31.12.11

Tabi'in : Syaikhul Bashrah, al-Hasan ibn Yasar rahimahullah

Syaikh al-Hasan al-Bashri rahimahullah dilahirkan pada 2 tahun terakhir dari masa kekhalifahan Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu 'anhu (tahun 21 H/632 M). Asal keluarganya sebenarnya dari Sabi Misan, suatu desa yang terletak antara Bashrah dan Wasith. Namun kemudian mereka pindah ke Madinah.

Ayah al-Hasan, Yasar adalah maula Zaid ibn Tsabit al-Anshary radhiyallahu 'anhu dan ibunya, Khairah adalah maula Ummu Salamah radhiyallahu 'anha, istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Ummu Salamah sering mengutus maulanya tersebut untuk suatu keperluan sehingga beliaulah yang menyusui al-Hasan yang waktu itu masih bayi.

Maka masyarakat waktu itupun menduga bahwa ilmu dan hikmah yang diberikan kepada al-Hasan disebabkan barakah susuan tersebut. al-Hasan tumbuh di Madinah di lingkungan rumah Ummahatul Mu'minin dan bertemu dengan para Sahabat Nabi serta mendengar ilmu dari mereka. Beliau pernah bertemu dengan tidak kurang dari 70 orang Sahabat yang ikut dalam perang Badar, dan 300 orang Sahabat lainnya.

Ketika al-Hasan telah berumur 14 tahun, dan memasuki usia remaja, beliau pindah bersama orangtuanya ke Bashrah dan menetap di sana. Dan dari sinilah kemudian di akhir nama beliau dicantumkan "al-Bashri", yaitu nisbah kepada kota Bashrah sehingga dikenal banyak orang dengan sebutan al-Hasan al-Bashri.

Waktu al-Hasan pindah ke sana, kota Bashrah merupakan benteng ilmu terbesar di negeri Islam. Dan masjidnya yang agung penuh dengan pembesar-pembesar Sahabat dan Tabi'in yang pindah ke sana. Kajian-kajian ilmu dengan aneka ragamnya meramaikan ruangan masjid dan mushallanya.

al-Hasan kemudian mengikuti secara khusus pengajian yang dipandu 'Abdullah ibn Abbas radhiyallahu 'anhu. Darinya beliau belajar tafsir, hadits, qira'at, fiqh, bahasa, sastra dan lain-lainnya. Dan beliau juga belajar kepada 'Ulama selainnya. Sehingga beliau menjadi seorang 'alim yang sempurna, dan ahli fiqh yang tsiqah. Maka layaklah jika beliau digelari dengan Syaikhul Bashrah dan Sayyidul Abidin. Para Sahabat Nabi yang hidup di zaman itu pun mengakui akan kedalaman ilmu beliau.

Syaikh asy-Sya'bi rahimahullah berkata pada seseorang yang hendak ke Bashrah, "Jika anda melihat seseorang yang tertampan dari penduduk Bashrah dan yang paling disegani oleh mereka, maka dia-lah al-Hasan (al-Bashri), maka sampaikan salamku kepadanya."

Syaikh al-Hasan al-Bashri rahimahullah juga dikenal sebagai seseorang yang sangat pemberani. Dan dulu, jika al-Muhallab ibn Abi Shafrah hendak memerangi orang-orang musyrik, maka beliau-lah yang dikedepankan.

Syaikh Malik ibn Dinar rahimahullah bercerita tentang orang-orang yang memiliki pengaruh di hati-hati (manusia): "Iya, demi Allah, sungguh kami melihat mereka itu adalah al-Hasan, Sa'id ibn Jubair, dan orang-orang yang seperti mereka. Allah telah menghidupkan sejumlah besar manusia dengan sebab perkataan salah seorang dari mereka."

Syaikh al-A'masy rahimahullah berkata: "Dulu apabila al-Hasan disebut di sisi Abu Ja'far Muhammad ibn 'Ali ibn al-Husain -yakni al-Baqir- beliaupun berkata: "Dialah (al-Hasan) orang yang ucapannya menyerupai perkataan para Nabi."

Imam al-Ghazali rahimahullah berkata, "al-Hasan al-Bashri adalah orang yang ucapannya lebih mirip dengan ucapan para Nabi, dan cara hidupnya mendekati cara hidup para Sahabat."

Syaikh Abu Burdah ibn Abu Musa al-Asy'ari rahimahullah berkata: "Aku belum pernah melihat seseorang yang menyerupai para Sahabat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam selain beliau (al-Hasan)."

Syaikh Muhammad ibn Sa'd rahimahullah berkata, "al-Hasan al-Bashri memiliki banyak kebaikan, 'dlim (orang yang amat luas pengetahuannya), tinggi derajatnya, seorang pakar fiqh, ahli hujjah, dapat dipercaya, seorang 'ibid (orang yang banyak beribadah kepada Allah), luas wawasan ilmunya, fasih, dan tampan."

Syaikh Khalid ibn Shafwan berkata, "Ketika saya bertemu dengan Maslamah ibn 'Abdul Malik di Hairah (negeri tua di Iraq, 3 mil dari Kufah, namun sudah punah dan sekarang sudah tidak ada bekasnya), ia berkata, "Kabarilah aku wahai Khalid, tentang al-Hasan al-Bashri, karena aku kira anda mengetahui sesuatu darinya yang tidak diketahui orang lain." Maka aku berkata, "Semoga Allah memberi kebaikan kepada Amir al-Mu'minin. Aku adalah orang yang paling baik yang menyampaikan beritanya kepada anda secara yakin karena aku adalah tetangganya, sering hadir di majelisnya, dan banyak tahu tentangnya." Maka dia berkata, "Coba ceritakan apa yang anda ketahui." Lalu aku berkata, "Sesungguhnya dia adalah seseorang yang rahasianya seperti dzahirnya dan ucapannya seperti perbuatan. Bila dia menyuruh orang berbuat ma'ruf, dia adalah orang pertama yang mengerjakannya. Bila dia melarang kemungkaran, dia adalah orang pertama yang meninggalkannya. Sungguh aku melihatnya sebagai orang yang menjaga diri dari pemberian orang, zuhud dari apa yang dimiliki orang-orang. Aku melihat orang-orang membutuhkannya dan meminta apa yang dia miliki." Lalu Maslamah berkata, "Cukup wahai Khalid, cukup wahai Khalid. Bagaimana mungkin suatu kaum dapat tersesat sementara orang seperti dia ada di antara mereka."

Syaikh al-Hasan al-Bashri rahimahullah adalah sosok Tabi'in yang senantiasa bersedih karena banyaknya mengingat akhirat, akan tetapi tidaklah hal ini sampai membawa beliau kepada akhlak orang-orang a'jam (asing) sebagaimana yang tersebar di zamannya.

Beliau adalah orang yang sederhana dalam hal makanan, dan mengenakan pakaian yang mudah bagi beliau.

Syaikh Abir Hilal rahimahullah mengatakan, "Ketika kami mengunjungi al-Hasan al-Bashri, sering kali kami mendapati periuknya mengeluarkan aroma masakan yang lezat."

Beliau lebih suka buah-buahan. Mungkin beliau menganggap buah-buahan sebagai nawafil (suplemen penting) dalam makanan. Qatadah berkata, "Kami mengunjungi Hasan al-Bashri ketika beliau sedang tidur. Di sekitar kepalanya terdapat keranjang. Kami melihat keranjang itu, dan ternyata penuh dengan roti dan buah-buahan. Kami pun menyantapnya. Setelah beliau terbangun dan melihat kami. Beliau terlihat senang dan tersenyum sambil mengutip ayat al-Qur'an, 'Tidak ada halangan makan di rumah kawan-kawanmu'." (QS. an-Nur: 61).

Beliau juga pandai memilih busana yang serasi. Yunus melukiskan keadaan tersebut dengan mengatakan, "Di musim dingin, al-Hasan al-Bashri memakai pakaian luar berbentuk selendang, baju (yang biasa dipakai para 'Ulama) suku Kurdi, dan serban hitam. Di musim panas beliau memakai sarung yang terbuat dari kain linen, baju, dan burd (selimut bergaris) berbentuk selendang."

Syaikh Salam ibn Miskin rahimahullah berkata, "Pada diri al-Hasan al-Bashri, aku melihat jubah seperti emas yang sangat serasi dengan dirinya."

Syaikh al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah ditanya tentang pakaian yang paling disukainya, maka beliau menjawab: "Yang paling tebal, paling kasar (tidak licin) dan paling rendah menurut manusia." Namun bukan berarti beliau membenarkan perbuatan sebagian ahlul ibadah dalam cara berpakaian mereka yang buruk, bahkan al-Hasan pernah mengingkarinya. Sungguh pernah disebutkan kepadanya tentang orang-orang yang memakai baju shuf (wol, bulu domba) maka beliau berkata: "Kenapa mereka itu? Mudah-mudahan sebagian mereka kehilangan sebagian yang lain mereka itu menyembunyikan kesombongan di dalam hati-hati mereka."

Perabotan rumahnya sangat sederhana. Syaikh Mathar al-Warraq rahimahullah berkata, "Kami pernah menjenguk al-Hasan al-Bashri waktu sakit. Di rumahnya tak ada perabotan rumah tangga yang berharga. Tak ada kasur, karpet, bantal, ataupun tikar. Yang ada hanya ranjang terbuat dari tikar tempat beliau berbaring."

Para 'Ulama sepakat memujinya, baik pada masa ketika beliau masih hidup maupun sesudah beliau wafat. Mereka suka mengutip berita-berita yang berkaitan dengan kehidupannya.

Syaikh Abu Bakar al-Hadzali rahimahullah berkata: as-Saffah berkata kepada ku, "Dengan cara apa al-Hasan al-Bashri bisa meraih apa yang beliau dapatkan sekarang?" Aku menjawab, "Dengan menghafal al-Qur'an, padahal usianya baru 12 tahun. Beliau tidak beralih dari satu surat ke surat lainnya sampai beliau mengerti tafsirnya, dan mengapa surat itu diturunkan. Beliau tidak pernah menilap satu dirham pun dalam berniaga. Beliau tidak memegang jabatan. Beliau tidak pernah menyuruh seseorang berbuat baik kecuali beliau sendiri melakukannya, dan tidak melarang orang berbuat buruk kecuali beliau sendiri menjauhinya."

Selama hidupnya Syaikh al-Hasan al-Bashri meriwayatkan hadits dari 'Utsman ibn Affan, 'Ali ibn Abi Thalib, Abu Musa al-Asy'ari, 'Abdullah ibn Umar, 'Abdullah ibn Abbas, Annas ibn Malik dan Sahabat-sahabat Nabi lainnya. Kemudian hadits-haditsnya diriwayatkan oleh Jarir ibn Abi Hazim, Humail ath-Thawil, Yazid ibn Abi Maryam, Abu al-Asyhab, Samma' ibn Harb, Atha' ibn Abi as-Saib, Hisyam ibn Hasan dan lain-lain.

Wafatnya al-Hasan al-Bashri

Syaikh Aban ibn Mujbir rahimahullah berkata, "Ketika ajal hampir menjemput al-Hasan al-Bashri, banyak sahabat menjenguknya dan mengatakan, "Wahai Abu Sa'id, beri kami bekal dengan beberapa patah kata yang bermanfaat untuk kami." al-Hasan al-Bashri berkata, "Aku membekalimu dengan tiga patah kata, setelah itu tinggalkan aku sendiri. Kepada semua yang dilarang, jadilah kamu orang yang paling menjauhinya. Kepada semua yang diperintahkan, jadilah kamu orang yang paling menekuninya. Ketahuilah bahwa langkahmu hanya dua: langkah yang akan menguntungkanmu dan langkah yang akan mencelakakanmu. Perhatikan dan pikirkanlah, ke mana kamu akan pergi melangkah di pagi hari dan di sore hari."

Syaikh Salih al-Mari rahimahullah berkata: Aku mengunjungi al-Hasan al-Bashri ketika ajal hendak menjemputnya. Beliau banyak mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Anaknya berkata kepadanya, "Orang seperti ayah masih mengucap istrijha karena akan meninggalkan kesenangan dunia?" al-Hasan al-Bashri menjawab, "Wahai anakku, aku mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji'un karena menyesali diriku yang tidak pernah mendapatkan musibah seperti ini."

Syaikh al-Hasan al-Bashri rahimahullah wafat pada malam Jum'at, awal bulan Rajab pada tahun 110 H, dan umur beliau sekitar 88 tahun sebagaimana telah dikatakan oleh putra beliau.

Ribuan orang melayat jenazahnya. Beliau dishalati setelah shalat Jum'at, di kota di Masjid Jami' kota Bashrah. Ribuan orang berdesak-desakan mengantarkan jenazahnya ke pemakaman. Humaid al-Thawil melukiskan keadaan tersebut, "Kami membawa jenazahnya setelah shalat Jum'at dan menguburkannya. Semua orang turut serta mengantarkan jenazahnya, sampai-sampai tidak ada shalat berjama'ah Ashar di masjid. Aku tidak pernah menyaksikan jama'ah shalat Ashar ditinggalkan sejak awal masa Islam kecuali pada hari itu. Karena semua orang mengantarkan jenazahnya, di masjid tidak ada satu orang pun yang menunaikan shalat Ashar."

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala meridhai Syaikh al-Hasan al-Bashri dan menempatkan beliau pada kedudukan yang tinggi di sisi Rabb-Nya. Amiin.

Wallahu a'lam bish-shawab.



FeedCount

Cari artikel di blog ini

Loading

Ikuti via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Followers

Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template