31.12.11

Ahlul Bait : Fathimah, Putri Kesayangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

Kelahiran dan Masa Kanak-kanak

Kelahiran Fathimah radhiyallahu 'anha merupakan rahmat yang dilimpahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Fathimah lahir di kota Makkah pada tahun 35 sesudah kelahiran Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, atau 5 tahun sebelum Bi'tsah atau sebelum Nubuwwah atau sebelum Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam diutus. Tepatnya pada hari Jum'at, 20 Jumadil Akhir, bersamaan dengan selesainya Binaul Ka'bah (pembangunan kembali Ka'bah). Pada tahun itu kaum Quraisy membangun kembali Ka'bah yang rusak akibat banjir yang melanda kota Makkah. Beliau adalah putri keempat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dari Ummul Mu'minin Khadijah radhiyallahu 'anha, yang lainnya adalah Zainab, Ruqayah, dan Ummu Kaltsum radhiyallahu 'anhum.

Fathimah radhiyallahu 'anha tumbuh dan berkembang di bawah naungan wahyu Ilahi di saat kaum Mu'min berjuang melawan kaum kufar Quraisy. Dalam keadaan masih kanak-kanak beliau sudah harus mengalami pahit getirnya perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan, merasakan penderitaan kehausan dan kelaparan. Lebih dari 3 tahun beliau bersama kedua orangtuanya hidup menderita di dalam Syi'ib akibat pemboikotan orang-orang kufar Quraisy terhadap keluarga Bani Hasyim. Setelah bebas dari penderitaan selama di Syi'ib, kesedihan kembali menghampiri diri Fathimah radhiyallahu 'anha, ibunda tercinta, Khadijah radhiyallahu 'anha dipanggil menghadap Ilahi.

Putri Kesayangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sangat mencintai putrinya ini. Fathimah radhiyallahu 'anha adalah putri bungsu yang paling disayang dan dikasihi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Demikian besar rasa cinta Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada putri bungsunya itu. Beliau merasa tak ada seorang pun di dunia yang paling berkenan di hati beliau dan paling dekat di sisinya selain Fathimah radhiyallahu 'anhu.

Dari Ibn Abbas radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada 'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu: "Wahai 'Ali! Sesungguhnya Fathimah adalah bagian dari aku. Dia adalah cahaya mataku dan buah hatiku. Barangsiapa menyusahkan dia, ia menyusahkan aku dan barangsiapa yang menyenangkan dia, ia menyenangkan aku."

Pernyataan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam itu merupakan penegasan bagi ummatnya bahwa putri beliau itu merupakan lambang keagungan abadi yang ditinggalkan di tengah ummatnya.

Pernikahan Fathimah

Fathimah radhiyallahu 'anha mencapai puncak keremajaannya dan kecantikannya pada saat risalah yang dibawakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sudah berkembang pesat di Madinah dan sekitarnya. Keelokan parasnya banyak menarik perhatian. Tidak sedikit pria terhormat yang menggantungkan harapan ingin mempersunting putri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam itu. Beberapa orang terkemuka dari kaum Muhajirin dan Anshar telah berusaha melamarnya. Menanggapi lamaran itu, Rasulullah mengemukakan bahwa beliau sedang menantikan datangnya petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta'ala mengenai putrinya itu.

Datanglah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu yang meminta Fathimah untuk dijadikan istrinya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Wahai Abu Bakar, tunggulah sampai ada keputusan." Hal itu kemudian diceritakan Abu Bakar pada Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu 'anhu. Umar berkata, "Wahai Abu Bakar, beliau menolak permintaanmu." Lalu Abu Bakar berkata pada Umar, "Lamarlah Fathimah kepada Nabi."

Umar ibn al-Khaththab pun melamarnya. Ternyata beliau shallallahu 'alaihi wa sallam melontarkan perkataan seperti yang dikemukakan kepada Abu Bakar ash-Shiddiq. Umar menemui Abu Bakar seraya menceritakan hasilnya. Abu Bakar berkata, "Wahai Umar, beliau menolakmu."

Keluarga 'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berkata kepada 'Ali, "Lamarlah Fathimah kepada Rasulullah." 'Ali menjawab, "Setelah Abu Bakar dan Umar ditolak?" Akan tetapi, kerabatnya dari pihak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terus mendorongnya.

'Ali ibn Abi Thalib kemudian menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan memberi salam. Beliau bertanya, "Wahai Ibn Abi Thalib, ada perlu apa?" Dia menjawab, "Aku terkenang pada Fathimah binti Rasulullah." Beliau bersabda, "Marhaban wa ahlan." Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam hanya menjawab demikian.

'Ali ibn Abi Thalib menemui sejumlah keluarganya dan orang Anshar yang sejak tadi menunggunya. Mereka bertanya, "Bagaimana hasilnya?" 'Ali menjawab, "Aku tidak tahu, beliau hanya mengucapkan 'Marhaban wa ahlan'." Mereka berkata, "Cukuplah sebagai tanda diterimanya lamaranmu salah satu perkataan Rasulullah, beliau memberimu istri dan memberimu ucapan selamat." (at-Thabwat [7/21]).

Diterimalah lamaran 'Ali ibn Abi Thalib pada Fathimah binti Rasulullah. Tidak lama kemudian, diserahkanlah maharnya kepada Fathimah berupa baju besi yang sudah usang. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberikannya kepada Fathimah mewakili 'Ali ibn Abi Thalib. Beliau kemudian menjual unta dengan harga 480 dirham. Beliau bersabda, "Belikanlah dua pertiga uang itu untuk makanan yang baik, dan sepertiganya untuk pakaian."

Diriwayatkan dari Anas ibn Malik radhiyallahu 'anhu bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Anas, "Pergilah dan sampaikanlah undanganku kepada Abu Bakar, Umar, 'Utsman, Thalhah, Zubair, dan beberapa orang Anshar." Aku berangkat untuk mengundang meraka. Setelah para undangan duduk di tempatnya masing-masing, beliau bersabda, "Segala puji kepunyaan Allah yang terpuji karena nikmat-Nya, Yang disembah karena kekuasaan-Nya, Yang ditaati karena kekuasaan-Nya, Yang ditakuti siksa-Nya, dan Yang menerapkan urusan-Nya di langit dan bumi. Dia telah menciptakan makhluk dengan kekuasaan-Nya, menerangi meraka dengan hukum-hukum-Nya, memuliakan meraka dengan agama-Nya, dan memuliakan mereka dengan Nabi-Nya, yaitu Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Sesungguhnya Allah telah menjadikan hubungan karena perkawinan sebagai tali keturunan tambahan, perintah yang difardhukan, hukum yang adil, dan kebaikan yang menyeluruh. Dengan hubungan itu, kekerabatan diikat dan manusia diteguhkan. Allah Ta'ala berfirman, "Dan Dia pula yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia menjadikan manusia itu (mempunyai) keturunan dan Mushaharah, dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa." (QS. al-Furqan: 54).

Perintah Allah bermuara pada qadha-Nya, qadha-nya bermuara ke qadar-Nya. Setiap batas akhir
mempunyai ketentuan. Allah berfirman, "Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya lah terhadap Ummul-Kitab (lauhul-mahfuzh)." (QS. ar-Ra'du: 39).

Allah Ta'ala lalu menyuruhku agar mengawinkan Fathimah dengan 'Ali. Aku mempersaksikan kepada kalian bahwa sesungguhnya aku menikahkan Fathimah kepada 'Ali dengan mahar 400 Mitsqal perak jika 'Ali menerima, berdasarkan sunnah yang berlaku dan kewajiban yang ditetapkan. Semoga Allah menyatukan keduanya, memberkati keduanya, membaguskan keturunannya, dan menjadikan keturunannya sebagai kunci rahmat, sumber hikmah, dan kepercayaan ummat. Demikian aku menyampaikan ini. Aku meminta ampun kepada Allah untukku dan kalian." (Thabaqaat, Ibn Sa'ad [7/15]).

Anas berkata bahwa saat pernikahan itu, 'Ali sedang pergi untuk mengerjakan kepentingan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau menyuruhku kami menghidangkan semangkuk kurma. Beliau meletakannya di depan kami.

Orang-orang berkata, "Awas!" Tiba-tiba datanglah 'Ali. Rasulullah tersenyum kepadanya dan bersabda, "Wahai 'Ali, Sesungguhnya Allah menyuruhku untuk menikahkanmu dengan Fathimah dan aku telah menikahkanmu dengan maskawin 400 mitsqal perak." 'Ali berkata, "Ya Rasulullah, aku rela."

'Ali lalu merebahkan diri untuk bersujud sebgai rasa syukur kepada Allah. Setelah selesai, Rasulullah bersabda, "Semoga Allah memberkati kamu berdua, menjadikan nasibmu bahagia, dan melahirkan keturunan yang banyak lagi baik." (Thabaqaat, Ibn Sa'ad [3/16]).

Kehidupan Rumah Tangga Fathimah

Banyak sekali riwayat yang menceritakan betapa beratnya kehidupan rumah-tangga 'Ali ibn Thalib dan Fathimah radhiyallahu 'anhum. Namun Fathimah radhiyallahu 'anha sanggup menunaikan tugas hidupnya yang penuh bakti kepada suami, taqwa kepada Allah dan taat kepada Rasul-Nya.

Pada suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkunjung ke kediaman Fathimah radhiyallahu 'anha. Waktu itu putri beliau tersebut sedang menggiling tepung sambil berlinang air mata. Baju yang dikenakannya terbuat dari kain kasar. Menyaksikan putrinya menangis, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ikut melinangkan air mata. Tak lama kemudian beliau menghibur putrinya: "Fathimah, terimalah kepahitan dunia untuk memperoleh kenikmatan di akhirat kelak."

Riwayat lain mengatakan bahwa pada suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam datang menjenguk Fathimah radhiyallahu 'anha tepat pada saat Fathimah bersama suaminya, 'Ali ibn Abi Thalib sedang bekerja menggiling tepung. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya: "Siapakah di antara kalian berdua yang akan kugantikan?" "Fathimah!" jawab 'Ali. Fathimah lalu berhenti diganti oleh ayahandanya menggiling tepung bersama 'Ali radhiyallahu 'anhu.

Pada satu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersama sejumlah Sahabat berada dalam masjid menunggu kedatangan Bilal ibn Rabbah radhiyallahu 'anhu yang akan mengumandangkan adzan sebagaimana biasa dilakukan sehari-hari. Ketika Bilal terlambat datang oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ditegur dan ditanya apa sebabnya. Bilal menjelaskan: "Aku baru saja datang dari rumah Fathimah. Ia sedang menggiling tepung. al-Hasan, putranya yang masih bayi diletakkan dalam keadaan menangis keras. Kukatakan kepadanya 'Manakah yang lebih baik, aku menolong anakmu itu ataukah aku saja yang menggiling tepung'. Ia menyahut: 'Aku kasihan kepada anakku'. Gilingan itu segera kuambil lalu aku menggiling gandum. Itulah yang membuatku datang terlambat!" Mendengar keterangan Bilal itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata: "Engkau mengasihani dia dan Allah mengasihani dirimu!"

Sebuah riwayat lagi yang berasal dari 'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, beliau mengatakan: Fathimah pernah mengeluh karena tapak tangannya menebal akibat terus menerus memutar gilingan tepung. Ia keluar hendak bertemu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Karena tidak berhasil, ia menemui 'Aisyah radhiyallahu 'anha. Kepadanya diceritakan maksud kedatangannya. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam datang, beliau diberitahu oleh 'Aisyah tentang maksud kedatangan Fathimah yang hendak minta diusahakan seorang pembantu rumah-tangga. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian datang ke rumah kami. Waktu itu kami sedang siap-siap hendak tidur. Kepada kami beliau berkata, "Kuberitahukan kalian tentang sesuatu yang lebih baik daripada yang kalian minta kepadaku. Sambil berbaring ucapkanlah tasbih 33 kali tahmid 33 kali dan takbir 34 kali. Itu lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu yang akan melayani kalian."

Hal-hal tersebut di atas adalah gambaran tentang kehidupan suatu keluarga mulia di tengah-tengah masyarakat Islam. Betapa sederhananya kehidupan pemimpin-pemimpin Islam pada masa itu. Sebuah contoh kehidupan masyarakat yang dibangun oleh Islam dengan prinsip ajaran keluhuran akhlaq.

Putra-putri Fathimah

Fathimah radhiyallahu 'anha satu-satunya yang menjadi sumber keturunan paling mulia dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang dikenal ummat Islam di seluruh dunia. Beliau melahirkan dua orang putra dan dua orang putri. Putra-putranya bernama al-Hasan dan al-Husain radhiyallahu 'anhuma. Sedang putri-putrinya bernama Zainab radhiyallahu 'anha dan Ummu Kaltsum radhiyallahu 'anha. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan gembira sekali menyambut kelahiran cucu-cucunya.

al-Hasan dan al-Husain radhiyallahu 'anhum mempunyai kedudukan tersendiri di dalam hati beliau shallallahu 'alaihi wa sallam. Dua orang cucunya itu beliau asuh sendiri. Kaum Muslimin pada zaman hidupnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyaksikan sendiri betapa besarnya kecintaan beliau kepada al-Hasan dan al-Husain. Beliau menganjurkan supaya orang mencintai dua "putra" beliau itu dan berpegang teguh pada pesan itu.

al-Hasan dan al-Husain meninggalkan jejak yang jauh jangkauannya bagi ummat Islam. al-Husain radhiyallahu 'anhu gugur sebagai syahid menghadapi penindasan dinasti Bani Umayyah. Semangatnya terus berkesinambungan melestarikan dan membangkitkan perjuangan yang tegas dan seru di kalangan ummat Islam menghadapi kedzaliman. Semangat al-Husain merupakan kekuatan penggerak yang luar biasa dahsyatnya sepanjang sejarah.

Putri beliau yang bernama Zainab radhiyallahu 'anha merupakan pahlawan wanita Muslim yang sangat cemerlang dan menonjol sekali peranannya dalam pertempuran di Karbala membela al-Husain radhiyallahu 'anhu. Di Karbala itulah dinasti Bani Umayyah menciptakan tragedi yang menimpa al-Husain beserta segenap anggota keluarganya. al-Husain radhiyallahu 'anhu gugur dan kepalanya diarak sebagai pameran keliling Kufah sampai ke Syam.

Keutamaan Fathimah

Sebagaimana kita ketahui, bahwa Fathimah radhiyallahu 'anha telah mendapat pendidikan langsung dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, sehingga tidak diragukan lagi bahwa Fathimah telah mewarisi sifat-sifat baik ayahnya, seperti akhlaqul karimah (akhlak yang mulia), 'afwu'indal magdirah (pemberian maaf di saat beliau dapat membalas) dan husnuddhon (baik sangka) serta sifat baik Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang lain.

'Aisyah Ummul Mu'minin radhiyallahu 'anha berkata: "Aku tidak pernah melihat seorangpun yang paling menyerupai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sikapnya, berdiri dan duduknya kecuali Fathimah putri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam." Selanjutnya 'Aisyah berkata: "Jika Fathimah datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau berdiri menyambut kedatangannya, dan mempersilahkan duduk di tempat duduknya. Demikian juga jika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam datang kepadanya ia berdiri menyambut kedatangan beliau dan mempersilahkan duduk di tempat duduknya." (Shahih at-Tirmidzi [2/319], bab keutamaan Fathimah; Shahih Bukhari, bab Qiyam ar-Rajul liakhihi, hadits ke 947; Shahih Muslim, kitab Fadhil ash-Shahabah, bab Fadha'il Fathimah).

Fathimah radhiyallahu 'anhu dikenal sebagai seorang yang berakhlaq mulia, sopan santun, tidak sombong tapi rendah hati, walaupun beliau putri seorang Nabi. Beliau ramah serta lemah lembut dalam bertutur kata. Berjiwa besar, lapang dada serta pemaaf dan tidak mempunyai rasa ghil (rasa unek-unek tidak senang kepada orang lain). Sehingga tepat sekali kalau Fathimah mendapat gelar sebagai "Sayyidatu Nisa' Ahlul Jannah" (pemimpin para wanita di surga).

'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: Fathimah datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan berjalan seperti jalannya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengucapkan: "Selamat datang duhai putriku." Kemudian beliau mempersilahkan duduk di sebelah kanan atau kirinya kemudian beliau berbisik kepadanya lalu Fathimah menangis. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya: "Mengapa kamu menangis?" Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berbisik lagi kepadanya. Lalu ia tertawa dan berkata: Aku tidak pernah merasakan bahagia yang paling dekat dengan kesedihan seperti hari ini. Lalu aku ('Aisyah) bertanya kepada Fathimah tentang apa yang dikatakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Fathimah menjawab: "Aku tidak akan menceritakan rahasia Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sehingga beliau wafat." Aku bertanya lagi kepadanya, lalu ia berkata: "(Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berbisik kepadaku): Jibril berbisik kepadaku, al-Qur'an akan menampakkan padaku setiap setahun sekali, dan ia akan menampakkan padaku tahun ini dua kali, aku tidak melihatnya kecuali datangnya ajalku, dan engkau adalah orang pertama dari Ahlul Baitku yang menyusulku." Lalu Fathimah menangis. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidakkah kamu ridha menjadi penghulu semua perempuan ahli surga atau penghulu semua istri orang-orang yang beriman?" Kemudian Fathimah tertawa. (Shahih Bukhari, kitab Awal Penciptaan, bab tanda-tanda kenabian dalam Islam; Musnad Ahmad [6/282], hadits ke 25874).

Beliau juga dikenal jujur dan tidak suka berdusta, sebagaimana kesaksian 'Aisyah radhiyallahu 'anha. Di mana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berkata: "Bertanyalah kepada Fathimah, sebab dia itu tidak suka dusta."

Di samping itu semua, Fathimah sangat sabar dalam menerima segala ujian serta ridha dan tawakkal atas takdir yang dialaminya. Walaupun keadaan ekonominya dalam keadaan serba kekurangan, namun beliau menerimanya dengan senang hati. Itulah di antara sifat-sifat mulia putri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Wafatnya Fathimah

Benar apa yang pernah dibisikkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Fathimah radhiyallahu 'anha, bahwa putrinya itu akan menyusul meninggal tidak lama setelah beliau meninggal. Tepatnya 6 bulan setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meninggal, putrinya itu wafat. Fathimah wafat pada hari Senin malam Selasa, tanggal 3 Ramadhan tahun 11 Hijriyah dan umurnya saat itu 28 tahun.

Berita kematian Fathimah radhiyallahu 'anha cepat sekali meluas ke seluruh Madinah, sehingga tidak lama kemudian para Sahabat sudah berdatangan mereka berduyun-duyun mengunjungi kediaman Imam 'Ali untuk berta'ziah.

Mereka benar-benar merasa sedih, sebab baru enam bulan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meninggalkan mereka, kini putrinya yang menjadi panutan bagi mereka, menyusul ayahnya. Sungguh satu kejadian yang tidak diinginkan oleh mereka sebab Fathimah itu sangat dicintai dan dihormati oleh semua sahabat.

Kemudian, sesuai dengan wasiatnya, maka yang memandikan adalah 'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu dan Asma' binti Umais (istri Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu). Bertindak selaku imam dalam shalatul Jinazah adalah 'Ali ibn Thalib. Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa paman 'Ali ibn Abi Thalib, yaitu Abbas ibn 'Abdul Muththalib radhiyallahu 'anhu yang mengimami. Fathimah radhiyallahu 'anhu kemudian dimakamkan di pemakaman Baqi', tidak jauh dari Masjid Nabawi. Selanjutnya turun dalam kubur saat menguburkan Fathimah adalah 'Ali ibn Abi Thalib, Abbas ibn 'Abdul Muththalib dan Fadhl ibn Abbas.

Demikian Fathimah radhiyallahu 'anha telah berpulang ke rahmatullah. Namun suasana berkabung terus menyelimuti kota Madinah, karena putri Rasulnya telah tiada dan meninggalkan putra-putri yang masih kecil.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala meridhai Fathimah binti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan menempatkan beliau pada kedudukan yang tinggi di sisi Rabb-Nya. Amiin.



FeedCount

Cari artikel di blog ini

Loading

Ikuti via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Followers

Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template