Tampilkan postingan dengan label Ahlul Bait. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahlul Bait. Tampilkan semua postingan

4.1.12

Ahlul Bait : al-Imam as-Sayyid al-Hasan radhiyallahu 'anhuma

Nama Lengkap

Nama lengkap beliau adalah al-Hasan ibn 'Ali ibn Abi Thalib ibn 'Abdul Muththalib ibn Hasyim ibn 'Abdi Manaf ibn Qushay al-Qurasyi al-Hasyimiy. Kunyahnya adalah Abu Zaid. Beliau adalah seorang imam yang mulia, cucu kesayangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, di samping al-Husain radhiyallahu 'anhuma. Ayahnya adalah 'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu dan ibunya yaitu Fathimah binti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Nama al-Hasan pertama kali digunakan untuk beliau dan diberikan langsung oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau mempunyai banyak gelar, di antaranya adalah al-Imam as-Sayyid, Raihanatu Rasulullah, serta Sayyidu Sabab Ahlul Jannah (pemimpin pemuda ahli surga), beliau juga bergelar Abu Muhammad al-Qurasyi al-Hasymi al-Madani asy-Syahid.

Beliau dilahirkan pada bulan Sya'ban tahun ke-3 dari hijrahnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, ada juga yang mengatakan beliau dilahirkan pada pertengahan bulan Ramadhan, dan beliau di-aqiqahi langsung oleh Rasulullah dan juga memotong rambutnya, sebagaimana yang tertera dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Ibn Abbas radhiyallahu 'anhu dengan sanad yang shahih: "Rasulullah meng-aqiqahi al-Hasan dengan domba, dan juga kepada al-Husain." (HR. Abu Daud [2841]).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sangat mencintai dan menyayangi kedua cucunya ini.

Dari 'Abdullah ibn Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata tentang al-Hasan dan al-Husain, "Mereka berdua adalah dua orang anakku. Barangsiapa mencintai mereka berdua, berarti mencintai aku, dan barangsiapa membenci mereka berdua, berarti membenciku."

Bahkan Rasulullah pernah mendo'akannya kepada Allah yang tidak pernah seorangpun pernah mendapat do'a seagung ini.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdo'a, "Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya, maka cintailah dia dan cintailah orang-orang yang mencintainya." (HR. Tirmidzi [3782]).

al-Hasan dan al-Husain adalah penghulu dari para pemuda di surga.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Sahabat Hudzaifah radhiyallahu 'anhu, "Wahai Hudzaifah sesungguhnya telah datang Jibril kepadaku, dia menyampaikan kabar gembira kepadaku, bahwa kedua cucuku ini (al-Hasan dan al-Husain) penghulu pemuda di surga." (Diriwayatkan oleh Ahmad [4/172], Ibn Majah [3666], Baihaqi, dalam kitab Asma' wa Sifat [164]).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya siapakah orang yang paling beliau cintai dari keluarga beliau. Beliau bersabda, "al-Hasan dan al-Husain." (Diriwayatkan oleh Tirmidzi [3772]).

Kecintaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada cucunya al-Hasan ibn 'Ali radhiyallahu 'anhuma terlihat jelas bahkan ketika beliau shallallahu 'alaihi wa sallam dalam keadaan shalat, yang mana ketika itu al-Hasan naik ke punggung Rasulullah ketika dalam keadaan sujud, akan tetapi Rasulullah menunggunya hingga ia pergi dan menyingkir dari punggung Rasulullah tersebut, dan setelah selesai menjalankan shalat para Sahabat berkata kepada beliau, "Wahai Rasulullah, engkau lama dalam sujud, ada apa gerangan?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Sesungguhnya cucuku menaikiku, dan aku tidak suka apabila aku mendorongnya sampai ia selesai melaksanakan hajatnya kepadaku." (Dalam Musnad [3/493-494], Nasa'i [2/229-230]). Dan dalam riwayat lain Sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, engkau sungguh sangat menyayangi anak ini yang tidak engkau lakukan kepada yang lainnya."

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berkata tentang al-Hasan dan al-Husain radhiyallahu 'anhuma, "al-Hasan adalah seperti aku dan al-Husain seperti 'Ali." (Mu'jam Thabrani [2622]).

al-Hasan ibn 'Ali radhiyallahu 'anhuma adalah sosok yang sangat dermawan, ketaqwaannya adalah yang terbaik di zamannya, bahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan bahwa 'al-Hasan adalah orang yang akan menjadi penyelesai masalah antara dua kelompok kaum Muslimin.

Dari Abi Ishaq, dari Haritsah, beliau berkata bahwa 'Ali radhiyallahu 'anhu pernah berseru, "Wahai manusia sesunguhnya al-Hasan telah mengumpulkan harta yang banyak, dan ia ingin membagikannya kepada kalian." Maka berdatanganlah manusia, kemudian al-Hasan berkata, "Sesungguhnya aku mengumpulkan harta selama ini hanya untuk orang faqir miskin." (Tahjib Ibn Asakir [4/217]).

Diriwayatkan bahwa al-Hasan radhiyallahu 'anhuma pernah membagi-bagikan hartanya seluruhnya sebanyak dua kali dan membagikan sebagian dari hartanya sebanyak tiga kali. (Siyar A'lam Nubala' [3/267]).

Bahkan beliau pernah memberi hadiah kepada orang yang telah melengserkan beliau dari kekhalifahan yaitu Mu'awiyah ibn Abu Sufyan radhiyallahu 'anhu dengan hadiah yang tidak pernah beliau berikan kepada seorangpun yaitu 400.000 dinar.

Diriwayatkan dari Mughayyirah ibn Muqsim dari Ummu Musa bahwasanya al-Hasan radhiyallahu 'anhuma apabila beranjak hendak ke tempat tidurnya beliau menuntaskan membaca surat al-Kahfi terlebih dahulu sebelum tidur.

Bahkan diriwayatkan bahwa beliau pergi haji sebanyak 15 kali dengan berjalan kaki.

al-Hasan radhiyallahu 'anhuma pernah jatuh sakit selama sebulan, kamudian beliau paksa dirinya agar bisa berkhutbah di depan umum, beliau berkata, "Bertaqwalah kepada Allah, aku adalah pemimpin kalian dan aku juga adalah orang yang paling lemah di antara kalian, dan Allah pernah berfirman tentang kami: 'Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya'." Maka yang terjadi adalah jama'ah yang mendengar itu semuanya menjadi menangis dan suasana menjadi hiruk pikuk dengan suara tangis yang banyak.

Beliau dikenal di kalangan kawan dan musuh sebagai orang yang pandai dalam bertutur kata dan berdebat, Mu'awiyah pernah berpesan kepada para sahabatnya agar tidak melakukan perdebatan kepada al-Hasan ibn 'Ali radhiyallahu 'anhuma karena kecakapan beliau dan kejeniusan serta mengeluarkan ide secara spontanitas.

al-Hasan radhiyallahu 'anhuma juga dikenal sebagai pemimpin berkat mewarisi tabiat ayahnya yang merupakan seorang Khalifah Rasulullah yang keempat, 'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Beliau juga pernah menjabat sebagai khalifah mengantikan ayahnyanya pasca terbunuhnya ayahnyanya di tangan orang munafiq pada tahun 40 H. Saat itu beliau dibai'at lebih dari 40000 orang, akan tetapi dengan pertimbangan kemaslahatan bagi ummat Islam agar tidak terjadinya perpecahan dan pembunuhan serta peperangan di kalangan ummat Islam beliau rela turun dari jabatannya setelah 6 bulan menjabat, kemudian tampuk kekuasaan diserahkan kepada Mu'awiyah ibn Abu Sufyan. Pada tahun itu disebut dengan Amm Jama'ah (Tahun persatuan jama'ah kaum Muslimin).

Maka benarlah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam akan beliau sebagai penyatu ummat Islam, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda, "Cucuku ini adalah pemimpin (sayyid), semoga kelak Allah mendamaikan dengan perantaranya dua kelompok besar kaum Muslimin."

Selama hidupnya, al-Hasan ibn 'Ali radhiyallahu 'anhuma telah meriwayatkan 13 hadits dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau wafat di Madinah pada tahun 50 H, dan jasadnya dimakamkan di Baqi', Madinah.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala meridhai al-Hasan ibn 'Ali dan menempatkan beliau pada kedudukan yang tinggi di sisi Rabb-Nya. Amiin.




Ahlul Bait : al-Husain radhiyallahu 'anhuma, Pemimpin Pemuda di Surga

Nama Lengkap dan Nasab

Nama lengkap beliau adalah al-Husain ibn 'Ali ibn Abi Thalib ibn 'Abdul Muththalib ibn Hasyim ibn 'Abdi Manaf ibn Qushay al-Qurasyi al-Hasyimiy. Kunyahnya adalah Abu 'Abdillah. Beliau adalah seorang imam yang mulia, cucu kesayangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, di samping al-Hasan radhiyallahu 'anhuma. Ayahnya adalah 'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu dan ibunya yaitu Fathimah binti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

al-Husain radhiyallahu 'anhuma dilahirkan pada tanggal 5 Sya'ban tahun ke-4 Hijriyah, dan jarak umur antara beliau dengan al-Hasan radhiyallahu 'anhuma, kakaknya, menurut sebagian 'Ulama adalah satu kali masa suci ditambah masa kehamilan. (Lihat al-Bidayah wan Nihayah [7/149]).

Beberapa Sifat al-Husain

Secara fisik, al-Husain radhiyallahu 'anhuma lebih mirip dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada bagian dada sampai kaki, sementara al-Hasan radhiyallahu 'anhuma lebih mirip dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada wajahnya. (Lihat al-Bidayah wan Nihayah [8/150]).

Tentang sifat al-Husain radhiyallahu 'anhuma lainnya, antara lain sebagaimana yang dibawakan oleh adz-Dzahabi rahimahullah dari riwayat Sa'id ibn 'Amr, ia berkata: Sesungguhnya al-Hasan radhiyallahu 'anhuma pernah berkata kepada al-Husain radhiyallahu 'anhu: "Betapa ingin aku memiliki sebagian kekerasan hatimu." Lalu al-Husain radhiyallahu 'anhuma menjawab: "Dan betapa ingin aku memiliki sebagian kelembutan lidahmu." (Lihat Siyar A'lam Nubala' [3/287]).

Kedudukan al-Husain

al-Husain ibn 'Ali radhiyallahu 'anhuma adalah seorang Imam di antara imam-imam Ahlussunnah, beliau memiliki kedudukan mulia di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan sangat dicintainya.

Dari Ibn Abi Nu'mi rahimahullah, ia berkata: Aku mendengar Ibn Umar radhiyallahu 'anhuma ketika ditanya oleh seseorang (yang datang dari Iraq) tentang hukum orang yang berihram -(kata Syu'bah: saya menduga ia bertanya tentang hukum) membunuh lalat-. Maka Ibn Umar berkata: "(Lihatlah) orang-orang Irak bertanya tentang hukum membunuh seekor lalat, padahal mereka telah membunuh putra dari putri Rasululah shallallahu 'alaihi wa sallam. Padahal Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda: 'Keduanya (al-Hasan dan al-Husain) adalah dua buah tangkai bungaku di dunia'." (Riwayat al-Bukhari dan lainnya, Fathul Bari [7/95], no. 3753).

adz-Dzahabi rahimahullah dalam Siyar A'lam Nubala' membawakan riwayat dari Jabir radhiyallahu 'anhu yang ketika melihat al-Husain ibn 'Ali masuk ke dalam Masjid mengatakan: "Barangsiapa yang ingin melihat seorang sayyid (pemuka) dari para pemuda ahli surga maka lihatlah al-Husain radhiyallahu 'anhuma ini. Saya mendengar hal itu dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. (Lihat Siyar A'lam Nubala [3/282-283]. Dikatakan oleh pen-tahqiq Siyar A'lam Nubala' bahwa para perawinya adalah para perawi yang dipakai dalam Kitab Shahih, kecuali ar-Raba' ibn Sa'd, tetapi ia tsiqah).

Dalam kitab yang sama, adz-Dzahabi rahimahullah juga membawakan riwayat dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyelimuti 'Ali, Fathimah serta kedua anaknya (al-Hasan dan al-Husain) dengan sebuah selimut, kemudian beliau bersabda: "Ya Allah, mereka adalah ahli bait putriku dan kesayanganku. Ya Allah, hilangkanlah kotoran dari mereka, dan sucikanlah mereka dengan sesuci-sucinya." Aku (Ummu Salamah) bertanya: "Apakah aku termasuk mereka?" Beliau menjawab: "Sesungguhnya engkau menuju kepada kebaikan."

Hadits ini dikatakan oleh adz-Dzahabi rahimahullah bahwa isnad-nya jayyid (baik), diriwayatkan dari beberapa jalan dari Syahr. Sementara pen-tahqiq mengatakan, hadits itu shahih dengan syawahidnya. (Lihat Siyar A'lam Nubala' [3/283]).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda: "al-Husain termasuk bagian dariku dan aku termasuk bagian darinya, Allah akan mencintai siapa saja yang mencintai al-Husain. Dan al-Husain adalah satu ummat di antara ummat-ummat yang lain dalam kebaikannya." (Hadits ini hasan, diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Ibn Majah. Lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi, karya Syaikh al-Albani [3/539] no. 3775 - Maktabah al-Ma'arif - Riyadh, cet. I dari terbitan yang baru th. 1420 H/2000 M. Dan Shahih Sunan Ibn Majah karya Syaikh al-Albani [1/64-65] no. 118-143 - Maktabah al-Ma'arif - Riyadh, cet. I dari terbitan yang baru th. 1417 H/1997 M).

Demikianlah kedudukan al-Husain ibn 'Ali radhiyallahu 'anhuma. Beliau sempat hidup bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam selama sekitar 5 tahun. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sangat menyayangi dan memuliakannya sebagaimana menyayangi dan memuliakan al-Hasan radhiyallahu 'anhuma hingga beliau shallallahu 'alaihi wa sallam wafat.

Sepeninggal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar ibn al-Khaththab dan 'Utsman ibn Affan radhiyallahu 'anhuma pun sangat mencintai, memuliakan dan mengagungkannya.

Ketika 'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu diangkat menjadi khalifah, dan pusat pemerintahan pindah ke Kuffah, al-Husain radhiyallahu 'anhuma ikut bersama ayahnya ke Kuffah. Dan beliau selalu menyertai ayahnya, 'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu sampai wafatnya. Setelah Aam Jama'ah, yaitu setelah al-Hasan radhiyallahu 'anhuma menyerahkan kekhalifahan kepada Mu'awiyah ibn Sufyan pada tahun 41 H, beliau kemudian menetap di Madinah bersama kakaknya, al-Hasan radhiyallahu 'anhuma.

Pada saat Mu'awiyah ibn Abu Sufyan radhiyallahu 'anhu resmi menjadi khalifah, maka Mu'awiyah juga sangat memuliakannya, bahkan sangat memperhatikan kehidupan al-Husain radhiyallahu 'anhuma dan saudaranya, sehingga sering memberikan hadiah kepada keduanya.

Begitulah, semua Sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memuliakan al-Husain radhiyallahu 'anhuma sebagaimana mereka memuliakan al-Hasan radhiyallahu 'anhuma.

adz-Dzahabi rahimahullah membawakan riwayat dari Ibn al-Muhazzim rahimahullah yang mengatakan: "Pernah kami sedang menghadiri suatu jenazah. Lalu, datanglah Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu yang dengan bajunya mengibaskan debu-debu yang ada pada kaki al-Husain." (Lihat Siyar A'lam Nubala' [3/287]).

Tetapi, ketika Yazid ibn Mu'awiyah diangkat sebagai khalifah, al-Husain radhiyallahu 'anhuma bersama 'Abdullah ibn az-Zubair radhiyallahu 'anhu termasuk yang tidak mau berbai'at kepadanya. Bahkan penolakan itu terjadi sebelum Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu wafat ketika Yazid sudah ditetapkan sebagai calon khalifah pengganti Mu'awiyah. Oleh karena itu, beliau berdua keluar dari Madinah dan menuju Makkah. Kemudian keduanya menetap di Makkah.

Wafatnya

Para 'Ulama berselisih pendapat tentang kapan al-Husain radhiyallahu 'anhuma wafat. Tetapi, adz-Dzahabi, Ibn Katsir dan Ibn Hajar al-'Asqalani lebih menguatkan bahwa wafatnya pada hari 'Asyura bulan Muharam tahun 61 H. (Lihat Siyar A'lam Nubala [3/318], al-Bidayah wan Nihayah [8/172], Tahdzab at-Tahdzab [2/356]). Sedang umurnya juga diperselisihkan, ada yang mengatakan 58 tahun, 55 tahun dan 60 tahun. Tetapi Ibn Hajar rahimahullah menguatkan bahwa umur beliau 56 tahun. (Tahdzab at-Tahdzab [2/356]).

Jauh hari sebelum al-Husain ibn 'Ali radhiyallahu 'anhuma terbunuh, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menceritakan bahwa al-Husain akan wafat dalam keadaan terbunuh.

adz-Dzahabi rahimahullah membawakan beberapa riwayat tentang itu, di antaranya dari 'Ali radiyallahu 'anhu, beliau berkata: Aku datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika kedua mata beliau bercucuran air mata, lalu beliau bersabda: "Jibril baru saja datang, ia menceritakan kepadaku bahwa al-Husain kelak akan mati dibunuh. Kemudian Jibril berkata: 'Apakah engkau ingin aku ciumkan kepadamu bau tanahnya?'. Aku menjawab: 'Ya.' Jibril lalu menjulurkan tangannya, ia menggenggam tanah satu genggaman. Lalu ia memberikannya kepadaku. Sehingga karena itulah aku tidak kuasa menahan air mataku." (Lihat Siyar A'lam Nubala' [3/288-289]. Pen-tahqiq kitab ini (Muhammad Na'im al-'Arqasusy dan Ma'man Shagharjiy) mengatakan, hadits itu dan yang senada diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Thabrani dan lain-lain, sedangkan para perawinya oleh al-Haitsami dikatakan sebagai para perawi yang tsiqah).

Berkata Ibnul Arabi dalam kitabnya al-Awashim minal Qawashim: "Disebutkan oleh ahli tarikh bahwa surat-surat berdatangan dari ahli Kuffah kepada al-Husain (setelah meninggalnya Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu). Kemudian al-Husain mengirim Muslim ibn 'Aqil, anak pamannya kepada mereka untuk membai'at mereka dan melihat bagaimana keikutsertaan mereka. Maka Ibn Abbas radhiyallahu 'anhu memberitahu
beliau (al-Husain) bahwa mereka dahulu pernah mengkhianati bapak dan saudaranya. Sedangkan Ibn Zubair mengisyaratkan kepadanya agar dia berangkat, maka berangkatlah al-Husain. Sebelum sampai beliau di Kuffah ternyata Muslim ibn 'Aqil telah terbunuh dan diserahkan kepadanya oleh orang-orang yang memanggilnya. "Cukup bagimu ini sebagai peringatan bagi yang mau mengambil peringatan" (kelihatannya yang dimaksud adalah ucapan Ibn Abbas kepada al-Husain -pent.). Tetapi beliau radhiyallahu 'anhu tetap melanjutkan perjalanannya dengan marah karena dien dalam rangka menegakkan al-haq. Bahkan beliau tidak mendengarkan nasehat orang yang paling 'alim pada zamannya yaitu Ibn Abbas radhiyallahu 'anhu dan menyalahi pendapat syaikh para Shahabat yaitu Ibn Umar. Beliau mengharapkan permulaan pada akhir (hidup -pent.), mengharapkan kelurusan dalam kebengkokan dan mengharapkan keelokan pemuda dalam rapuh ketuaan. Tidak ada yang sepertinya di sekitarnya, tidak pula memiliki pembela-pembela yang memelihara haknya atau yang bersedia mengorbankan dirinya untuk membelanya. Akhirnya kita ingin mensucikan bumi dari khamr Yazid, tetapi kita tumpahkan darah al-Husain, maka datang kepada kita musibah yang menghilangkan kebahagiaan zaman." (Lihat al-Awashim minal Qawashim oleh Abu Bakar Ibnul 'Arabi dengan tahqiq dan ta'liq Syaikh Muhibbuddin al-Khatib, hal. 229-232).

Yang dimaksud oleh beliau dengan ucapannya "Kita ingin mensucikan bumi dari khamr Yazid, tetapi kita tumpahkan darah al-Husain" adalah bahwa niat al-Husain dengan sebagian kaum Muslimin untuk mensucikan bumi dari khamr Yazid yang hal ini masih merupakan tuduhan-tuduhan dan tanpa bukti, tetapi hasilnya justru kita menodai bumi dengan darah al-Husain yang suci. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Muhibbudin al-Khatib dalam ta'liq-nya terhadap buku al-Awashim minal Qawashim.

Ketika al-Husain radhiyallahu 'anhuma ditahan oleh tentara Yazid, Samardi al-Jausyan mendorong 'Abdullah ibn Ziyad untuk membunuhnya. Sedangkan al-Husain meminta untuk dihadapkan kepada Yazid atau dibawa ke front untuk berjihad melawan orang-orang kafir atau kembali ke Makkah. Namun mereka tetap membunuh al-Husain dengan dzalim sehingga beliau meninggal dengan syahid.

Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah berkata: "al-Husain terbunuh di Karbala di dekat Eufrat dan jasadnya dikubur di tempat terbunuhnya, sedangkan kepalanya dikirim ke hadapan 'Ubaidillah ibn Ziyad di Kuffah. Demikianlah yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya dan dari para imam yang lain. Adapun tentang dibawanya kepala beliau kepada Yazid telah diriwayatkan dalam beberapa jalan yang munqathi' (terputus) dan tidak benar sedikitpun tentangnya. Bahkan dalam riwayat-riwayat tampak sesuatu yang menunjukkan kedustaan dan pengada-adaan riwayat tersebut. Disebutkan padanya bahwa Yazid menusuk gigi taringnya dengan besi, dan bahwasanya sebagian para Sahabat yang hadir seperti Anas ibn Malik, Abu Barzah dan lain-lain mengingkarinya. Hal ini adalah pengkaburan, karena sesungguhnya yang menusuk dengan besi adalah 'Ubaidillah ibn Ziyad. Demikian pula dalam kitab-kitab shahih dan musnad, bahwasanya mereka menempatkan Yazid di tempat 'Ubaidillah ibn Ziyad. Adapun 'Ubaidillah, tidak diragukan lagi bahwa dialah yang memerintahkan untuk membunuhnya (al-Husain) dan memerintahkan untuk membawa kepalanya ke hadapan dirinya. Dan akhirnya Ibn Ziyad pun dibunuh karena itu. Dan lebih jelas lagi bahwasanya para Sahabat yang tersebut tadi seperti Anas dan Abu Barzah tidak berada di Syam, melainkan berada di Iraq ketika itu. Sesungguhnya para pendusta adalah orang-orang jahil (bodoh), tidak mengerti apa-apa yang menunjukkan kedustaan mereka." (Lihat Majmu' Fatawa [4/507-508]).

'Ubaidillah ibn Ziyad adalah Amir (Gubernur) Bashrah pada masa pemerintahan Yazid ibn Mu'awiyah dan yang kemudian oleh Yazid diangkat pula sebagai Amir Kuffah menggantikan Nu'man ibn Basyir radhiyallahu 'anhu. 'Ubaidillah ibn Ziyad inilah yang memobilisasi perang melawan al-Husain radhiyallahu 'anhuma, dan bahkan menekan dengan ancaman kepada Umar ibn Sa'ad ibn Abi Waqqash untuk memeranginya. Meskipun sesungguhnya Umar ibn Sa'ad sangat tidak menyukai tugas ini. Bahkan akhirnya beliau menyesal dan mengatakan: "Tidak ada seorang pun yang pulang kepada keluarganya dengan membawa suatu keburukan sebagaimana yang aku bawa. Aku telah menaati 'Ubaidillah ibn Ziyad, tetapi aku telah durhaka kepada Allah dan telah memutuskan tali silaturrahim." (Lihat Siyar A'lam Nubala' [3/300 dan 303]).

Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah juga memberikan komentar tentang terbunuhnya al-Husain radhiyallahu 'anhuma sebagai berikut: "Ketika al-Husain ibn 'Ali radhiyallahu 'anhuma terbunuh pada hari 'Asyura, yang dilakukan oleh sekelompok orang dzalim yang melampaui batas, dan dengan demikian berarti Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memuliakan al-Husain radhiyallahu 'anhuma untuk memperoleh kematian sebagai syahid, sebagaimana Allah Azza wa Jalla juga telah memuliakan Ahlu Baitnya yang lain dengan mati syahid, seperti halnya Allah Azza wa Jalla telah memuliakan Hamzah, Ja'far, ayahnya yaitu 'Ali dan lain-lain dengan mati syahid. Dan mati syahid inilah salah satu cara Allah Azza wa Jalla untuk meninggikan kedudukan serta derajat al-Husain radhiyallahu 'anhuma. Maka, ketika itulah sesungguhnya al-Husain radhiyallahu 'anhuma dan saudaranya, yaitu al-Hasan radhiyallahu 'anhuma menjadi pemuka para pemuda ahli surga." (Lihat Majma' Fatawa [25/302]).

Pada sisi lain Syaikhul Islam juga mengatakan: "al-Husain radhiyallahu 'anhuma telah dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan mati syahid pada hari ('Asyura) ini. Dengan peristiwa ini, Allah Azza wa Jalla juga berarti telah menghinakan pembunuhnya serta orang-orang yang membantu pembunuhan terhadapnya atau orang-orang yang senang dengan pembunuhan itu. al-Husain radhiyallahu 'anhuma memiliki contoh yang baik dari para syuhada yang mendahuluinya. Sesungguhnya al-Husain radhiyallahu 'anhuma dan saudaranya (yaitu al-Hasan) radhiyallahu 'anhuma merupakan dua orang pemuka dari para pemuda ahli surga. Keduanya merupakan orang-orang yang dibesarkan dalam suasana kejayaan Islam, mereka berdua tidak sempat mendapatkan keutamaan berhijrah, berjihad dan bersabar menghadapi beratnya gangguan orang kafir sebagaimana dialami oleh para Ahli Baitnya yang lain. Karena itulah, Allah Azza wa Jalla memuliakan keduanya dengan mati syahid sebagai penyempurna bagi kemuliaannya dan sebagai pengangkatan bagi derajatnya agar semakin tinggi. Pembunuhan terhadap al-Husain radhiyallahu 'anhuma ini merupakan musibah besar. Dan Allah Azza wa Jalla mensyari'atkan agar hamba-Nya ber-istirja' (mengucapkan inna lillah wa inna ilaihi raji'un) ketika mendapatkan musibah dengan firman-Nya: "Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillah wa inna ilaihi raji'un". Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (al-Baqarah: 155-157)." (Lihat Majma' Fatawa [4/511]).

Adapun yang dirajihkan oleh para 'Ulama tentang kepala al-Husain ibn 'Ali radhiyallahu 'anhuma adalah sebagaimana yang disebutkan oleh az-Zubair ibn Bukar dalam kitabnya Ansab Quraisy dan beliau adalah seorang yang paling 'alim dan paling tsiqah dalam masalah ini (tentang keturunan Quraisy). Dia menyebutkan bahwa kepala al-Husain dibawa ke Madinah an-Nabawiyah dan dikuburkan di sana. Hal ini yang paling cocok, karena di sana ada kuburan saudaranya al-Hasan, paman ayahnya al-Abbas dan anak 'Ali dan yang seperti mereka. (Lihat Majma' Fatawa [4/509]).

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala merahmati al-Husain ibn 'Ali radhiyallahu 'anhuma dan mengampuni seluruh dosa-dosanya serta menerimanya sebagai syahid. Dan semoga Allah membalas para pembunuhnya dan mengadzab mereka dengan adzab yang pedih. Amiin.

Wallahu al-musta'an.



31.12.11

Ahlul Bait : Fathimah, Putri Kesayangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

Kelahiran dan Masa Kanak-kanak

Kelahiran Fathimah radhiyallahu 'anha merupakan rahmat yang dilimpahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Fathimah lahir di kota Makkah pada tahun 35 sesudah kelahiran Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, atau 5 tahun sebelum Bi'tsah atau sebelum Nubuwwah atau sebelum Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam diutus. Tepatnya pada hari Jum'at, 20 Jumadil Akhir, bersamaan dengan selesainya Binaul Ka'bah (pembangunan kembali Ka'bah). Pada tahun itu kaum Quraisy membangun kembali Ka'bah yang rusak akibat banjir yang melanda kota Makkah. Beliau adalah putri keempat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dari Ummul Mu'minin Khadijah radhiyallahu 'anha, yang lainnya adalah Zainab, Ruqayah, dan Ummu Kaltsum radhiyallahu 'anhum.

Fathimah radhiyallahu 'anha tumbuh dan berkembang di bawah naungan wahyu Ilahi di saat kaum Mu'min berjuang melawan kaum kufar Quraisy. Dalam keadaan masih kanak-kanak beliau sudah harus mengalami pahit getirnya perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan, merasakan penderitaan kehausan dan kelaparan. Lebih dari 3 tahun beliau bersama kedua orangtuanya hidup menderita di dalam Syi'ib akibat pemboikotan orang-orang kufar Quraisy terhadap keluarga Bani Hasyim. Setelah bebas dari penderitaan selama di Syi'ib, kesedihan kembali menghampiri diri Fathimah radhiyallahu 'anha, ibunda tercinta, Khadijah radhiyallahu 'anha dipanggil menghadap Ilahi.

Putri Kesayangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sangat mencintai putrinya ini. Fathimah radhiyallahu 'anha adalah putri bungsu yang paling disayang dan dikasihi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Demikian besar rasa cinta Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada putri bungsunya itu. Beliau merasa tak ada seorang pun di dunia yang paling berkenan di hati beliau dan paling dekat di sisinya selain Fathimah radhiyallahu 'anhu.

Dari Ibn Abbas radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada 'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu: "Wahai 'Ali! Sesungguhnya Fathimah adalah bagian dari aku. Dia adalah cahaya mataku dan buah hatiku. Barangsiapa menyusahkan dia, ia menyusahkan aku dan barangsiapa yang menyenangkan dia, ia menyenangkan aku."

Pernyataan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam itu merupakan penegasan bagi ummatnya bahwa putri beliau itu merupakan lambang keagungan abadi yang ditinggalkan di tengah ummatnya.

Pernikahan Fathimah

Fathimah radhiyallahu 'anha mencapai puncak keremajaannya dan kecantikannya pada saat risalah yang dibawakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sudah berkembang pesat di Madinah dan sekitarnya. Keelokan parasnya banyak menarik perhatian. Tidak sedikit pria terhormat yang menggantungkan harapan ingin mempersunting putri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam itu. Beberapa orang terkemuka dari kaum Muhajirin dan Anshar telah berusaha melamarnya. Menanggapi lamaran itu, Rasulullah mengemukakan bahwa beliau sedang menantikan datangnya petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta'ala mengenai putrinya itu.

Datanglah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu yang meminta Fathimah untuk dijadikan istrinya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Wahai Abu Bakar, tunggulah sampai ada keputusan." Hal itu kemudian diceritakan Abu Bakar pada Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu 'anhu. Umar berkata, "Wahai Abu Bakar, beliau menolak permintaanmu." Lalu Abu Bakar berkata pada Umar, "Lamarlah Fathimah kepada Nabi."

Umar ibn al-Khaththab pun melamarnya. Ternyata beliau shallallahu 'alaihi wa sallam melontarkan perkataan seperti yang dikemukakan kepada Abu Bakar ash-Shiddiq. Umar menemui Abu Bakar seraya menceritakan hasilnya. Abu Bakar berkata, "Wahai Umar, beliau menolakmu."

Keluarga 'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berkata kepada 'Ali, "Lamarlah Fathimah kepada Rasulullah." 'Ali menjawab, "Setelah Abu Bakar dan Umar ditolak?" Akan tetapi, kerabatnya dari pihak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terus mendorongnya.

'Ali ibn Abi Thalib kemudian menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan memberi salam. Beliau bertanya, "Wahai Ibn Abi Thalib, ada perlu apa?" Dia menjawab, "Aku terkenang pada Fathimah binti Rasulullah." Beliau bersabda, "Marhaban wa ahlan." Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam hanya menjawab demikian.

'Ali ibn Abi Thalib menemui sejumlah keluarganya dan orang Anshar yang sejak tadi menunggunya. Mereka bertanya, "Bagaimana hasilnya?" 'Ali menjawab, "Aku tidak tahu, beliau hanya mengucapkan 'Marhaban wa ahlan'." Mereka berkata, "Cukuplah sebagai tanda diterimanya lamaranmu salah satu perkataan Rasulullah, beliau memberimu istri dan memberimu ucapan selamat." (at-Thabwat [7/21]).

Diterimalah lamaran 'Ali ibn Abi Thalib pada Fathimah binti Rasulullah. Tidak lama kemudian, diserahkanlah maharnya kepada Fathimah berupa baju besi yang sudah usang. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberikannya kepada Fathimah mewakili 'Ali ibn Abi Thalib. Beliau kemudian menjual unta dengan harga 480 dirham. Beliau bersabda, "Belikanlah dua pertiga uang itu untuk makanan yang baik, dan sepertiganya untuk pakaian."

Diriwayatkan dari Anas ibn Malik radhiyallahu 'anhu bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Anas, "Pergilah dan sampaikanlah undanganku kepada Abu Bakar, Umar, 'Utsman, Thalhah, Zubair, dan beberapa orang Anshar." Aku berangkat untuk mengundang meraka. Setelah para undangan duduk di tempatnya masing-masing, beliau bersabda, "Segala puji kepunyaan Allah yang terpuji karena nikmat-Nya, Yang disembah karena kekuasaan-Nya, Yang ditaati karena kekuasaan-Nya, Yang ditakuti siksa-Nya, dan Yang menerapkan urusan-Nya di langit dan bumi. Dia telah menciptakan makhluk dengan kekuasaan-Nya, menerangi meraka dengan hukum-hukum-Nya, memuliakan meraka dengan agama-Nya, dan memuliakan mereka dengan Nabi-Nya, yaitu Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Sesungguhnya Allah telah menjadikan hubungan karena perkawinan sebagai tali keturunan tambahan, perintah yang difardhukan, hukum yang adil, dan kebaikan yang menyeluruh. Dengan hubungan itu, kekerabatan diikat dan manusia diteguhkan. Allah Ta'ala berfirman, "Dan Dia pula yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia menjadikan manusia itu (mempunyai) keturunan dan Mushaharah, dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa." (QS. al-Furqan: 54).

Perintah Allah bermuara pada qadha-Nya, qadha-nya bermuara ke qadar-Nya. Setiap batas akhir
mempunyai ketentuan. Allah berfirman, "Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya lah terhadap Ummul-Kitab (lauhul-mahfuzh)." (QS. ar-Ra'du: 39).

Allah Ta'ala lalu menyuruhku agar mengawinkan Fathimah dengan 'Ali. Aku mempersaksikan kepada kalian bahwa sesungguhnya aku menikahkan Fathimah kepada 'Ali dengan mahar 400 Mitsqal perak jika 'Ali menerima, berdasarkan sunnah yang berlaku dan kewajiban yang ditetapkan. Semoga Allah menyatukan keduanya, memberkati keduanya, membaguskan keturunannya, dan menjadikan keturunannya sebagai kunci rahmat, sumber hikmah, dan kepercayaan ummat. Demikian aku menyampaikan ini. Aku meminta ampun kepada Allah untukku dan kalian." (Thabaqaat, Ibn Sa'ad [7/15]).

Anas berkata bahwa saat pernikahan itu, 'Ali sedang pergi untuk mengerjakan kepentingan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau menyuruhku kami menghidangkan semangkuk kurma. Beliau meletakannya di depan kami.

Orang-orang berkata, "Awas!" Tiba-tiba datanglah 'Ali. Rasulullah tersenyum kepadanya dan bersabda, "Wahai 'Ali, Sesungguhnya Allah menyuruhku untuk menikahkanmu dengan Fathimah dan aku telah menikahkanmu dengan maskawin 400 mitsqal perak." 'Ali berkata, "Ya Rasulullah, aku rela."

'Ali lalu merebahkan diri untuk bersujud sebgai rasa syukur kepada Allah. Setelah selesai, Rasulullah bersabda, "Semoga Allah memberkati kamu berdua, menjadikan nasibmu bahagia, dan melahirkan keturunan yang banyak lagi baik." (Thabaqaat, Ibn Sa'ad [3/16]).

Kehidupan Rumah Tangga Fathimah

Banyak sekali riwayat yang menceritakan betapa beratnya kehidupan rumah-tangga 'Ali ibn Thalib dan Fathimah radhiyallahu 'anhum. Namun Fathimah radhiyallahu 'anha sanggup menunaikan tugas hidupnya yang penuh bakti kepada suami, taqwa kepada Allah dan taat kepada Rasul-Nya.

Pada suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkunjung ke kediaman Fathimah radhiyallahu 'anha. Waktu itu putri beliau tersebut sedang menggiling tepung sambil berlinang air mata. Baju yang dikenakannya terbuat dari kain kasar. Menyaksikan putrinya menangis, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ikut melinangkan air mata. Tak lama kemudian beliau menghibur putrinya: "Fathimah, terimalah kepahitan dunia untuk memperoleh kenikmatan di akhirat kelak."

Riwayat lain mengatakan bahwa pada suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam datang menjenguk Fathimah radhiyallahu 'anha tepat pada saat Fathimah bersama suaminya, 'Ali ibn Abi Thalib sedang bekerja menggiling tepung. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya: "Siapakah di antara kalian berdua yang akan kugantikan?" "Fathimah!" jawab 'Ali. Fathimah lalu berhenti diganti oleh ayahandanya menggiling tepung bersama 'Ali radhiyallahu 'anhu.

Pada satu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersama sejumlah Sahabat berada dalam masjid menunggu kedatangan Bilal ibn Rabbah radhiyallahu 'anhu yang akan mengumandangkan adzan sebagaimana biasa dilakukan sehari-hari. Ketika Bilal terlambat datang oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ditegur dan ditanya apa sebabnya. Bilal menjelaskan: "Aku baru saja datang dari rumah Fathimah. Ia sedang menggiling tepung. al-Hasan, putranya yang masih bayi diletakkan dalam keadaan menangis keras. Kukatakan kepadanya 'Manakah yang lebih baik, aku menolong anakmu itu ataukah aku saja yang menggiling tepung'. Ia menyahut: 'Aku kasihan kepada anakku'. Gilingan itu segera kuambil lalu aku menggiling gandum. Itulah yang membuatku datang terlambat!" Mendengar keterangan Bilal itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata: "Engkau mengasihani dia dan Allah mengasihani dirimu!"

Sebuah riwayat lagi yang berasal dari 'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, beliau mengatakan: Fathimah pernah mengeluh karena tapak tangannya menebal akibat terus menerus memutar gilingan tepung. Ia keluar hendak bertemu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Karena tidak berhasil, ia menemui 'Aisyah radhiyallahu 'anha. Kepadanya diceritakan maksud kedatangannya. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam datang, beliau diberitahu oleh 'Aisyah tentang maksud kedatangan Fathimah yang hendak minta diusahakan seorang pembantu rumah-tangga. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian datang ke rumah kami. Waktu itu kami sedang siap-siap hendak tidur. Kepada kami beliau berkata, "Kuberitahukan kalian tentang sesuatu yang lebih baik daripada yang kalian minta kepadaku. Sambil berbaring ucapkanlah tasbih 33 kali tahmid 33 kali dan takbir 34 kali. Itu lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu yang akan melayani kalian."

Hal-hal tersebut di atas adalah gambaran tentang kehidupan suatu keluarga mulia di tengah-tengah masyarakat Islam. Betapa sederhananya kehidupan pemimpin-pemimpin Islam pada masa itu. Sebuah contoh kehidupan masyarakat yang dibangun oleh Islam dengan prinsip ajaran keluhuran akhlaq.

Putra-putri Fathimah

Fathimah radhiyallahu 'anha satu-satunya yang menjadi sumber keturunan paling mulia dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang dikenal ummat Islam di seluruh dunia. Beliau melahirkan dua orang putra dan dua orang putri. Putra-putranya bernama al-Hasan dan al-Husain radhiyallahu 'anhuma. Sedang putri-putrinya bernama Zainab radhiyallahu 'anha dan Ummu Kaltsum radhiyallahu 'anha. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan gembira sekali menyambut kelahiran cucu-cucunya.

al-Hasan dan al-Husain radhiyallahu 'anhum mempunyai kedudukan tersendiri di dalam hati beliau shallallahu 'alaihi wa sallam. Dua orang cucunya itu beliau asuh sendiri. Kaum Muslimin pada zaman hidupnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyaksikan sendiri betapa besarnya kecintaan beliau kepada al-Hasan dan al-Husain. Beliau menganjurkan supaya orang mencintai dua "putra" beliau itu dan berpegang teguh pada pesan itu.

al-Hasan dan al-Husain meninggalkan jejak yang jauh jangkauannya bagi ummat Islam. al-Husain radhiyallahu 'anhu gugur sebagai syahid menghadapi penindasan dinasti Bani Umayyah. Semangatnya terus berkesinambungan melestarikan dan membangkitkan perjuangan yang tegas dan seru di kalangan ummat Islam menghadapi kedzaliman. Semangat al-Husain merupakan kekuatan penggerak yang luar biasa dahsyatnya sepanjang sejarah.

Putri beliau yang bernama Zainab radhiyallahu 'anha merupakan pahlawan wanita Muslim yang sangat cemerlang dan menonjol sekali peranannya dalam pertempuran di Karbala membela al-Husain radhiyallahu 'anhu. Di Karbala itulah dinasti Bani Umayyah menciptakan tragedi yang menimpa al-Husain beserta segenap anggota keluarganya. al-Husain radhiyallahu 'anhu gugur dan kepalanya diarak sebagai pameran keliling Kufah sampai ke Syam.

Keutamaan Fathimah

Sebagaimana kita ketahui, bahwa Fathimah radhiyallahu 'anha telah mendapat pendidikan langsung dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, sehingga tidak diragukan lagi bahwa Fathimah telah mewarisi sifat-sifat baik ayahnya, seperti akhlaqul karimah (akhlak yang mulia), 'afwu'indal magdirah (pemberian maaf di saat beliau dapat membalas) dan husnuddhon (baik sangka) serta sifat baik Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang lain.

'Aisyah Ummul Mu'minin radhiyallahu 'anha berkata: "Aku tidak pernah melihat seorangpun yang paling menyerupai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sikapnya, berdiri dan duduknya kecuali Fathimah putri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam." Selanjutnya 'Aisyah berkata: "Jika Fathimah datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau berdiri menyambut kedatangannya, dan mempersilahkan duduk di tempat duduknya. Demikian juga jika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam datang kepadanya ia berdiri menyambut kedatangan beliau dan mempersilahkan duduk di tempat duduknya." (Shahih at-Tirmidzi [2/319], bab keutamaan Fathimah; Shahih Bukhari, bab Qiyam ar-Rajul liakhihi, hadits ke 947; Shahih Muslim, kitab Fadhil ash-Shahabah, bab Fadha'il Fathimah).

Fathimah radhiyallahu 'anhu dikenal sebagai seorang yang berakhlaq mulia, sopan santun, tidak sombong tapi rendah hati, walaupun beliau putri seorang Nabi. Beliau ramah serta lemah lembut dalam bertutur kata. Berjiwa besar, lapang dada serta pemaaf dan tidak mempunyai rasa ghil (rasa unek-unek tidak senang kepada orang lain). Sehingga tepat sekali kalau Fathimah mendapat gelar sebagai "Sayyidatu Nisa' Ahlul Jannah" (pemimpin para wanita di surga).

'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: Fathimah datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan berjalan seperti jalannya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengucapkan: "Selamat datang duhai putriku." Kemudian beliau mempersilahkan duduk di sebelah kanan atau kirinya kemudian beliau berbisik kepadanya lalu Fathimah menangis. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya: "Mengapa kamu menangis?" Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berbisik lagi kepadanya. Lalu ia tertawa dan berkata: Aku tidak pernah merasakan bahagia yang paling dekat dengan kesedihan seperti hari ini. Lalu aku ('Aisyah) bertanya kepada Fathimah tentang apa yang dikatakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Fathimah menjawab: "Aku tidak akan menceritakan rahasia Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sehingga beliau wafat." Aku bertanya lagi kepadanya, lalu ia berkata: "(Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berbisik kepadaku): Jibril berbisik kepadaku, al-Qur'an akan menampakkan padaku setiap setahun sekali, dan ia akan menampakkan padaku tahun ini dua kali, aku tidak melihatnya kecuali datangnya ajalku, dan engkau adalah orang pertama dari Ahlul Baitku yang menyusulku." Lalu Fathimah menangis. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidakkah kamu ridha menjadi penghulu semua perempuan ahli surga atau penghulu semua istri orang-orang yang beriman?" Kemudian Fathimah tertawa. (Shahih Bukhari, kitab Awal Penciptaan, bab tanda-tanda kenabian dalam Islam; Musnad Ahmad [6/282], hadits ke 25874).

Beliau juga dikenal jujur dan tidak suka berdusta, sebagaimana kesaksian 'Aisyah radhiyallahu 'anha. Di mana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berkata: "Bertanyalah kepada Fathimah, sebab dia itu tidak suka dusta."

Di samping itu semua, Fathimah sangat sabar dalam menerima segala ujian serta ridha dan tawakkal atas takdir yang dialaminya. Walaupun keadaan ekonominya dalam keadaan serba kekurangan, namun beliau menerimanya dengan senang hati. Itulah di antara sifat-sifat mulia putri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Wafatnya Fathimah

Benar apa yang pernah dibisikkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Fathimah radhiyallahu 'anha, bahwa putrinya itu akan menyusul meninggal tidak lama setelah beliau meninggal. Tepatnya 6 bulan setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meninggal, putrinya itu wafat. Fathimah wafat pada hari Senin malam Selasa, tanggal 3 Ramadhan tahun 11 Hijriyah dan umurnya saat itu 28 tahun.

Berita kematian Fathimah radhiyallahu 'anha cepat sekali meluas ke seluruh Madinah, sehingga tidak lama kemudian para Sahabat sudah berdatangan mereka berduyun-duyun mengunjungi kediaman Imam 'Ali untuk berta'ziah.

Mereka benar-benar merasa sedih, sebab baru enam bulan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meninggalkan mereka, kini putrinya yang menjadi panutan bagi mereka, menyusul ayahnya. Sungguh satu kejadian yang tidak diinginkan oleh mereka sebab Fathimah itu sangat dicintai dan dihormati oleh semua sahabat.

Kemudian, sesuai dengan wasiatnya, maka yang memandikan adalah 'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu dan Asma' binti Umais (istri Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu). Bertindak selaku imam dalam shalatul Jinazah adalah 'Ali ibn Thalib. Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa paman 'Ali ibn Abi Thalib, yaitu Abbas ibn 'Abdul Muththalib radhiyallahu 'anhu yang mengimami. Fathimah radhiyallahu 'anhu kemudian dimakamkan di pemakaman Baqi', tidak jauh dari Masjid Nabawi. Selanjutnya turun dalam kubur saat menguburkan Fathimah adalah 'Ali ibn Abi Thalib, Abbas ibn 'Abdul Muththalib dan Fadhl ibn Abbas.

Demikian Fathimah radhiyallahu 'anha telah berpulang ke rahmatullah. Namun suasana berkabung terus menyelimuti kota Madinah, karena putri Rasulnya telah tiada dan meninggalkan putra-putri yang masih kecil.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala meridhai Fathimah binti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan menempatkan beliau pada kedudukan yang tinggi di sisi Rabb-Nya. Amiin.



24.12.11

Sahabat Nabi : 'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu

Nama Lengkap dan Nasab

'Ali adalah putra dari paman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Abi Thalib ibn 'Abdul Muththalib ibn Hasyim ibn 'Abdu Manaf ibn Qushay. Ibunya bernama Fathimah binti Asad ibn Hasyim ibn 'Abdu Manaf, salah satu wanita yang terdahulu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Jadi 'Ali adalah keturunan Hasyim dari ibu-bapaknya. Beliau lahir pada tahun 602 M. Nama asli 'Ali adalah Haydar yang berarti Singa, nama yang diberikan Abi Thalib karena berharap kelak 'Ali akan menjadi petarung sejati di kalangan suku Quraisy.

Dikemudian hari 'Ali ibn Abi Thalib memang tumbuh menjadi petarung sejati, tokoh yang disegani suku Quraisy dan panglima perang yang tak kenal rasa takut. Beliau dedikasikan seluruh jiwa, raga dan hidupnya untuk membela, mengembangkan ajaran Islam yang dibawa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Sedangkan nama 'Ali adalah pemberian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang berarti tinggi derajatnya di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sedangkan kunyah beliau adalah Abul Hasan dan Abu Turab. Abu Turab yang berarti Bapaknya Tanah adalah panggilan yang paling disenangi 'Ali karena nama kehormatan ini kenang-kenangan berharga dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

'Ali kemudian dijadikan anak angkat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam karena pernikahan beliau dengan Khadijah tidak dikaruniai anak laki-laki sekaligus sebagai wujud terimakasih Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada pamannya, Abi Thalib yang juga pernah mengasuhnya waktu kecil.

Ciri-ciri Fisik 'Ali ibn Abi Thalib

'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu memiliki kulit berwarna sawo matang, bola mata beliau besar dan berwarna kemerah-merahan, berperut besar dan berkepala botak. Berperawakan pendek dan berjanggut lebat. Dada dan kedua pundak beliau padat dan putih, beliau memiliki bulu dada dan bahu yang lebat, berwajah tampan dan memiliki gigi yang bagus, ringan langkah saat berjalan. (Silakan lihat penjelasan tentang sifat jasmani beliau dalam kitab ath-Thabaqatul Kubra karangan Ibn Sa'ad [3/25] dan [27], dan Tarikh ath-Thabari [5/153]).

Putra-putri 'Ali ibn Abi Thalib

Setelah wafatnya Fathimah binti Rasulullah, 'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu menikah dengan beberapa orang wanita lainnya lagi. Menurut catatan sejarah hingga wafatnya 'Ali radhiyallahu 'anhu menikah sampai 9 kali. Tentu saja menurut ketentuan-ketentuan yang tidak bertentangan dengan hukum Islam. Dalam satu periode tidak pernah lebih 4 orang istri.

Wanita pertama yang dinikahi 'Ali radhiyallahu 'anhu sepeninggal Fathimah radhiyallahu 'anha ialah Umamah binti Abi al-Ashiy. Ia anak perempuan iparnya sendiri, Zainab binti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kakak perempuan Fathimah. Pernikahan dengan Umamah radhiyallahu 'anha ini mempunyai sejarah tersendiri yaitu untuk melaksanakan pesan Fathimah radhiyallahu 'anha kepada suaminya sebelum ia wafat. Nampaknya pesan itu didasarkan kasih sayang yang besar dari Umamah kepada putra-putrinya.

Setelah menikah dengan Umamah, 'Ali ibn Abi Thalib menikah lagi dengan Khaulah binti Ja'far ibn Qais. Berturut-turut kemudian Laila binti Mas'ud ibn Khalid, Ummul Banin binti Hazzan ibn Khalid dan Ummu Walad. Istri 'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu yang ke-6 patut disebut secara khusus karena ia tidak lain adalah Asma' binti Umais sahabat terdekat Fathimah radhiyallahu 'anha. Asma' inilah yang mendampingi Fathimah dengan setia dan melayaninya dengan penuh kasih sayang hingga detik-detik terakhir hayatnya.

Istri-istri 'Ali ibn Abi Thalib yang ke-7, ke-8 dan ke-9 ialah ash-Shuhba, Ummu Sa'id binti 'Urwah ibn Mas'ud dan Muhayah binti Imruil Qais. Saat 'Ali ibn Abi Thalib mendapatkan mati syahid, beliau meninggalkan empat orang istri yang merdeka, yaitu: Umamah, Laila, Ummul Banin, dan Asma'. Serta 18 orang hamba sahaya wanita.

Dari 9 istri di luar Fathimah, 'Ali ibn Abi Thalib mempunyai banyak anak. Jumlahnya yang pasti masih menjadi perselisihan pendapat di kalangan para penulis sejarah. al-Mas'udiy dalam bukunya "Murujudz Dzahab" menyebut putra-putri 'Ali radhiyallahu 'anhu semuanya berjumlah 25 orang. Sedangkan dalam buku "Almufid Fil Irsyad" dikatakan 27 orang anak.

Ibn Sa'ad dalam bukunya yang terkenal "Thabaqat" menyebutnya 31 orang anak dengan perincian 14 orang anak lelaki dan 17 orang anak perempuan. Ini termasuk putra-putri 'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu dari istrinya yang pertama.

Keturunannya yang mulia kemudian mengalir dari al-Hasan, al-Husain, Muhammad ibn al-Hanafiyyah, Umar, dan Abbas.

KeIslaman 'Ali ibn Abi Thalib

Konsistensi dan totalitas 'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu dalam mendukung dakwah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam terlihat dari sikapnya sebagai orang yang pertama kali mempercayai wahyu-wahyu Allah Subhanahu wa Ta'ala yang diturunkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Saat itu usia 'Ali baru sekitar 10 tahun.

Sikap seperti ini sungguh sulit pada masa itu mengingat sudut pandang, pemikiran, dan pengetahuan suku Quraisy yang masih dalam masa kegelapan (Jahiliyah). Sikap yang diambil 'Ali juga bukan tanpa resiko. Cercaan, hinaan bahkan ancaman nyawa selalu mengintai.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjadi orangtua dan guru bagi 'Ali. 'Ali memiliki ikatan emosi dan menjadi orang terdekat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam hingga akhirnya pada usia dewasa dijadikan menantu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan mempersunting Fathimah. Ini terjadi setelah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam hijrah ke Madinah. Rasulullah menimbang 'Ali yang paling tepat dalam banyak hal seperti nasab keluarga (Bani Hasyim), sekaligus orang yang pertama kali mempercayai kenabian beliau shallallahu 'alaihi wa sallam setelah Khadijah. Selain itu Rasulullah jelas memahami seluk beluk kepribadian, watak dan karakter 'Ali. Gemblengan secara langsung dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, menjadikan 'Ali seorang pemimpin yang komplit, cerdas, berani, bijaksana dan berpengetahuan luas.

Keberanian 'Ali ibn Abi Thalib terlihat dari kesediannya tidur di kamar Rasulullah untuk mengecoh orang-orang kafir Quraisy yang berencana membunuh Rasulullah dan menggagalkan hijrah beliau. Kaum kafir Quraisy pun terkecoh ketika menjelang Subuh ternyata sosok yang tidur di kamar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah 'Ali. Sementara Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sudah berangkat menuju Madinah bersama Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu.

Dalam Perang Badar (perang pertama dalam sejarah Islam) 'Ali dan Hamzah ibn 'Abdul Muththalib (paman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam) menjadi pahlawan. Pedang 'Ali meluluhlantakkan barisan kaum musyrik sehingga perang ini akhirnya dimenangkan kaum Muslimin. Perang Khandaq juga saksi nyata keberanian 'Ali ibn Abi Thalib ketika memerangi Amr ibn 'Abdi Wud. Dengan satu tebasan pedangnya yang bernama Dzulfikar, Amr ibn 'Abdi Wud terbelah menjadi dua bagian.

Setelah Perjanjian Hudaibiyah yang memuat perjanjian perdamaian antara kaum Muslimin dengan Yahudi, dikemudian hari Yahudi mengkhianati perjanjian tersebut sehingga pecah perang. Kaum Yahudi bertahan di benteng Khaibar yang sangat kokoh, sehingga perang ini dikenal dengan nama Perang Khaibar yang terjadi pada bulan Shafar tahun 7 H. 'Ali ibn Abi Thalib adalah orang yang mampu menghancurkan benteng Khaibar dan berhasil membunuh Marhab lalu menebasnya dengan sekali pukul hingga terbelah menjadi dua bagian.

Semua peperangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menghadapi kaum kafir selalu diikuti 'Ali ibn Abi Thalib. Dan ia menjadi bagian penting dari setiap peperangan tersebut.

Kekhalifahan 'Ali ibn Abi Thalib

Peristiwa pembunuhan terhadap Khalifah 'Utsman ibn Affan radhiyallahu 'anhu mengakibatkan kegentingan di seluruh dunia Islam yang waktu itu sudah membentang sampai ke Persia dan Afrika Utara. Pemberontak yang waktu itu menguasai Madinah tidak mempunyai pilihan lain selain mengangkat 'Ali ibn Abi Thalib sebagai khalifah. Waktu itu 'Ali berusaha menolak, tetapi az-Zubair ibn al-Awwam dan Thalhah ibn Ubaidillah memaksa beliau, sehingga akhirnya 'Ali menerima bai'at mereka. Pembai'atan beliau dilakukan di Masjid Nabawi pada hari Jum'at tanggal 25 Dzulhijah 35 H/4 Juni 656 M. Hal ini menjadikan 'Ali satu-satunya khalifah yang dibai'at secara massal, karena khalifah sebelumnya dipilih melalui cara yang berbeda-beda.

Sebagai khalifah ke-4 yang memerintah selama sekitar 5 tahun, masa pemerintahannya mewarisi kekacauan yang terjadi saat masa pemerintah khalifah sebelumnya, 'Utsman ibn Affan radhiyallahu 'anhu. Untuk pertama kalinya perang saudara antara ummat Muslim terjadi saat masa pemerintahannya, yaitu terjadinya Perang Jamal. 20.000 pasukan pimpinan Khalifah 'Ali melawan 30.000 pasukan pimpinan az-Zubair ibn al-Awwam, Thalhah ibn Ubaidillah, dan Ummul Mu'minin 'Aisyah binti Abu Bakar, janda Rasulullah. Perang tersebut akhirnya dimenangkan oleh pihak 'Ali.

Peristiwa pembunuhan Khalifah 'Utsman ibn Affan yang menurut berbagai kalangan waktu itu kurang dapat diselesaikan karena fitnah yang sudah terlanjur meluas dan sudah diisyaratkan (akan terjadi) oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau masih hidup, dan diperparah oleh hasutan-hasutan para pembangkang yang ada sejak zaman 'Utsman ibn Affan, menyebabkan perpecahan di kalangan kaum Muslim sehingga menyebabkan perang tersebut.

Tidak hanya selesai di situ, konflik berkepanjangan terjadi hingga akhir pemerintahannya. Perang Shiffin, yaitu peperangan antara Khalifah 'Ali dengan Mu'awiyah ibn Abu Sufyan yang semakin melemahkan kekhalifahannya juga berawal dari masalah tersebut.

'Ali ibn Abi Thalib seseorang yang memiliki kecakapan dalam bidang militer dan strategi perang, mengalami kesulitan dalam administrasi negara karena kekacauan luar biasa yang ditinggalkan pemerintahan sebelumnya.

Kekhalifahan 'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berlangsung selama 4 tahun 9 bulan, sejak 19 Dzulhijah tahun 35 Hijriyah hingga 19 Ramadhan tahun 40 Hijriyah. Kemudian al-Hasan ibn 'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu dibai'at menjadi khalifah setelah wafatnya ayahnya.

Pada bulan Rabi'ul Awwal tahun 41 Hijriyah al-Hasan menyerahkan urusan kekhalifahan kepada Mu'awiyah ibn Abu Sufyan radhiyallahu 'anhu (dan kemudian Mu'awiyah menjadi raja pertama dalam sejarah perjalanan pemerintahan Islam).

Keutamaan 'Ali ibn Abi Thalib

Kedudukan 'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam seperti kedudukan Nabi Harun di sisi Nabi Musa.

Dari Sa'id ibn Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam telah menyuruh 'Ali ibn Abi Thalib agar tidak ikut serta dalam Perang Tabuk untuk mewakili beliau mengurus keluarganya. Maka 'Ali berkata, "Wahai Rasulullah, apakah Anda akan membiarkanku bersama-sama dengan para wanita dan anak-anak?" Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam bersabda, "Apakah kamu tidak ridha kalau posisimu di sisiku sama dengan posisi Harun di sisi Musa? Hanya saja memang tidak ada seorang nabi lagi sesudahku." (HR. Bukhari - Muslim dalam kitab Shahihain. Hadits ini diriwayatkan Bukhari [3706] dan Muslim [Fadha'il ash-Shahabah/32] pada bab Min Fadha'ilu 'Ali ibn Abi Thalib. Diriwayatkan juga Imam Ahmad [I/99]).

Beliau juga sangat dikenal dengan kepandaian dan ketepatan dalam memecahkan berbagai masalah yang sangat rumit sekalipun, dan beliau juga seorang yang memiliki `abqariyah qadha'iyah (kejeniusan dalam pemecahan ketetapan hukum) dan dikenal sangat dalam ilmunya. (Lihat 'Aqidah Ahlussunnah fi ash-Shahabah, jilid I, hal. 283).

'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu termasuk dalam golongan al-'Asyarah al-Mubasysyiriina bil Jannah atau 10 orang yang telah mendapat "busyra bil-jannah" (berita gembira sebagai penghuni surga), sebagaimana dinyatakan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak.

Wafatnya 'Ali ibn Abi Thalib

'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu meninggal di usia 63 tahun karena pembunuhan oleh 'Abdurrahman ibn Muljam, seseorang yang berasal dari golongan Khawarij (pembangkang) saat mengimami shalat Subuh di Masjid Kufah, pada tanggal 19 Ramadhan, dan 'Ali menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 21 Ramadhan tahun 40 H/661 M. Kemudian 'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu dimakamkan secara rahasia di Najaf. Semasa hidupnya, 'Ali ibn Abi Thalib telah meriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebanyak 586 hadits (yang diangap shahih, 50).

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala meridhai 'Ali ibn Abi Thalib dan menempatkan beliau pada kedudukan yang tinggi di sisi Rabb-Nya. Amiin.



18.12.11

Ummahatul Mu'minin, Istri-istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam

Dalam menjatuhkan reputasi agama Islam kaum Orientalis dan sarjana-sarjana barat sering menggunakan pernikahan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai bahan serangan mereka. Berbagai tuduhan mereka lancarkan untuk memperlihatkan buruknya kondisi rumahtangga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sehingga orang tak lagi bisa percaya pada ajaran Islam.

Adalah salah jika mereka menganggap Islam dapat dengan mudah dihancurkan. Islam adalah agama yang kuat dan selalu memiliki jawaban untuk segala pertanyaan. Salah satu alasan yang paling masuk akal mengapa orang cenderung menyerang Islam menggunakan rumahtangga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai senjata adalah karena mereka tidak mengenal istri-istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam secara pribadi, dan sebagiannya lagi karena tidak memahami kesulitan hidup yang mereka hadapi.

Ummul Mu'minin, yang memiliki pengertian Ibu kaum Mu'min, merupakan gelar khusus yang hanya disandangkan pada istri-istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka berjumlah dua belas orang dengan spesifikasi yang istimewa pada masing-masing individunya, mereka adalah:

1. Khadijah binti Khuwailid ibn Asad al-Quraisyiyyah al-Asadiyah, istri pertama Rasulullah, dinikahi 15 tahun sebelum kerasulan ketika Nabi Muhammad jejaka 25 tahun, sedangkan Khadijah janda 40 tahun. Sebelumnya Khadijah telah menikah dua kali, pertama dengan Abu Halah ibn Zarah at-Tamimi dan kemudian dengan 'Atiq ibn Aziz at-Tamimi.

Sebelum mereka menikah, Khadijah mempercayakan pengelolaan barang dagangannya kepada pemuda Muhammad. Tertarik akan pribadi dan kejujurannya, Khadijah meminangnya untuk menjadi suaminya. Dari pernikahan itu mereka dikaruniai enam orang anak: Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummi Kaltsum, Fathimah, dan 'Abdullah. Dari keenam putra-putri mereka, hanya Fathimah yang menurunkan keturunan yang sampai sekarang tersebar di seluruh dunia.

Khadijah berperan besar pada masa-masa awal penyebaran Islam. Dia mendedikasikan hartanya bagi kepentingan Islam. Khadijah wafat 2 tahun sebelum Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hijrah, dalam usia 65 tahun. Tahun wafatnya bersamaan dengan wafatnya Abi Thalib ibn 'Abdul Muththalib, paman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

2. Saudah binti Zam'ah, istri kedua Rasulullah, dinikahi setelah Khadijah wafat. Sebelum menikah dengan Rasulullah ia istri Sakran ibn Umar al-Amiri. Suami istri ini termasuk orang-orang pertama yang beriman. Karena dinista kaum Quraisy, mereka hijrah ke Habsyah. Setelah kembali ke Makkah, Sakran meninggal. Saudah hidup sebagai janda lanjut usia, tanpa pelindung; bapaknya sendiri masih musyrik. Atas desakan bibinya, Khaulah binti Hakim, Rasulullah menikahinya. Meskipun berstatus sebagai istri, ia tidak pernah meminta haknya selaku umumnya seorang istri. Dia berkata: "Demi Allah, sesungguhnya saya tidak ingin menikah. Tetapi saya ingin bangkit kelak di hari kiamat sebagai istri Rasulullah." Saudah wafat di akhir masa Khalifah Umar ibn Khaththab radhiyallahu 'anhu.

3. Zainab binti Huzainah ibn 'Abdullah ibn Umar ibn 'Abdi Manaf ibn Hilal ibn Amir ibn Sa'sa'ab al-Hilaliyah. Ia menikah dengan Rasulullah tahun 11 H. Sebelumnya dia pernah menikah dengan 'Abdullah ibn Jahsy, salah satu syuhada Uhud. Pernikahannya dengan Rasulullah tidak berlangsung lama karena wafat kira-kira dua bulan setelah pernikahannya. Ia terkenal dengan sebutan Umm al-Masakin (Ibu kaum miskin), karena senang memberi makan dan sedekah kepada fakir miskin.

4. 'Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq, lahir 2 tahun sebelum kerasulan. Pernikahannya dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menghasilkan keturunan. Ia banyak mendengar al-Qur'an dan hadits langsung dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Melalui 'Aisyah umat Islam mengetahui bagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjalankan kewajibannya sebagai suami, sampai hal-hal yang sangat pribadi yang patut diketahui umat Islam untuk diteladani. 'Aisyah juga dikenal sebagai orang yang cerdas, banyak mengetahui hukum-hukum dan ilmu fara'id (hukum pembagian harta waris) yang rumit. 'Aisyah wafat pada tahun 47 atau 48 H. Darinya para ulama menerima 2.210 hadis, termasuk hadis-hadis pergaulan suami-istri yang tidak akan diterima dari perawi lain.

5. Juariyah binti al-Harits, dinikahi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam enam tahun setelah hijrah. Pertemuannya dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terjadi ketika Bani Mustaliq menyerang kaum Muslimin. Juariyah ikut di dalamnya. Serangan Bani Mustaliq dapat dipatahkan, Juariyah menjadi tawanan Qais ibn Sabit. Ia akan dibebaskan dengan syarat membayar tebusan. Oleh karena tidak memiliki uang tebusan, ia menghadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengadukan nasibnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Apakah engkau menginginkan agar aku membayar tebusanmu, kemudian aku menikahimu?" Juariyah setuju dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menikahinya. Pernikahan mereka membuat hubungan kaum Muslim dengan Bani Mustaliq menjadi erat. Juariyah wafat tahun 56 H.

6. Shafiyah binti Huyay ibn Akhtab dinikahi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam beberapa saat setelah Perang Khaibar. Shafiyah adalah putri raja dan suaminya juga bangsawan Khaibar yang memiliki benteng Qumus, beragama Yahudi, bernama Kinanah ibn Rabi'. Setelah terjadi perang Khaibar, orang-orang Khaibar menjadi tawanan, termasuk Shafiyah. Sebagai bekas permaisuri raja, keadaan itu teramat menyedihkan. Kemudian ia masuk Islam dan bersedia dinikahi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Setelah menjadi Ummul Mu'minin, ia kembali menduduki tempat kehormatannya. Pernikahannya dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membuat orang-orang Khaibar ikut tergerak untuk masuk Islam. Shafiyah wafat sekitar tahun 50 H.

7. Ummu Salamah, nama aslinya adalah Hindun binti Abu Ummayah ibn Mughirah ibn 'Abdullah ibn 'Amr ibn Mahzum, dinikahi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada tahun 2 H. Sebelum dinikahi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ia pernah menikah dengan 'Abdullah ibn Asad al-Mudirah dan memiliki anak bernama Salamah. Itu sebabnya ia dikenal dengan nama Ummu Salamah (Ibu Salamah).

Suaminya ikut perang Uhud dan sempat terluka. Dalam peperangan dengan Bani Asad dia meninggal dunia. Beberapa tahun setelah pernikahannya dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Ummu Salamah mendampingi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam penakhlukan Makkah, perang dengan orang Tha'if, perang melawan Bani Hawazin, dan perang melawan Bani Saqif. Ummu Salamah juga dikenal sebagai perawi hadits. Dia wafat sekitar tahun 59 atau 61 H.

8. Ramlah binti Abu Sufyan. Sebelum masuk Islam ia menikah dengan Ubaidillah ibn Yahsi al-Asadi, sepupu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ramlah dan suaminya masuk Islam, sementara orang tua mereka tetap musyrik bahkan memusuhinya. Karena tekanan dari kaum musyrik Quraisy Makkah, Ramlah beserta suaminya hijrah ke Habsyah. Di tengah perjalanan hijrah yang sulit itu, Ramlah melahirkan, sementara suaminya kembali murtad. Meskipun sendirian dan menderita diperantauan Ramlah tetap teguh mempertahankan keimanannya.

Kabar penderitaannya itu sampai kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Melalui surat yang disampaikan Raja Najasyi, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meminangnya. Ramlah menerima pinangan itu dan menunjuk Kalid ibn Sa'id ibn As ibn Umayah sebagai walinya. Ketika itu dia tetap tinggal di Habsyah karena pertimbangan keamanan.

Sesudah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hijrah ke Madinah, beliau memerintahkan para Sahabat untuk mencari umat Islam yang terpencar-pencar di pengungsian termasuk yang masih ada di Habsyah. Ramlah ikut bersama mereka kembali ke Madinah dan untuk pertama kalinya bertemu dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ramlah wafat tahun 44 H di masa pemerintahan adiknya, Mu'awiyah ibn Abu Sufyan radhiyallahu 'anhu.

9. Hafshah binti Umar ibn Khaththab, lahir 5 tahun sebelum kerasulan. Pertama kali dia menikah dengan Hunain ibn Hufazah, salah seorang Sahabat yang ikut hijrah ke Habsyah dan ikut Perang Uhud. Ia wafat tahun 3 H. Setelah menjanda beberapa tahun Hafshah dinikahi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Kehadirannya di tengah-tengah rumahtangga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sempat menimbulkan konflik. Ketika hadir Mariyah al-Qibtiyyah, Hafshah cemburu berat. Ia mengajak istri-istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang lain untuk mempengaruhi suami mereka agar membenci Mariyah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sempat menjauhi Mariyah hingga turun ayat 1 Surat at-Tahrim menegur beliau.

Setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam wafat, atas usul Umar ibn Khaththab radhiyallahu 'anhu, Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu mengumpulkan naskah al-Qur'an yang tadinya berserakan baik di catatan-catatan pribadinya maupun hafalan para Sahabat. Naskah al-Qur'an lengkap pertama yang dikenal dengan 'Mushaf Abu Bakar' itu disimpan di rumah Hafshah. Naskah tersebut baru dikeluarkan pada zaman Khalifah 'Utsman ibn 'Affan radhiyallahu 'anhu untuk diperbanyak.

10. Maimunah binti al-Harits adalah seorang janda yang dinikahi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam beberapa saat setelah Fath Makkah. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam beserta kaum Muslim memasuki kota Makkah, kaum musyrik yang tidak ingin bersahabat menyingkir keluar Makkah. Akan tetapi tiba-tiba datang Maimunah dengan mengendarai unta sambil berteriak-teriak: "Unta ini beserta penunggangnya dipersembahkan untuk Allah dan Rasul-Nya." Perbuatan Maimunah tersebut mengundang cemoohan khalayak ramai, karena belum tentu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mau. 'Abbas memberitahukan kemauan Maimunah ini kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika berita itu sampai kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliaupun menerima kemauan Maimunah dan menikahinya. Hal ini beliau lakukan semata-mata untuk menghindarkan Maimunah dari cemoohan dan rasa putus asa. Maimunah wafat pada tahun 15 H.

11. Zainab binti Jahsy ibn Rubab ibn Ya'mar ibn Sabrah ibn Murrah ibn Kasir ibn Ghanam ibn Daudun ibn Asad ibn Khuzaimah. Ibunya bernama Umainah binti 'Abdul Muththalib ibn Hasyim; jadi masih saudara sepupu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Sebelumnya Zainab adalah istri Zaid ibn Haritsah, anak angkat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ia dinikahi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tahun 3 H. Pernikahannya ini sekaligus menghapus pandangan masyarakat Arab ketika itu yang menyamakan status anak angkat sama dengan anak kandung, termasuk pencantuman nama nasab bapak angkat, sehingga bekas istri anak angkat tidak boleh dinikahi bapak angkat.

Zainab wafat tahun 20 H. Sebelum wafat ia berkata: "Aku telah menyediakan kain kafan untukku. Umar akan mengirimkannya untukku. Oleh karena itu saya minta, salah satunya diberikan pada yang memerlukannya. Bila masih ada hak-hakku supaya disedekahkan kepada yang memerlukannya."

12. Mariyah binti Syam'un al-Qibtiyyah, ibunya berdarah Romawi. Ia lahir dan dibesarkan di Ansuna suatu desa sebelah timur Sungai Nil. Pada masa remajanya ia tinggal di istana Raja Muqauqis Mesir sebagai pelayan istana. Ketika Habib ibn Abu Balta'ah diutus menyampaikan surat dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Raja Muqauqis, sebetulnya raja mengakui kerasulan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam tetapi takut akan kehilangan kewibawaannya di hadapan rakyatnya, yang berarti pula akan kehilangan mahkotanya. Oleh karena itu ia membalas surat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan penuh penghormatan sambil mengirimkan Mariyah dan saudaranya, Sirin, serta 1.000 misqal mas, 20 stel pakaian tenunan Mesir, madu lebah, kayu cendana, minyak kesturi, keledai lengkap dengan pelananya dan seekor himar putih. Mereka tiba di Madinah pada tahun 7 H.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menikahi Mariyah, sementara adiknya, Sirin, dinikahkan dengan penyair Hassan ibn Tsabit. Kehadiran Mariyah di antara istri-istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membuat mereka cemburu, terutama Hafshah dan 'Aisyah, lebih-lebih setelah Mariyah hamil dan melahirkan Ibrahim (wafat pada usia satu setengah tahun). Mariyah wafat pada tahun 16 H pada masa Khalifah Umar ibn Khaththab radhiyallahu 'anhu.

"Ya Allah, wahai Tuhanku, muliakan oleh-Mu akan Muhammad, Nabi yang tidak pandai menulis dan membaca. Dan muliakan pulalah kiranya akan isteri-isterinya, ibu segala orang yang Mu'min, akan keturunannya dan segala ahli baitnya, sebagaimana engkau telah memuliakan Ibrahim dan keluarga Ibrahim diserata alam. Bahwasanya Engkau, wahai Tuhanku, sangat terpuji dan sangat mulia."

* Sumber: Ensiklopedia Islam Indonesia, Penerbit Djambatan



17.12.11

Ahlul-Bait Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam

Definisi Ahlul-Bait

Secara bahasa kata Ahlul-Bait artinya penghuni rumah dan pengertian secara bahasa Ahlul-Bait Nabi adalah para istri Nabi, anak perempuan Nabi serta kerabat Nabi.

Sedangkan menurut istilah, para 'Ulama Ahlussunnah telah sepakat tentang Ahlul-Bait bahwa mereka adalah keluarga Nabi yang diharamkan menerima zakat, seperti yang dijelaskan dalam hadits riwayat Imam Muslim dari Zaid ibn Arqam radhiyallahu 'anhu tatkala Husain ibn Sibrah bertanya kepadanya tentang Ahlul-Bait.

Adapun hadits lengkapnya adalah sebagai berikut: Yazid ibn Hayyan berkata: Aku pergi ke Zaid ibn Arqam bersama Husain ibn Sabrah dan Umar ibn Muslim. Setelah kami duduk, Husain berkata kepada Zaid ibn Arqam, "Hai Zaid, engkau telah memperoleh kebaikan yang banyak. Engkau melihat Rasulullah, engkau mendengar sabda beliau, engkau bertempur menyertai beliau, dan engkau telah shalat dengan diimami oleh beliau. Sungguh engkau telah memperoleh kebaikan yang banyak. Karena itu, sampaikan kepada kami hai Zaid, apa yang engkau dengar dari Rasulullah!" Kata Zaid ibn Arqam, "Hai kemenakanku, demi Allah, aku ini sudah tua dan ajalku sudah semakin dekat. Aku sudah lupa sebagian dari apa yang aku dengar dari Rasulullah. Apa yang bisa aku sampaikan kepadamu terimalah dan apa yang tidak bisa aku sampaikan kepadamu janganlah kamu memaksaku untuk menyampaikannya." Kemudian Zaid ibn Arqam mengatakan, "Pada suatu hari Rasulullah berdiri dengan berpidato di suatu tempat air yang disebut Khumm antara Makkah dan Madinah. Ia memuji Allah, kemudian menyampaikan nasihat dan peringatan, lalu beliau bersabda, 'Ketahuilah saudara-saudara bahwa aku adalah manusia seperti kalian. Sebentar lagi utusan Tuhanku (Malaikat pencabut nyawa) akan datang lalu dia diperkenankan. Aku akan meninggalkan untuk kalian dua hal yang berat, yaitu: 1) al-Qur'an yang berisi petunjuk dan cahaya, karena itu laksanakanlah isi al-Qur'an dan pegangilah. (Beliau mendorong dan mengimbau pengamalan al-Qur'an). 2) Ahlul-Baitku. Aku ingatkan kalian agar berpedoman dengan hukum Allah dalam memperlakukan keluargaku (tiga kali)'." Husain bertanya kepada Zaid ibn Arqam, "Hai Zaid, siapa Ahlul-Bait (keluarga) Rasulullah itu? Bukankah istri-istri beliau Ahlul-Baitnya?" Kata Zaid ibn Arqam, "Istri-istri beliau adalah Ahlul-Baitnya, tetapi Ahlul-Bait beliau adalah orang yang diharamkan menerima zakat sampai sepeninggal beliau." Kata Husain, "Siapa mereka itu?" Kata Zaid ibn Arqam, "Mereka adalah keluarga 'Ali, keluarga 'Aqil, keluarga Ja'far dan keluarga 'Abbas." Kata Husain, "Apakah mereka semua diharamkan menerima zakat?" Jawab Zaid, "Ya." (Shahih Muslim [7/122-123]).

Dari sini jelas penggunaan istilah Ahlul-Bait adalah istilah syar'i dan bermakna istri dan kerabat dekat beliau, mereka terdiri dari:
- Keluarga 'Ali, keluarga Ja'far, keluarga 'Aqil, keluarga 'Abbas (Kitab Taqrib Baina Ahlussunnah was-Syiah oleh Dr. Nashir ibn 'Abdillah ibn 'Ali al-Qafary [1/102] dan Syarh 'Aqidah Washitiyah Khalid ibn 'Abdillah al-Muslikh [189], Majmu' Fatawa [28/492])
- Keluarga Bani Harits ibn 'Abdul Muththalib, serta para istri beliau dan anak anak mereka. (Kitab Minhajus Sunnah an-Nabawiyah [7/395]).

Memang ada perselisihan, apakah para istri Nabi termasuk Ahlul-Bait atau bukan? Dan yang jelas bahwa arti Ahlu menurut bahasa tidak mengeluarkan para istri Nabi untuk masuk ke Ahlul-Bait.

Demikian juga penggunaan kata Ahlu di dalam al-Qur'an dan Hadits tidak mengeluarkan mereka dari lingkup istilah tersebut, yaitu Ahlul-Bait. Dan juga berdasarkan keumuman ayat al-Qur'an, serta manthuq (arti tersurat) Hadits yang menerangkan tentang anjuran membaca shalawat kepada Nabi, istri dan keluarga beliau.

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: "Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta'atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan rijs dari kamu, wahai Ahlul-Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." (QS. al-Ahzab: 33).

Ayat ini menunjukan para istri Nabi termasuk Ahlul-Bait. Jika tidak, maka tak ada faidahnya mereka disebutkan dalam ayat ini dan karena semua istri Nabi adalah termasuk Ahlul-Bait sesuai dengan nash al-Qur'an, maka mereka mempunyai hak yang sama dengan hak-hak Ahlul-Bait yang lain.

Berkata Ibn Katsir rahimahullah: "Orang yang memahami al-Qur'an tidak ragu lagi bahwa para istri Nabi masuk ke dalam Ahlul-Bait dan ini merupakan pendapat Imam al-Qurtubi, Ibn Hajar, Ibn Qoyim dan yang lainnya. (Kitab Taqrib Baina Ahlussunnah was-Syiah oleh Dr. Nashir ibn 'Abdillah ibn 'Ali al-Qafary [1/103-105]).

Ibn Taimiyah rahimahullah berkata: "Yang benar (dalam masalah ini) bahwa para istri Nabi adalah termasuk Ahlul-Bait. Karena telah ada dalam hadits yang diriwayatkan di Shahih Bukhari yang menjelaskan bahwa Nabi mengajari lafadz bershalawat kepadanya dengan lafadz: 'Ya Allah berilah keselamatan atas Muhammad dan istri-istrinya serta anak keturunannya'." (Riwayat al-Bukhari pada kitab Syarh Fathul Bari [6/408]).

Istilah Ahlul-Bait juga merupakan istilah syar'i yang dipakai dalam al-Qur'an maupun as-Sunnah dan bukan merupakan istilah bid'ah.

"Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan rijs dari kamu, wahai Ahlul-Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." (QS. al-Ahzab: 33).

Berkata Syaikh Abdurrahman as-Sa'di rahimahullah dalam kitab tafsir Karimir Rahman [2/916]: "Makna rijs adalah (Ahlul-Bait dijauhkan) segala macam gangguan, kejelekan dan perbuatan keji. Allah berfirman memerintah para istri Nabi: "Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat Allah dan hikmah (Sunnah Nabimu)." (QS. al-Ahzab: 34)."

Ibn Katsir rahimahullah berkata: "...yaitu kerjakanlah dengan apa yang diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya berupa al-Qur'an dan as-Sunnah di rumah-rumah kalian."

Berkata Ibn Qatadah rahimahullah dalam tafsir al-Qur'an al-Adzim [3/635]: "Dan ingatlah dengan nikmat yang di khususkan kepada kalian dari sekalian manusia yaitu berupa wahyu yang turun ke rumah-rumah kalian tanpa yang lain."

Dari pembahasan di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan Ahlul-Bait adalah sebagai berikut:
1. Keluarga 'Ali ibn Abi Thalib, yaitu mencakup Sahabat 'Ali sendiri, Fathimah (putri Rasul), Hasan dan Husain beserta anak turunannya.
2. Keluarga 'Aqil ibn Abi Thalib, yaitu mencakup 'Aqil sendiri dan anaknya yaitu Muslim ibn 'Aqil beserta anak cucunya.
3. Keluarga Ja'far ibn Abi Thalib, yaitu mencakup Ja'far sendiri berikut anak-anaknya yaitu 'Abdullah, Aus dan Muhammad.
4. Keluarga 'Abbas ibn 'Abdul Muththalib, yaitu mencakup 'Abbas sendiri dan sepuluh putranya yaitu 'Abdullah, 'Abdurrahman, Qutsam, al-Harits, Ma'bad, Katsir, Aus, Tamam, dan putri-putri beliau juga termasuk di dalamnya.
5. Keluarga Harits ibn 'Abdul Muththalib, yaitu mencakup Harits sendiri dan anak-anaknya.
6. Keluarga Hamzah ibn 'Abdul Muththalib, yaitu mencakup Hamzah sendiri dan tiga orang anaknya yaitu Ya'la, 'Imarah, dan Umamah.
7. Para istri Nabi tanpa kecuali.

Kedudukan Ahlul-Bait

Dalam keyakinan Ahlussunnah wal-Jama'ah, mencintai Ahlul-Bait Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, sekaligus memberikan penghormatan khusus kepada mereka merupakan suatu keharusan. Karena mencintai keluarga Nabi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari mencintai Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Dalil kewajiban mencintai,
memuliakan Ahlul-Bait adalah firman Allah: Katakanlah: "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan." (QS. asy-Syuura: 23).

Ayat di atas ini lazim dikenal dengan nama ayat mawaddah, memberi peringatan kepada kaum Muslimin, bahwa cinta kasih kepada Ahlu-Bait Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah diminta oleh beliau.

Sesuatu yang diminta oleh beliau shallallahu 'alaihi wa sallam, hukumnya wajib, sebab permintaan dalam hal seperti itu sama artinya dengan perintah yang diajukan dengan rendah hati, kata-kata sopan dan halus. Selain itu berarti pula, permintaan beliau mengenai itu mempunyai kedudukan hukum kuat, karena telah menjadi ketetapan yang difirmankan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

al-Muqrizi menafsirkan ayat al-mawaddah di atas sebagai berikut: "Aku tidak minta imbalan apa pun kepada kalian atas agama yang kubawakan kepada kalian itu, kecuali agar kalian berkasih-sayang kepada keluargaku (keluarga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam)."

Abu al-'Aliyah mengatakan bahwa Sa'id ibn Jubair radhiyallahu 'anhu menafsirkan kata al-qurba dalam ayat tersebut ialah kerabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Abu Ishaq mengatakan, ketika ia menanyakan makna al-qurba dalam ayat itu kepada 'Amr ibn Syu'aib ia beroleh jawaban, bahwa yang dimaksud ialah kerabat Rasulallah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Imam Zamakhsyari rahimahullah di dalam al-Kasysyaf berkaitan dengan penafsirannya mengenai ayat al-mawaddah itu, ia mengetengahkan sebuah hadits panjang, yang kemudian dikutip oleh Imam al-Fakhrurrazi rahimahullah di dalam al-Kabir. Hadits itu menuturkan bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan ummatnya mencintai keluarga (aal) Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam: "Barangsiapa wafat dalam keadaan mencintai keluarga (aal) Muhammad ia mati syahid. Sungguhlah, siapa yang wafat dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad, orang itu beroleh ampunan atas dosa-dosanya.. -dan seterusnya."

Tuntunan dan teladan terhadap Ahlul-Bait telah dicontohkan oleh para Sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri. Di antara mereka terdapat rasa cinta yang mendalam, antara satu dengan lainnya saling menghargai dan menghormati.

Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu berkata, "Sungguh kerabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lebih aku cintai daripada kerabatku sendiri." (HR. al-Bukhari).

Dari Ibn Umar radhiyallahu 'anhu dari Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, beliau berkata, "Perhatikanlah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam pada Ahlul-Baitnya." (HR. al-Bukhari).

Dan tentunya kecintaan dan penghormatan yang diberikan kepada Ahlul-Bait Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah secara berimbang. Tetap berpedoman pada prinsip tawassuth, tawazun dan i'tidal, jauh dari fanatisme buta.

Wallahu a'lam bish-shawab.

"Ya Allah, wahai Tuhanku, muliakan oleh-Mu akan Muhammad, Nabi yang tidak pandai menulis dan membaca. Dan muliakan pulalah kiranya akan isteri-isterinya, ibu segala orang yang Mu'min, akan keturunannya dan segala ahli baitnya, sebagaimana engkau telah memuliakan Ibrahim dan keluarga Ibrahim diserata alam. Bahwasanya Engkau, wahai Tuhanku, sangat terpuji dan sangat mulia."

* Sumber artikel:
1. NU Online; Mencintai Keluarga dan Sahabat Nabi, Penulis: KH. Muhyiddin Abdusshomad, Pengasuh Pondok Pesantren Nuris
2. ForumKami.net; Tahukah anda siapakah itu Ahlul-Bait?



FeedCount

Cari artikel di blog ini

Loading

Ikuti via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Followers

Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template