mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di Makkah, lalu kembali kepada kaumnya di wilayah Daus, Yaman. Ia menyeru kepada kaumnya, sehingga ada yang masuk Islam. Di antara mereka ialah Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Ibn Hajar rahimahullah menyebutkan riwayat Hisyam ibn al-Kalbi tentang kisah ath-Thufail. Bahwa ia mendakwahi kaumnya untuk masuk Islam, lalu ayahnya masuk Islam, sedangkan ibunya tidak. Dan Abu Hurairah saja yang memenuhi panggilannya.

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu masuk Islam antara setelah perjanjian Hudaibiyyah dan sebelum perang Khaibar, kira-kira awal tahun ke-7 Hijriyah, ketika itu umur beliau telah mencapai 30 tahun.

Kemudian Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu datang ke Madinah. Dan sekembalinya dari Khaibar beliau pun tinggal di Shuffah (teras Masjid Nabawi) dan bermulazamah kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan penuh kesungguhan. Beliau terus mengikuti kemana Rasulullah pergi. Terkadang Abu Hurairah juga makan di rumah Rasulullah, hal itu berlanjut sampai wafatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Masa Persahabatan dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu
datang ke Khaibar pada bulan Shafar tahun ke-7 H, sedangkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam wafat pada bulan Rabi'ul Awwal tahun 11 Hijriyah. Sehingga lamanya bersahabat dengan Nabi sekitar 4 tahun lebih.

Masa-masa itulah yang ditegaskan oleh Humaid ibn 'Abdurrahman al-Himyari rahimahullah dengan pernyataannya, "Aku berteman dan berjumpa dengan orang-orang yang bersahabat dengan Nabi sebagaimana persahabatan Abu Hurairah dengan Nabi selama 4 tahun."

Namun Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu sendiri menjelaskan dalam Shahih Bukhari, bahwa beliau menemani Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam selama 3 tahun. Seolah-olah Abu Hurairah menghitung masa menjadi pengikut setia "mulazamah" hanya selama 3 tahun, yaitu setelah kedatangan mereka dari Khaibar, atau beliau tidak menghitung waktu-waktu safar (perjalanan) bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, baik untuk berperang, berhaji maupun umrah. Sebab, mulazamahnya ketika berada di Madinah sangatlah berbeda dengan mulazamah sewaktu bepergian. Atau masa-masa tersebut diartikan sebagai waktu ketika beliau berada di Shuffah (menjadi Ahli Shuffah) yang sangat bersemangat dan antusias. Sedangkan pada waktu lainnya, sikap antusiasme tersebut tidak sebagaimana disebutkan. Wallahu a'lam. Atau kurangnya hitungan masa tersebut dengan tidak memasukkan perhitungan saat bepergian ke Bahrain tahun ke-8 Hijriyah ditemani al-Alla' al-Hadrami, gubernur Nabi untuk wilayah Bahrain.

Selama bermulazamah (setia menemani) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu banyak mendapatkan ilmu dari beliau. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah seorang sahabat, pembimbing (mursyid) dan juga guru baginya. Tak jarang Rasulullah sering menyampaikan nasehat-nasehatnya kepada Abu Hurairah.

Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, "Wahai, Abu Hurairah. Jadilah engkau sebagai seorang yang wara, niscaya engkau menjadi orang yang paling mengabdi kepada Allah. Jadilah engkau seorang yang qana'ah (merasa cukup dengan yang dimiliki), niscaya engkau menjadi orang yang paling bersyukur. Cintailah untuk manusia apa yang engkau sukai untuk dirimu, niscaya engkau menjadi Mu'min. Berbuat baiklah kepada tetangga yang bersebelahan denganmu, niscaya engkau menjadi seorang Muslim. Dan sedikitlah tertawa, sebab banyak tertawa itu mematikan hati."

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu memahami pesan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut dan melaksanakannya dengan baik, sehingga menjadikan beliau sebagai seorang yang wara' dan 'abid.

Beliau juga terkenal sebagai seorang yang memiliki semangat tinggi dalam memahamkan hadits, serta seorang yang selalu berbuat baik kepada tetangganya. Dalam hal ini 'Ammar ibn Yasir mengakui keutamaannya ini. Demikian pula 'Abdulah ibn Syaqiq yang menjadi muridnya setelah itu. Beliau seorang yang jauh dari senda gurau. Bahkan beliau sering menangis, seperti saat disebutkan nama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, ketika wafatnya al-Hasan radhiyallahu 'anhu dan setelah meninggalnya 'Utsman ibn Affan radhiyallahu 'anhu.

Pernikahan Abu Hurairah

Selama Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bermulazamah bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau tidak disibukkan dengan wanita. Namun, setelah Rasulullah wafat, beliau menikahi Bisrah binti Ghazwan al-Maziniyah, salah seorang Sahabiyah. Bisrah adalah saudara 'Utbah ibn Ghazwan al-Mazini radhiyallahu 'anhu, seorang Sahabat terkenal dan Gubernur Bashrah.

Putra-Putri Abu Hurairah

Para pakar sejarah menyebutkan, bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu memiliki 4 orang anak laki-laki dan seorang perempuan. Beliau selalu mengajak dan membiasakan istri serta anak-anaknya untuk zuhud, hidup sederhana dan beramal shalih.

Beliau mendidik putra-putranya dan menjadikannya sebagai seorang perawi handal. al-Muharrir ibn Abu Hurairah, putranya yang tertua dan paling terkenal adalah perawi hadits yang kaum Muslimin membutuhkan dan meriwayatkan hadits-hadits darinya yang belum didapatkan dari ayahnya. Imam al-Hatim dan Ibn Abi Hatim telah menulis sejarah singkat al-Muharrir, begitu juga Ibn Hajar dan Ibn Sa'ad.

Ibn Sa'ad rahimahullah bercerita: "al-Muharrir ibn Abu Hurairah meninggal di Madinah pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn 'Abdul Aziz rahimahullah. Dia meriwayatkan hadits dari ayahnya, namun termasuk orang yang sedikit meriwayatkan hadits."

Begitu juga dengan anaknya yang lain, Muharriz ibn Abu Hurairah. Imam al-Bukhari dan Abu al-Faraj menyebutkan dalam kitabnya. Muharriz termasuk yang meriwayatkan hadits dari ayahnya. Sedangkan anak ketiganya adalah 'Abdurrahman ibn Abu Hurairah. Imam al-Bukhari, Ibn Abu Hatim dan Ibn Hibban mencantumkan biografinya dalam kitab mereka. Anak keempat bernama Bilal ibn Abu Hurairah. Ibn Abu Hatim dan yang selainnya menyebutkan hal ini. Bilal mempunyai anak yang bernama Muharrir ibn Bilal.

Adapun putri Abu Hurairah namanya tidak dikenal. Akan tetapi, Ibn Sa'ad menceritakan bahwa Sa'id ibn al-Musayyab telah menikahinya.

Di samping terhadap putra-putranya, Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu membiasakan pula putrinya hidup zuhud dan sederhana. Beliau pernah menasihati putrinya: "Wahai, anakku. Janganlah engkau mengenakan perhiasan emas. Sebab, ayahmu ini khawatir api yang menyala-nyala akan menimpamu wahai, anakku. Dan janganlah engkau mengenakan sutera. Sebab, ayahmu ini mengkhawatirkanmu terbakar api neraka."

Pengajar al-Qur'an

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menerima pengajaran al-Qur'an secara langsung dari Ubay ibn Ka'ab radhiyallahu 'anhu. Sedangkan Ubay ibn Ka'ab merupakan salah satu dari empat Sahabat yang diakui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memiliki hafalan al-Qur'an yang bagus.

Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda, "Mintalah diajarkan al-Qur'an dari empat orang, yaitu 'Abdullah ibn Mas'ud, Salim maula (bekas budak) dari Abu Hudzaifah, Ubay ibn Ka'ab dan Mu'adz ibn Jabal."

Kemudian Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menjadi seorang pengajar al-Qur'an. Dan yang telah belajar darinya, yaitu Abu Ja'far Yazid ibn al-Qa'qa al-Makhzumi al-Madani, salah seorang dari 10 ahli qira'ah yang terkenal. Begitu juga 'Abdurrahman ibn Hurmuz al-A'raj. Sedangkan Nafi' ibn 'Abdurrahman ibn Abu Nu'aim al-Madani, salah seorang imam ahli qira'ah tujuh yang terkenal belajar dan mengambil al-Qur'an dari al-A'raj. Dengan demikian, bahwa bacaan al-Qur'an yang banyak dikenal di kalangan Muslimin, sumbernya berasal dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Tersirat pula dalam pernyataan Ibn al-Jauzi rahimahullah, bahwa tidak ada seorangpun yang mengalahkan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dalam masalah tersebut. Ibn al-Jauzi berkata, "Berakhir pada Abu Hurairah bacaan al-Qur'an yang dilakukan Abu Ja'far dan Nafi."

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu mengajarkan al-Qur'an tidak hanya kepada dua orang saja, namun lebih dari itu. Sebagaimana perkataan Maina' bekas budak 'Abdurrahman ibn 'Auf, "Aku menerima pengajaran surat al-Baqarah dan surat Ali Imran dari lisan Abu Hurairah."

Perawi Hadits

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu walaupun hanya sebentar hidup bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, tetapi tidak menghalanginya untuk mendapatkan keistimewaan menjadi Sahabat terbanyak yang meriwayatkan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu sendiri pernah menjelaskan mengapa beliau bisa meraih keistimewaan tersebut. Hal ini beliau sampaikan ketika ada sebagian manusia yang meragukan hadits-hadits beliau.

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, "Sesungguhnya kalian berkata sungguh banyak Abu Hurairah meriwayatkan hadits dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Kalian juga berkata wallahul mau'id-, mengapa para Sahabat Muhajirin tidak meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hadits-hadits ini, mengapa para Sahabat Anshar tidak meriwayatkan hadits-hadits ini. (ketahuilah), sesungguhnya para Sahabatku dari kalangan Muhajirin agak tersibukkan dengan perdagangan mereka di pasar. Dan para Sahabatku dari kalangan Anshar agak disibukkan dengan pertanian mereka dan penjagaannya. Adapun aku adalah seorang yang selalu i'tikaf (tinggal di masjid) dan selalu bermajlis dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Aku hadir ketika mereka berhalangan dan aku ingat ketika mereka lupa. Dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam suatu hari pernah berkata, 'Siapa yang mau membentangkan selendangnya sampai aku selesai menyampaikan haditsku kemudian dia dekap selendangnya pasti dia tidak akan pernah lupa setiap apa yang aku sampaikan selamanya.' Maka akupun membentangkan selendangku kemudian aku mendekapnya. Demi Allah! Sejak itu aku tidak pernah lupa semua yang aku dengar dari beliau. Demi Allah! Seandainya bukan disebabkan satu ayat di dalam al-Qur'an, tentu aku tidak akan menyampaikan hadits kepada kalian." Kemudian Abu Hurairah membaca ayat, 'Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk'. Beliau membaca ayat selengkapnya.

Seseorang pernah mengadu kepada Thalhah ibn 'Ubaidillah radhiyallahu 'anhu, "Wahai Abu Muhammad, tidakkah engkau melihat orang Yaman ini (maksudnya adalah Abu Hurairah), apakah dia lebih berilmu tentang hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dari kalian? Kami mendengar darinya hadits-hadits yang tidak pernah kami dengar dari kalian. Ataukah dia menyampaikan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sesuatu yang tidak pernah ia dengar (berdusta)?" Thalhah menjawab, "Adapun kalau dia mendengar hadits yang tidak pernah kami dengar, aku tidak meragukannya. Aku akan beritahu sebabnya, sesungguhnya kami adalah para penghuni rumah, penggembala kambing, dan para pekerja. Kami mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di waktu sore. (Adapun Abu Hurairah) adalah seorang yang miskin, sering dijamu oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tangannya bersama tangan beliau. (Atas dasar ini) kami tidak meragukan kalau ia mendengar apa yang tidak kami dengar." Dalam redaksi lain, "(Sebenarnya) kami juga mendengar seperti yang ia dengar hanya saja dia ingat dan kami lupa."

Asy'ats ibn Sulaim rahimahullah meriwayatkan dari bapaknya, katanya: Aku mendengar Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu 'anhu meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah. Maka ada yang bertanya, "Engkau adalah Sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, mengapa meriwayatkan
dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu?" Ia menjawab, "Sesungguhnya Abu
Hurairah mendengar apa yang tidak kami dengar. Aku meriwayatkan darinya lebih aku sukai daripada aku harus meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (hadits yang tidak pernah aku dengar)."

Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata, "Abu Hurairah sangat kokoh hafalannya, kami tidak mengetahui beliau pernah salah dalam satu hadits pun."

Sa'id ibn Abi al-Hasan rahimahullah memaparkan, "Tidak ada seorangpun dari para Sahabat yang paling banyak haditsnya dari Abu Hurairah."

Abu Shalih Dzakwan rahimahullah berkata, "Abu Hurairah adalah Sahabat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang paling hafal." Dalam riwayat Abu Bakar ibn 'Ayyas, Abu Shalih berkata, "Bukan yang paling afdhal tapi yang paling hafal."

Imam asy-Syafi'i rahimahullah berkata, "Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu adalah orang yang paling hafal dalam meriwayatkan hadits pada zamannya (masa Sahabat)."

Abu Muhammad ibn Hazm rahimahullah mengatakan bahwa, dalam Musnad Baqiy ibn Makhlad terdapat lebih dari 5300 hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Selain meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu juga meriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar ibn al-Khaththab, al-Fadhl ibn al-Abbas, Ubay ibn Ka'ab, Usamah ibn Zaid, 'Aisyah Ummul Mu'minin, Bushrah al-Ghifari, dan Ka'ab al-Ahbar radhiyallahu 'anhuma.

Ada sekitar 800 ahli ilmu dari kalangan Sahabat maupun Tabi'in yang meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Di antara Sahabat yang meriwayatkan adalah 'Abdullah ibn Abbas, 'Abdullah ibn Umar, Jabir ibn 'Abdullah, dan Anas ibn Malik, sedangkan dari kalangan Tabi'in antara lain Sa'id ibn al-Musayyab, Ibn Sirin, Ikrimah, Atha', Mujahid dan asy-Sya'bi.

Sanad paling Shahih yang berpangkal daripadanya adalah Ibn Shihab az-Zuhr, dari Sa'id ibn al-Musayyab, darinya (Abu Hurairah).

Adapun yang paling Dhaif adalah as-Sari ibn Sulaiman, dari Dawud ibn Yazid al-Audi dari bapaknya (Yazid al-Audi) dari Abu Hurairah.

Keutamaan Abu Hurairah

Sangat Berbakti Pada Ibunya

Betapa besarnya bakti Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu kepada ibunya ketika beliau berharap keIslaman ibunya dan menjadi penyebab ibunya masuk Islam.

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata, "Aku mendakwahi ibuku agar memeluk agama Islam, sedangkan ia masih musyrik. Pada suatu hari, aku mendakwahinya. Lalu ia menyatakan sesuatu kepadaku tentang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang membuatku benci (mendengarnya). Akhirnya aku mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam keadaan menangis di hadapan Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam. Aku berkata, "Wahai, Rasulullah. Sungguh aku telah mendakwahi ibuku agar masuk Islam, namun ia enggan mengikuti ajakanku. Hingga akhirnya, pada suatu hari aku mendakwahinya, namun ia (justru) menyatakan sesuatu kepadaku tentang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, yang aku benci (mendengarnya). Karenanya mintalah kepada Allah agar menunjuki ibu Abu Hurairah." Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Ya, Allah. Berilah petunjuk kepada ibu Abu Hurairah." Aku pun meninggalkan rumah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan penuh kegirangan atas do'a Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bagi ibuku. Ketika sampai di rumah, aku langsung berdiri di depan pintu, ternyata pintu terkunci. Lalu ibuku mendengar suara hentakan kakiku, lalu (ia) berkata, "Tetaplah di situ (tunggulah), wahai Abu Hurairah." Aku pun mendengar suara gemericik air, ternyata ia mandi, kemudian mengenakan baju dan bersegera mamakai jilbabnya dan membukakan pintu untukku, seraya berkata, "Wahai, Abu Hurairah. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar, kecuali Allah. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya." Abu Hurairah berkata, "Aku pun kembali menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan menangis karena bahagia." Aku berkata, "Wahai, Rasulullah. Berbahagialah, sungguh Allah telah memenuhi dan mengabulkan do'a anda, dan ibuku telah mendapatkan petunjuk." Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam memuji Allah dan mengagungkan-Nya, dan Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Baiklah."

Kecintaan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu kepada ibunya juga dikisahkan oleh 'Abdullah ibn Wahb dalam kitab Jami'inya dari jalan 'Abdullah ibn Lahi'ah dari Khalid ibn Yazid dari Sa'id ibn Abu Hilal, ia berkata: Setiap hari Abu Hurairah menemui ibunya dan berkata, "Terima kasih untukmu, wahai ibuku. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, sebagaimana engkau telah mendidikku di waktu kecil." Maka ibunya berdo'a, "Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, sebagaimana engkau telah berbuat baik kepadaku ketika usiaku telah senja." Kisah ini juga dibawakan Imam Bukhari.

Ahli Ibadah

Dari Abu 'Utsman an-Nahdi rahimahullah, ia berkata, "Aku pernah bertamu kepada Abu Hurairah selama tujuh hari. Dan menjadi kebiasaan Abu Hurairah, istri dan pembantunya untuk saling bergantian menjadikan malam tiga bagian. Seorang dari mereka shalat kemudian membangunkan yang lainnya."

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu sendiri menjelaskan kegiatan pada setiap malamnya, "Aku membagi malam menjadi tiga bagian. Sepertiganya kugunakan untuk tidur, sepertiganya untuk shalat, dan sepertiga lainnya aku pergunakan untuk mengulang-ulang hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam."

Amar Ma'ruf Nahi Mungkar

Sudah menjadi kebiasaan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu pergi menuju masjid-masjid kaum Anshar yang tersebar di penjuru kota Madinah untuk mengajarkan dan memperdengarkan kepada mereka hadits-hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Seperti kepergiannya ke masjid Bani Zuraiq dan mengajar di sana. Ini dibuktikan dengan banyaknya orang-orang dari Bani Zuraiq yang meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah.

Imam al-Hakim rahimahullah meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa seseorang dari Bani Amir telah melewati Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, lalu ada yang mengatakan: "Orang ini adalah yang paling banyak hartanya", maka Abu Hurairah memanggilnya, seraya menanyakan hal tersebut. Ia menjawab, "Benar, aku memiliki 100 ekor unta merah dan 100 ekor onta berwarna kecoklatan dan sekian banyak ekor kambing." Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, "Hati-hatilah kamu dari kaki-kaki onta dan kaki-kaki kambing tersebut. Sebab aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: ....." kemudian Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu memaparkan hadits yang panjang tersebut berisi diinjak-injaknya (pemilik harta onta dan kambing) dengan kaki onta dan kambing tersebut jika mendzaliminya. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim tanpa kisah laki-laki dari Bani Amir (al-Amiri) tersebut.

Imam al-Haitsami rahimahullah mengutip satu kisah, bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu melewati pasar Madinah, lalu beliau berhenti di tempat itu, beliau berkata, "Wahai, penghuni pasar. Alangkah tidak mampunya kalian." Mereka menimpali, "Apa itu, wahai Abu Hurairah?" Beliau menjawab, "Itu, peninggalan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sedang dibagi-bagi, sedangkan kalian ada di sini? Tidakkah kalian mendatanginya, lalu mengambil bagian kalian?" Mereka bertanya, "Dimanakah dia?" Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menjawab, "Di masjid." Maka mereka pun bergegas keluar menuju masjid, sedang Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu tetap berdiri menunggu mereka kembali. Beliau bertanya kepada mereka, "Apa yang kalian dapati?" Mereka menjawab, "Wahai, Abu Hurairah. Kami telah mendatangi masjid dan memasukinya, namun tidak melihat sesuatu sedang dibagi di sana." Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, "Tidakkah kalian melihat seseorang di masjid?" Mereka menjawab, "Benar, kami melihat sekelompok orang sedang shalat, sekelompok membaca al-Qur'an dan sekelompok lainnya sedang mempelajari perihal halal dan haram." Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, "Celakalah kalian. Itulah peninggalan Rasulullah."

Seorang yang 'Alim

Dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Abu Hurairah adalah bejana (gudang) ilmu."

Seseorang datang kepada Ibn Abbas radhiyallahu 'anhu untuk menanyakan suatu permasalahan. Maka Ibn Abbas mengarahkannya kepada Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, katanya, "Wahai Abu Hurairah, berilah ia fatwa."

Imam adz-Dzahabi rahimahullah ketika memaparkan biografi Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menjelaskan, "Panutan, faqih, mujtahid, hafizh, Sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa Sallam, Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu ad-Dausi al-Yamani, pemimpin para Huffazh (penghafal hadits) yang kokoh."

Tawadhu' dengan Ilmu yang dimilikinya

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu termasuk orang yang paling banyak hafalannya dari kalangan Sahabat, namun hal itu tidak membuatnya bangga diri. Ibn Abu Syaibah rahimahullah telah meriwayatkan dalam al-Mushannaf tentang pernyataan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu kepada Ibn Abbas radhiyallahu 'anhu yang merupakan Sahabat muda (ashgharush shahabat): "Anda lebih baik dariku dan lebih paham tentang Islam daripada aku."

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu juga tawadhu' di hadapan Tabi'in besar 'Amr ibn Aus ats-Tsaqafi rahimahullah (wafat tahun 75 H). Abu Hurairah berkata kepada sekelompok orang yang telah bertanya kepadanya, padahal di antara mereka terdapat 'Abdurrahman ibn Nafi ibn Labibah rahimahullah: "Kalian bertanya kepadaku, padahal di tengah-tengah kalian ada 'Amr ibn Aus."

Hati-Hati dalam Berfatwa

Ibn Hazm rahimahullah menyebutkan ada 13 orang Sahabat yang fatwa-fatwa mereka diriwayatkan. Dia menempatkan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu di urutan ke-4. Sedangkan yang lainnya adalah Ummu Salamah, Anas, al-Khudri, 'Utsman, 'Abdullah ibn 'Amr, Ibn az-Zubair, Abu Musa, Sa'ad, Salman, Jabir, Mu'adz dan Abu Bakar. Kemudian ia berkata, "Mereka hanya 13 orang saja, yang memungkinkan fatwa-fatwa dari mereka dikumpulkan dalam juz yang kecil." Kemudian ia menambahkan tujuh orang lainnya.

Sekalipun demikian, Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu sangat takut dan malu mengeluarkan fatwa. Karena termasuk sifat dan tabiat kaum Mu'minin adalah tatsabut (bersikap hati-hati) dalam berfatwa. Sehingga banyak para Salaf yang enggan berfatwa dan tidak mau menjawab jika ada orang lain yang lebih layak untuk menjawabnya.

Imam ad-Darimi rahimahullah meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa berfatwa sebelum yakin akan kebenarannya, maka dosanya bagi yang berfatwa."

Rasa takut dan kekhawatiran Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dalam berfatwa, telah membuatnya selalu bertanya jika tidak mantap dalam berfatwa. Ini berbeda dengan orang-orang yang mencelanya.

Imam al-Bukhari rahimahullah telah meriwayatkan satu kisah dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata ketika ditanya penduduk Bahrain tentang hukum memakan daging ikan yang telah mati terapung di laut. Beliau menjawab: "Tidak
mengapa." Lalu beliaupun bertanya kepada Umar, dan Umar menjawab dengan jawaban yang sama.

Dermawan dan Suka Menyantuni Anak Yatim

Dari ath-Thahawi rahimahullah, ia berkata, "Aku singgah menjadi tamu di rumah Abu Hurairah di Madinah. Aku belum pernah melihat seorangpun dari Sahabat-sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang lebih bersegera menyambut dan menghormati tamunya darinya."

Ibn Sa'ad rahimahullah meriwayatkan dari jalan al-Waqidi, bahwa Abu Hurairah menetap di Dzulhulaifah dan memiliki rumah di kota Madinah yang dishadaqahkan kepada para mantan budaknya.

Demikian juga Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu seorang penyantun anak yatim yang bernama Mu'awiyah ibn Mut'ib al-Hudzali. Beliau memelihara
dan mengajarkan semua yang diketahuinya, sampai akhirnya menjadi salah satu Tabi'in terkenal. Mu'awiyah ini memiliki banyak riwayat hadits dari Abu Hurairah dalam Musnad Imam Ahmad dan yang lainnya.

Orang-Orang yang Dimerdekakan Abu Hurairah

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu memiliki budak yang dimerdekakan ketika beliau sampai di Khaibar pada awal hijrahnya. Dalam kisah ini terdapat dalil yang menunjukkan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bukanlah seorang faqir ketika hijrahnya. Namun, beliau menjadi faqir pada masa-masa Rasululllah shallallahu 'alaihi wa sallam, karena memilih bermulazamah (tetap setia bersama) di Shuffah daripada bekerja dan sibuk berdagang di pasar.

Kemudian, setelah itu beliau memiliki mawali (budak-budak yang telah beliau merdekakan). Ada sejumlah mawalinya yang terkenal, di antaranya ialah: Abu Maryam, Abu Yunus Sulaim atau Sulaiman ibn Jabir atau Jubair, Ibrahim ibn Muhammad, 'Abdurrahman ibn Mihran dan Tsabit ibn Musykil.

Peperangan yang Diikuti Abu Hurairah

Selama hidupnya, Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu pernah mengikuti beberapa peperangan baik sewaktu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam masih hidup maupun setelahnya, di antaranya yaitu:


- Perang Khaibar dan perang di Wadi al-Qura'.
- Perang Dzatur Riqa', sebagaimana disampaikan Imam al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata, "Aku shalat bersama Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam pada peperangan yang kami mendapati shalat khauf (shalat karena takut)." Juga dikuatkan oleh kisah yang diriwayatakan Abu Dawud dari Urwah ibn Zubair yang menceritakan dari Marwan ibn al-Hakam, bahwa ia bertanya kepada Abu Hurairah: "Pernahkah anda shalat bersama Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam shalat khauf?" Abu Hurairah menjawab, "Pernah." Marwan bertanya, "Kapan?" Abu Hurairah menjawab, "Tahun terjadinya perang Dzaturiqa."
- al-Fath al-Akbar (penaklukan Makkah), Hunain dan Thaif. Dipaparkan Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Maukah aku ajarkan pada kalian satu hadits tentang kalian, wahai seluruh kaum Anshar? (Lalu ia menyebut penaklukan kota Makkah), seraya berkata, "Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam berangkat ke Makkah. Setelah sampai di sana, lalu Beliau mengangkat az-Zubair (sebagai pemimpin pasukan) di salah satu sayap pasukan. Dan di sayap lainnya mengangkat Khalid. Beliau juga mengutus Abu Ubaidah (memimpin) pasukan infantri yang tidak berpakaian baju besi. Mereka pun mengambil tempat dan posisi di tengah-tengah lembah. Sementara itu, Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam berada dalam kelompok kecil tersendiri. Beliau memandang sekeliling dan melihatku, Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya, "Abu Hurairahkah anda?" Aku pun menjawab, "Kupenuhi panggilan engkau, wahai Rasulullah." Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidak boleh menemuiku, kecuali dari kalangan Anshar -selain Syaiban, menambahkan- (tambahan dari salah seorang perawi hadits ini). "Panggilkan kaum Anshar." Dia radhiyallahu 'anhu berkata, "Mereka pun mengelilingi Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam. Sedangkan orang Quraisy dengan seluruh kabilah dan pengikutnya berkumpul sambil berkata, "Kita dahulukan mereka. Jika mereka mendapatkan sesuatu (kemenangan), kita pun akan (merasakan) bersama mereka. Dan jika mereka mendapatkan musibah, kita akan berikan yang diminta dari kita." Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam pun
bersabda, "Tidakkah kalian menyaksikan kumpulan kabilah Quraisy dan pengikut-pengikut mereka?" Lalu Beliau meletakkan salah satu telapak tangannya di atas yang lainnya dan berkata, "Temuilah aku di Shafa." Abu Hurairah berkata, "Kami pun bergegas berangkat. Maka tidak ada seorang pun dari kami yang ingin membunuh seseorang, kecuali membunuhnya. Dan tidak seorang pun dari mereka menghadang kami, sedikitpun."
- Perang Tabuk, sebagaimana diriwayatkan Imam ath-Thahawi dengan sanad yang shahih sampai kepada beliau radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Kami keluar bersama Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam pada perang Tabuk."
- Perang Mu'tah.
- Perang Riddah, sebagaimana telah diriwayatkan Imam al-Bukhari dalam kisah penumpasan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu terhadap gerakan pemurtadan setelah wafatnya Rasulujah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Ketika Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam telah wafat dan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu diangkat sebagai pengganti Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam, serta kufurlah orang-orang yang kufur dari bangsa Arab. Umar bertanya kepada Abu Bakar, "Wahai, Abu Bakar. Bagaimana anda akan memerangi mereka? Padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda: Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi 'Tidak ada sesembahan yang benar selain Allah'. Karenanya, barangsiapa telah mengucapkannya, ia telah terjaga dariku harta dan jiwanya, kecuali dengan cara yang haq. Dan hisab berikutnya berada pada Allah'." Abu Bakar radhiyallahu 'anhu menjawab, "Demi Allah. Aku akan memerangi orang-orang yang memisahkan antara shalat dan zakat, sebab zakat adalah haknya harta. Demi Allah. Jika mereka menghalangiku meskipun cuma sedikit -dalam riwayat lain (ikat kepala)- padahal sebelumnya (pada zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam) mereka menunaikannya, niscaya aku perangi mereka karena keengganannya (itu)." Umar pun menimpalinya, "Demi Allah. Tidaklah aku melihat, melainkan Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk memerangi mereka. Aku pun mengetahui dia (berada) pada kebenaran.

Imam Muslim, Abu Dawud dan an-Nasa'i juga memaparkan kisah ini. Tetapi lafadznya tidak menunjukkan keikutsertaan Abu Hurairah dalam peperangan itu, kecuali dalam riwayat an-Nasa'i dengan sanad yang tidak kuat. Namun dalam riwayat Imam Ahmad dengan sanad yang telah dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir, terdapat pernyataan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu setelah pemaparannya mengenai kisah tersebut: "Kami berperang bersama Abu Bakar, lalu kami memandangnya sebagai keputusan yang sangat tepat."
- Perang Yarmuk, peperangan di Armenia dan daerah Jurjan, sebagaimana dipaparkan Ibn Asakir tentang kisah perang Yarmuk. Demikian juga Ibn Hajar menyebutkannya dalam al-Ishabah menukil dari Ibn Asakir juga. Sedangkan Ibn Khaldun memberikan catatan, bahwa pada masa kekhalifahan 'Utsman, Abu Hurairah tinggal bersama Gubernur Armenia 'Abdurrahman ibn Rabi'ah. Ketika 'Abdurrahman terbunuh dalam peperangan melawan Turki, sebagian tentaranya menuju Jailan dan Jurjan. Di dalam barisan tentara tersebut terdapat Salman al-Farisi dan Abu Hurairah.

Wafatnya Abu Hurairah

Ketika berada di atas tempat tidur menghadapi kematian, Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menangis. Maka ditanyakan kepadanya: "Apa yang membuatmu menangis, wahai Abu Hurairah?" Beliau menjawab, "Aku sesungguhnya tidak menangisi dunia kalian ini. Namun aku menangis karena jauhnya perjalanan, sedangkan perbekalanku sedikit. Aku sekarang berada dalam tangga yang curam, antara surga dan neraka. Aku tidak tahu berjalan ke arah mana dari keduanya," kemudian beliau berwasiat, "Jika aku meninggal, janganlah kalian meratapiku; sebab Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah meratapi kematian."

Lalu Marwan masuk menjenguknya sebelum saat-saat kematian dan berkata, "Mudah-mudahan Allah memberimu kesembuhan, wahai Abu Hurairah," akan tetapi Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menghadap ke arah lain dan tidak menjawab apa yang dikatakan oleh Marwan. Beliau menoleh untuk bermunajat kepada Allah dengan penuh keyakinan. Beliau telah mengisi kehidupannya dengan berbagai macam amal kebaikan, yang menanti rahmat Allah, seraya berdo'a: "Ya, Allah. Sesungguhnya aku sangat gembira bertemu dengan-Mu, maka bersenanglah untuk bertemu denganku."

al-Muqbiri rahimahullah berkata, "Belum sampai sahabat Marwan melangkahkan kakinya, Abu Hurairah pun telah meninggal dunia," namun kenangan baik tentangnya akan tetap tersimpan di hati kaum Mu'minin hingga hari kiamat.

Terjadi perbedaan pendapat tentang tahun wafatnya Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Ada yang menyatakan beliau wafat tahun 57 H dan ada yang menyatakan bahwa wafatnya pada tahun 58 H, serta ada pula yang menyatakan wafatnya tahun 59 H.

Beliau meninggal di al-Aqiq, lembah yang berdampingan dengan Madinah dan dikuburkan di Baqi' di Madinah. al-Walid ibn 'Utbah ibn Abi Sufyan menjadi imam dalam shalat jenazahnya. Saat itu ia menjabat sebagai gubernur Madinah pada masa pemerintahan Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu.

Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu dan Marwan ibn al-Hakam berjalan di depan jenazah. Begitu juga Ibn Umar ikut serta mengiringi jenazah Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berjalan di depan jenazah dengan memperbanyak mengucapkan "Rahimahullah" atas Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, seraya berkata: "Dia termasuk penjaga hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk kaum Muslimin."

Kemudian al-Walid ibn 'Utbah menulis surat kepada Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu, mengabarkan kematian Abu
Hurairah radhiyallahu 'anhu. Mu'awiyah pun membalasnya seraya berpesan: "Lihatlah, siapa saja yang ditinggalkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dan serahkan kepada ahli warisnya 10.000 dirham serta perlakukanlah mereka dengan baik, dan berbuat baiklah kepada mereka; sebab, ia termasuk orang yang membela Khalifah 'Utsman dan berada di rumah 'Utsman."

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala meridhai Abu Hurairah dan menempatkan beliau pada kedudukan yang tinggi di sisi Rabb-Nya. Amiin.

* Lihat biografi lengkap Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu di kitab al-Ishabah fi Ma'rifati ash-Shahabah karya al-Hafizh Ibn Hajar, Tadzkiratul Huffazh karya Imam adz-Dzahabi, dan Siyar karya Imam adz-Dzahabi.



FeedCount

Cari artikel di blog ini

Loading

Ikuti via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Followers

Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template