Tampilkan postingan dengan label Khulafa'ur Rasyidin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khulafa'ur Rasyidin. Tampilkan semua postingan

5.1.12

Tabi'in : Umar ibn 'Abdul Aziz rahimahullah, Khulafaur Rasyidin ke-5

Nama Lengkap dan Nasab

Nama lengkap beliau adalah Umar ibn 'Abdul Aziz ibn Marwan ibn al-Hakam ibn Abu al-'Ash ibn Umayyah ibn 'Abdusy Syams ibn 'Abdi Manaf ibn Qushay al-Qurasyi al-Umawi. Beliau dilahirkan di Halawan, sebuah kampung yang terletak di Mesir tahun 61 H/682 M, pada masa pemerintahan Yazid ibn Mu'awiyah.

Ayahnya adalah 'Abdul Aziz ibn Marwan yang menjabat gubernur Mesir. 'Abdul Aziz merupakan laki-laki yang shalih dan baik pemahaman agamanya. Beliau merupakan murid dari Sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Sedangkan ibu dari Umar ibn 'Abdul Aziz adalah Laila (Ummu 'Ashim) binti 'Ashim ibn Umar ibn al-Khaththab. 'Ashim ibn Umar adalah laki-laki dengan perawakan tegap dan jangkung, dan merupakan salah seorang yang mulia di kalangan Tabi'in. Ia sering meriwayatkan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dari Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu 'anhu.

Ada hal yang menarik mengenai kisah pernikahan 'Ashim ibn Umar, kisah ini cukup penting karena dampak kejadian ini membekas kepada keturunannya, yakni Umar ibn
'Abdul Aziz rahimahullah.

Cerita ini dikisahkan oleh 'Abdullah ibn Zubair ibn Aslam dari ayahnya dari kakeknya yang bernama Aslam. Ia menuturkan: Suatu malam aku sedang menemani Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu 'anhu berpatroli di Madinah. Ketika Umar merasa lelah, beliau bersandar ke dinding di tengah malam, beliau mendengar seorang wanita berkata kepada putrinya, "Wahai putriku, campurlah susu itu dengan air." Maka putrinya menjawab, "Wahai ibunda, apakah engkau tidak mendengar maklumat Amirul Mu'minin hari ini?" Ibunya bertanya, "Wahai putriku, apa maklumatnya?" Putrinya menjawab, "Dia memerintahkan petugas untuk mengumumkan, hendaknya susu tidak dicampur dengan air." Ibunya berkata, "Putriku, lakukan saja, campur susu itu dengan air, kita di tempat yang tidak dilihat oleh Umar dan petugas Umar." Maka gadis itu menjawab, "Ibu, tidak patut bagiku menaatinya di depan khalayak demikian juga menyelesihinya walaupun di belakang mereka." Sementara Umar radhiyallahu 'anhu mendengar semua perbincangan tersebut. Maka beliau berkata, "Aslam, tandai pintu rumah tersebut dan kenalilah tempat ini." Lalu Umar bergegas melanjutkan patrolinya.

Di pagi hari Umar radhiyallahu 'anhu berkata, "Aslam, pergilah ke tempat itu, cari tahu siapa wanita yang berkata demikian dan kepada siapa dia mengatakan hal itu. Apakah keduanya mempunyai suami?" Aku pun berangkat ke tempat itu, ternyata ia adalah seorang gadis yang belum bersuami dan lawan bicaranya adalah ibunya yang juga tidak bersuami. Aku pun pulang dan mengabarkan kepada Umar radhiyallahu 'anhu. Setelah itu, Umar langsung memanggil putra-putranya dan mengumpulkan mereka, Umar radhiyallahu 'anhu berkata, "Adakah di antara kalian yang ingin menikah?" 'Ashim menjawab, "Ayah, aku belum beristri, nikahkanlah aku." Maka Umar radhiyallahu 'anhu meminang gadis itu dan menikahkannya dengan 'Ashim. Dari pernikahan ini lahir seorang putri yang di kemudian hari menjadi ibu bagi Umar ibn 'Abdul Aziz.

Diriwayatkan bahwa pada suatu malam Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu 'anhu bermimpi, kemudian beliau menceritakan mimpinya itu kepada keluarganya, "Seandainya mimpiku ini termasuk tanda salah seorang dari keturunanku yang akan memenuhinya dengan keadilan (setelah sebelumnya) dipenuhi dengan kedzaliman." 'Abdullah ibn Umar radhiyallahu 'anhu mengatakan, "Sesungguhnya keluarga al-Khaththab mengira bahwa Bilal ibn 'Abdullah yang mempunyai tanda di wajahnya." Seluruh keluarga Umar ibn al-Khaththab semula mengira bahwa Bilal ibn 'Abdullah ibn Umar adalah orang yang dimaksud, hingga Allah kemudian menghadirkan Umar ibn 'Abdul Aziz rahimahullah.

Ciri-Ciri Fisik

Umar ibn 'Abdul Aziz rahimahullah berkulit cokelat, berwajah lembut dan tampan, berperawakan ramping, berjanggut rapi, bermata cekung, dan di keningnya terdapat bekas luka akibat sepakan kaki kuda.

Ada pula yang mengatakan, beliau berkulit putih, berwajah lembut dan tampan, berperawakan ramping dan berjenggot rapi.

Kehidupan Umar ibn 'Abdul Aziz

Sejak kecil Umar ibn 'Abdul Aziz rahimahullah sangat rajin menuntut ilmu dan sudah hafal al-Qur'an. Suatu hari, beliau pernah mengunjungi 'Abdullah ibn Umar radhiyallahu 'anhu. Sepulangnya dari kunjungan tersebut beliau pun berkata kepada ibunya, "Ibu! Aku ingin sekali menjadi seperti kakek 'Abdullah ibn Umar", hal itu beliau katakan berulang-ulang. (Lihat al-Atsar al-Waridah An Umar ibn 'Abdul Aziz fi al-'Aqidah [1/56]).

Kemudian beliau merantau ke Madinah untuk berguru pada 'Ulama-ulama di sana. Beliau mendapat bimbingan langsung dari 'Abdullah ibn Umar radhiyallahu 'anhu dan beliau juga banyak belajar agama dari para Sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lainnya. Sehingga menjadikan beliau seorang yang ahli ibadah, penghafal hadits, dan zuhud.

Di antara para 'Ulama yang pernah menjadi guru beliau adalah Shalih ibn Kaisan dan 'Ubaidillah ibn 'Abdullah ibn Utbah ibn Mas'ud. Beliau sangat terinspirasi oleh keluhuran budi pekerti keduanya. (Lihat Tahdzib at-Tahdzib [7/22]. Dinukil dari al-Khalifah ar-Rasyid wa al-Muslih al-Kabir Umar ibn 'Abdul Aziz hal. 20).

Juga Sa'id ibn al-Musayyab, Salim ibn 'Abdullah ibn Umar dan masih banyak lagi yang lainnya. Kesemuanya berjumlah 33 orang yang terdiri 8 orang dari kalangan Sahabat dan 25 orang dari Tabi'in. (Musnad Umar ibn 'Abdul Aziz hal. 33. Lihat al-Khalifah ar-Rasyid wa al-Muslih al-Kabir Umar ibn 'Abdul Aziz hal. 20).

Umar ibn 'Abdul Aziz rahimahullah tinggal di Madinah sampai kematiannya ayahnya, 'Abdul Aziz ibn Marwan. Kemudian beliau dipanggil ke Damaskus oleh Khalifah 'Abdul Malik ibn Marwan dan dinikahkan dengan anak perempuannya yaing bernama Fathimah. Setelah 'Abdul Malik ibn Marwan meninggal dunia, maka kekhalifahan diteruskan oleh putra tertuanya, al-Walid ibn 'Abdul Malik.

Pada bulan Rabi'ul Awwal tahun 87 H/706 M, Khalifah al-Walid ibn 'Abdul Malik mengeluarkan keputusan resmi, mengangkat Umar ibn 'Abdul Aziz rahimahullah sebagai gubernur untuk wilayah Madinah dan Thaif (Hijaz). Begitu mengetahui dirinya terpilih, Umar ibn 'Abdul Aziz tidak langsung menerima mandat tersebut, melainkan mengajukan tiga persyaratan, jika ditolak beliau memilih mengundurkan diri dan jika dikabulkan beliau segera bertolak berangkat menuju Madinah.

Ketiga syarat itu ialah:
1. Beliau diberi kebebasan untuk menegakkan kebenaran dan memutuskan perkara dengan asas keadilan di wilayah kekuasaan barunya, serta diberi kelonggaran untuk tidak memaksa seorang pun agar membayar pajak ke Baitul Mal, bagi mereka yang memang mempunyai kewajiban untuk membayar. Tentunya hal ini berimbas pada sedikitnya pajak yang akan disetorkan ke pusat pemerintahan.
2. Diizinkan untuk menunaikan ibadah Haji di tahun pertama kerjanya, kebetulan Umar ibn 'Abdul Aziz saat itu belum menunaikan rukun Islam kelima.
3. Diberi keluasan untuk berderma kepada penduduk Madinah tanpa terkecuali.

Begitu syarat ini dikabulkan oleh Khalifah al-Walid, Umar ibn 'Abdul Aziz rahimahullah pun bertolak ke Madinah. Sedangkan di Madinah sendiri luapan kegembiraan penduduknya -yang mengetahui bahwa gubernur baru mereka adalah Umar ibn 'Abdul Aziz- sedang menunggu menyambutnya. (Lihat Sirah wa Manaqib Umar ibn 'Abdul Aziz hal. 41-42).

Sesampainya di Madinah, hal yang pertama kali dilakukan Umar ibn 'Abdul Aziz rahimahullah adalah membentuk Majlis Syura yang beranggotakan sepuluh 'Ulama Madinah. Mereka antara lain: Urwah ibn Zubair, Ubaidullah ibn 'Abdullah ibn 'Utbah, Abu Bakar ibn 'Abdurrahman ibn Harits ibn Hisyam, Abu Bakar ibn Sulaiman ibn Abu Khaitsamah, Sulaiman ibn Yasar, Qasim ibn Muhammad, Salim ibn 'Abdullah ibn Umar, 'Abdullah ibn 'Abdullah ibn Umar, 'Abdullah ibn 'Amir ibn Rabi'ah dan Kharijah ibn Zaid ibn Tsabit. Lalu Umar ibn 'Abdul Aziz pun berbicara di hadapan mereka, "Aku memanggil kalian semua untuk sebuah kepentingan yang kalian akan diberi balasan karenanya dan mengajak kalian untuk berjibaku serta bahu membahu menegakkan kebenaran. Aku tidak ingin memutuskan satu perkara pun melainkan berdasarkan pendapat kalian atau salah satu dari kalian. Jika kalian mendapati seseorang berbuat aniaya atau menjumpai salah satu pegawaiku berbuat dzalim, beritahukanlkah padaku." (ath-Thabaqat [5/257]. Lihat al-Khalifah ar-Rasyid wa al-Muslih al-Kabir Umar ibn 'Abdul Aziz hal. 24).

Di bawah pemerintahan Umar ibn 'Abdul Aziz rahimahullah, Madinah berubah menjadi makmur dan sentosa. Salah satu prestasi kerjanya adalah perluasan Masjid Nabawi dengan panjang dan lebar: 200 X 200 hasta (Menurut Mu'jam Lughah al-Fuqaha panjang 1 hasta adalah 46,2 cm, sedangkan al-Mu'jam al-Wasath 64 cm), kemudian menghiasinya -meskipun sebenarnya Umar ibn 'Abdul Aziz sendiri tidak menyukai hal tersebut- berdasarkan perintah langsung dari Khalifah al-Walid ibn Abdul Malik. (Mausu'ah Fiqh Umar ibn 'Abdul Aziz, karya Muhammad Rawwas Qal'aji. Lihat al-Khalifah ar-Rasyid wa al-Muslih al-Kabir Umar ibn 'Abdul Aziz hal. 25).

Banyak 'Ulama Madinah yang menolak perluasan Masjid Nabawi, karena perluasan tersebut mengakibatkan rumah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ikut dipugar. Sa'id ibn al-Musayyab berkata: "Sungguh aku berharap agar rumah Rasulullah tetap dibiarkan seperti apa adanya sehingga generasi Islam yang akan datang dapat mengetahui bagaimana sesungguhnya tata cara hidup beliau yang sederhana."

Dan pada tahun 92 H, Umar ibn 'Abdul Aziz rahimahullah mengundurkan diri dari jabatan gubernur disebabkan penyesalannya yang begitu mendalam karena telah memberi hukuman yang berujung kematian pada Khubaib ibn 'Abdullah ibn Zubair. Dan hal itu selalu terngiang-ngiang di benaknya hingga ajal menjemputnya. (Selengkapnya silahkan baca Sirah wa Manaqib Umar ibn 'Abdul Aziz hal. 43-44).

Sedangkan Ibn Jarir dan yang lainnya menyebutkan, sebenarnya Umar ibn 'Abdul Aziz dibebastugaskan dari jabatan gubernur, karena "perang urat syaraf" yang terjadi antara beliau dan Hajjaj ibn Yusuf ats-Tsaqafi, penguasa yang dzalim. Dan khalifah al-Walid ibn 'Abdul Malik sendiri lebih condong untuk menempuh jalan politik pemerintahan ala Hajjaj. (Tarikh ath-Thabari [7/383]. Dinukil dari al-Khalifah ar-Rasyid wa al-Muslih al-Kabir Umar ibn 'Abdul Aziz hal. 27).

Dikisahkan ketika Umar ibn 'Abdul Aziz rahimahullah keluar meninggalkan Madinah, beliau menangis tersedu. Sesaat kemudian menoleh ke belakang, ke arah Madinah, seraya berkata kepada pembantunya, "Hai Muzahim! Aku khawatir terhadap diriku sendiri. Jangan-jangan aku termasuk orang yang difilter Madinah" (al-Bidayah wa an-Nihayah [12/683] dan Sirah Umar ibn 'Abdul Aziz, karya Ibn 'Abdul Hakam hal. 28, dinukil dari al-Khalifah ar-Rasyid wa al-Muslih al-Kabir Umar ibn 'Abdul Aziz hal. 28), sambil mengisyaratkan pada sebuah hadits, 'Ketahuilah! Madinah itu seperti pandai besi yang sedang membersihkan karat. Dan hari Kiamat tidak akan terjadi sampai Madinah ini memfilter penduduknya yang jelek, sebagaimana pandai besi membersihkan karat (yang menempel di besi)'. (HR. Muslim [1381]. Lihat juga Sahih Bukhari hadits [1883] dan [1884]).

Masa Kekhalifahan

Pada tahun 716 M, Khalifah Sulaiman ibn 'Abdul Malik wafat. Sebelum wafatnya, ia telah menuliskan surat wasiat yang isinya agar mengangkat Umar ibn 'Abdul Aziz sebagai khalifah sepeninggalnya dan Yazid sebagai pengganti setelah Umar. (Lihat Tarikh ath-Thabari [7/445] dan ath-Thabaqat karya Ibn Sa'ad [5/335-338]).

Akhirnya Umar ibn 'Abdul Aziz rahimahullah dibai'at sebagai khalifah pada hari Jum'at sepuluh hari terakhir bulan Shafar tahun 99 H. (al-Bidayah wa an-Nihayah [12/657]).

Di dalam memimpin negara, beliau sangat menjunjung tinggi asas keadilan, tidak ada yang lebih penting dari itu. Disamping itu beliau juga berusaha menunaikan kewajibannya sebagai kepala negara dengan sebaik-baiknya dan menunaikan hak rakyat sebagaimana mestinya. Beliau berusaha agar tidak seorang pun -yang hidup di bawah pemerintahannya- merasa haknya terdzalimi, bahkan binatang pun tak luput dari perhatian beliau. (Lihat Al-Khalifah ar-Rasyid wa al-Muslih al-Kabir Umar ibn 'Abdul Aziz hal. 59).

Sebegitu besar sifat amanah yang dimilikinya sampai-sampai ketika ada seseorang yang bertanya, "Wahai Amirul Mu'minin! Kenapa engkau tampak bersedih?". Beliau menjawab, "Siapa pun yang berada di posisiku sekarang ini pasti akan bersedih." "Tidak seorang pun dari rakyatku kecuali aku ingin menunaikan haknya sebagaimana mestinya, meskipun ia tidak memintanya," lanjutnya. (Lihat Siyar A'lam an-Nubala' [5/132]).

Lalu mengutarakan alasan kenapa beliau bersedih, "Aku bukanlah yang terbaik di antara kalian, tapi justru akulah yang paling berat beban dan tanggung jawabnya." (Lihat Siyar A'lam an-Nubala' [5/132]).

Keadilan, amanah dan tanggung jawabnya menjadikan rakyatnya hidup dalam kedamaian, aman, makmur dan sentosa. Hal itu terbukti dengan sedikitnya para penerima zakat di era pemerintahannya. Pernah seseorang mengeluarkan zakat dengan jumlah yang sangat besar, namun ketika ia mencari orang-orang yang berhak menerimanya, ia kembali dengan zakat masih utuh seperti semula. (Lihat Siyar A'lam an-Nubala' [5/132]).

Pada masa pemerintahannya, beliau berhasil memulihkan keadaan negaranya dan mewujudkan masyarakat yang madani. Karena itu banyak ahli sejarah yang menyebut Umar ibn 'Abdul Aziz rahimahullah sebagai Khulafaur Rasyidin yang ke-5.

al-Walid ibn Muslim menceritakan bahwa seorang lelaki dari Khurasan telah berkata, "Aku telah beberapa kali mendengar suara datang dalam mimpiku yang berbunyi: 'Jika seorang yang berani dari Bani Marwan dilantik menjadi Khalifah, maka berilah bai'at kepadanya karena dia adalah pemimpin yang adil'. Lalu aku menanti-nanti sehinggalah Umar ibn 'Abdul Aziz menjadi Khalifah, akupun mendapatkannya dan memberi bai'at kepadanya."

Qais ibn Jabir berkata, "Perbandingan Umar ibn 'Abdul Aziz di sisi Bani Ummaiyyah seperti orang yang beriman di kalangan keluarga Fir'aun."

Hassan al-Qishab telah berkata, "Aku melihat serigala diternak bersama dengan sekumpulan kambing di zaman Khalifah Umar ibn 'Abdul Aziz."

Umar ibn Asid telah berkata, "Demi Allah, Umar ibn 'Abdul Aziz tidak meninggal dunia sehingga datang seorang lelaki dengan harta yang bertimbun dan lelaki tersebut berkata kepada orang ramai: 'Ambillah hartaku ini sebanyak mana yang kamu mau'. Tetapi tiada yang mau menerimanya (karena semua sudah kaya) dan sesungguhnya Umar telah menjadikan rakyatnya kaya-raya."

'Atha' telah berkata, "Umar ibn 'Abdul Aziz mengumpulkan para fuqaha' setiap malam. Mereka saling ingat memperingati di antara satu sama lain tentang mati dan hari qiamat, kemudian mereka sama-sama menangis karena takut kepada azab Allah seolah-olah ada jenazah di antara mereka."

Istri-Istri dan Putra-Putri Umar ibn 'Abdul Aziz

Istri pertamanya adalah wanita yang shalihah dari kalangan Bani Umayyah, ia merupakan putri dari Khalifah 'Abdul Malik ibn Marwan yaitu Fathimah. Ia memiliki nasab yang mulia, putri khalifah, kakeknya juga khalifah, saudara perempuan dari para khalifah, dan istri dari khalifah yang mulia Umar ibn 'Abdul Aziz, namun hidupnya sederhana.

Istrinya yang lain adalah Lamis binti 'Ali, Ummu 'Utsman binti Syu'aib, dan Ummu Walad.

Dari istri-istrinya tersebut, Umar ibn 'Abdul Aziz rahimahullah mempunyai beberapa orang anak, di antara mereka adalah 'Abdul Malik, 'Abdul Aziz, 'Abdullah, Ibrahim, Ishaq, Ya'qub, Bakar, al-Walid, Musa, 'Ashim, Yazid, Zaban, 'Abdullah, serta tiga anak perempuan, Aminah, Ummu Ammar dan Ummu 'Abdillah.

Keutamaan Umar ibn 'Abdul Aziz

Paling Takut Kepada Allah

Dari al-Mughirah ibn Hukaim, dia berkata: Fathimah binti 'Abdul Malik ibn Marwan, dia berkata kepadaku, "Wahai Mughirah, mungkin saja ada orang yang lebih baik shalat dan puasanya daripada Umar ibn 'Abdul Aziz, akan tetapi aku belum pernah melihat seorangpun yang lebih banyak takut dan lebih banyak menangis di hadapan Tuhannya daripada Umar ibn 'Abdul Aziz. Jika dia masuk ke rumahnya, dia langsung bersujud, dia terus saja menangis hingga kedua matanya tertidur, kemudian terbangun dan menangis lagi dan lagi. Dia menghabiskan sebagian besar malamnya seperti itu."

Ibadahnya

Dari Zaid ibn Aslam bahwa Anas ibn Malik radhiyallahu 'anhu telah berkata, "Aku tidak pernah menjadi ma'mum di belakang imam selepas wafatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang mana shalat imam tersebut menyamai shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melainkan daripada Umar ibn 'Abdul Aziz dan beliau pada masa itu adalah gubernur Madinah."

Keilmuannya

Para ahli yang menulis biografi Umar ibn 'Abdul Aziz sepakat bahwa beliau termasuk salah satu Imam (panutan dalam ilmu pengetahuan) di zamannya, sebagaimana ditegaskan Malik dan Sufyan ibn Uyainah (Lihat al-Atsar al-Waridah An Umar ibn 'Abdul Aziz [1/67]). Di samping itu beliau juga digelari al-'Allamah (yang luas ilmunya), al-Mujtahid (ahli Ijtihad), dan al-Hafidz (panutan dalam ilmu hadits). (Lihat Siyar A'lam an-Nubala' [5/114]).

Mujahid pernah bercerita: "Dulu kami pernah mendatangi Umar ibn 'Abdul Aziz karena ingin mengajarinya beberapa hal, namun justru kamilah yang diajarinya." (Tahdzib at-Tahdzib, karya Ibn Hajar [7/419]).

Maimun ibn Mihran juga pernah berkomentar: "Di hadapan Umar ibn 'Abdul Aziz, para 'Ulama hanyalah bagaikan murid." (Tahdzib at-Tahdzib, karya Ibn Hajar [7/419]. Lihat juga al-Bidayah wa an-Nihayah [12/682] dan Siyar A'lam an-Nubala' [5/120]).

Bahkan para 'Ulama lain pun tidak segan-segan berhujjah dengan perkataan dan perbuatan beliau. Di antaranya: Laits ibn Sa'id ketika menulis surat untuk Malik ibn Anas menyebutkan nama beliau berkali-kali untuk menguatkan pendapatnya sendiri dalam beberapa persoalan. (Lihat al-Atsar al-Waridah An Umar ibn 'Abdul Aziz [1/70]).

Lebih dari itu, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad sering menyebut nama beliau dalam beberapa kitab mereka. (Selengkapnya silahkan baca al-Khalifah ar-Rasyid wa al-Muslih al-Kabir Umar ibn 'Abdul Aziz hal. 22).

Imam Ahmad berkomentar: "Aku tidak mengetahui seorang pun dari kalangan Tabi'in yang perkataannya dijadikan hujjah selain Umar ibn 'Abdul Aziz. Dan ini cukup (sebagai saksi akan keilmuan beliau)." (Lihat al-Bidayah wa an-Nihayah [12/677]).

Beliau melanjutkan: "Jika engkau mendapati seseorang yang mencintai Umar ibn 'Abdul Aziz, lalu menyebut-nyebut kebaikan dan menyebarkannya. Ketahuilah di balik itu semua ada kebaikan (yang menunggu), insya Allah." (Sirah wa Manaqib Umar ibn 'Abdul Aziz hal. 74).

Kezuhudannya

Dari Maslamah ibn 'Abdul Malik, dia berkata, Aku menemui Umar ibn 'Abdul Aziz untuk menjenguknya karena sakit. Saat itu dia mengenakan baju yang sudah jelek dan kotor, kemudian aku berkata kepada Fathimah binti 'Abdul Malik, istrinya, "Wahai Fathimah, cucilah baju Amirul Mu'minin." Sang istri berkata, "Insya Allah akan aku lakukan." Selang beberapa waktu, aku pun kembali menjenguknya dan ternyata bajunya masih yang itu juga, sehingga aku pun berkata kepada istrinya, "Wahai Fathimah, tidakkah aku telah memintamu untuk membersihkan dan mengganti pakaian Amirul Mu'minin, karena banyak warga yang ingin menjenguknya?" Fathimah berkata, "Demi Allah, dia tidak mempunyai baju yang selain itu."

Dari Malik ibn Dinar, dia berkata: Orang-orang berkata, "Malik ibn Dinar adalah orang yang zuhud," akan tetapi sebenarnya orang yang bisa dikatakan zuhud itu adalah Umar ibn 'Abdul Aziz yang dikaruniai kemewahan dunia dengan segala isinya akan tetapi dia memilih untuk meninggalkannya."

Kewara'annya

Ja'wanah berkata, "Ketika 'Abdul Malik ibn Umar ibn 'Abdul Aziz meninggal dunia, Umar ibn 'Abdul Aziz terlihat bersyukur karenanya. Kemudian, sesorang berkata kepadanya, "Wahai Amirul Mu'minin, jika dia masih hidup, apakah anda akan mengangkatnya sebagai putra mahkota?" Dengan tegas Umar menjawab, "Tidak." Orang itu bertanya lagi, "Mengapa tidak, dan anda malah bersyukur atas kematiannya?" Dia menjawab, "Aku takut dia akan menjadi perhiasan di mataku (yang dapat menghalanginya dari kebenaran), seperti perhiasan seorang anak pada orang tuanya."

Dari Yahya ibn Said, dia berkata, "Abdul Humaid ibn 'Abdurrahman menulis sepucuk surat kepada Umar ibn 'Abdul Aziz. Dalam suratnya itu dia berkata, "Sesungguhnya telah ada pengaduan kepadaku tentang seseorang yang mencaci anda, kemudian aku berniat membunuhnya. Akan tetapi, aku membatalkannya hingga akhirnya aku berinisiatif menulis surat kepada anda untuk meminta pendapat anda." Umar ibn 'Abdul Aziz berkata, "Seseorang tidak berhak untuk dibunuh hanya karena mencaci orang lain, kecuali yang mencaci Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. Jadi, caci makilah dia jika kamu menginginkannya, kemudian
lepaskan."

Kerendahan Hatinya

Dari Raja' ibn Haiwah, dia berkata, "Aku pernah begadang malam bersama Umar ibn 'Abdul Aziz, tiba-tiba lampu padam. Lalu aku bergegas untuk berdiri dan memperbaikinya, akan tetapi Umar ibn 'Abdul Aziz melarangku. Setelah itu, dia memperbaikinya sendiri dan duduk kembali, lalu dia berkata, "Jika kamu duduk, maka aku tetap Umar ibn 'Abdul Aziz (orang biasa yang tak perlu diistimewakan). Dan jika kamu berdiri, maka aku juga tetap Umar ibn 'Abdul Aziz dan celakalah seseorang yang memperkerjakan tamunya."

Wafatnya

Umar ibn 'Abdul Aziz rahimahullah meninggal dunia di Dir Sam'an, pada tanggal 10 atau 5 bulan Rajab tahun 101 Hijriyah akibat diracun oleh pembantunya. Saat itu beliau genap berusia 39 tahun 6 bulan. Beliau meninggal setelah memerintah selama 2 tahun 5 bulan. Namun, di balik masa pemerintahannya yang singkat tersebut, beliau telah berbuat banyak untuk peradaban manusia dan Islam secara khusus.

Ibn al-Jauzi dalam kitab
sirah-nya, dia berkata: Ada yang memberitahukan kepadaku bahwa al-Manshur berkata kepada 'Abdurrahman ibn al-Qasim, "Berilah aku nasehat!" Dia berkata, "Dengan apa yang pernah aku lihat atau dengan apa yang pernah aku dengar?" Dia berkata, "Dengan apa yang pernah yang anda lihat." Dia berkata, "Umar ibn 'Abdul Aziz meninggal dunia, dengan meninggalkan 11 putra, harta warisannya 17 dinar. Harta itu lalu digunakan mereka untuk membeli kain kafan 5 dinar dan kuburannya 2 dinar. Dan yang tersisa dibagikan kepada semua anggota keluarga dan setiap mereka mendapat 19 dirham. Hisyam ibn 'Abdul Malik meninggal dunia, dia meninggalkan 11 putera, harta warisannya dibagikan kepada anak-anaknya itu dan masing-masing mendapatkan ribuan dinar. Dan aku pernah melihat seorang lelaki dari keturunan Umar ibn 'Abdul 'Aziz membawa seratus kuda perang untuk dishadaqahkan guna dipakai berperang di jalan Allah dalam satu hari, dan aku melihat seorang lelaki dari keturunan Hisyam ibn 'Abdul Malik diberikan shadaqah (karena sudah jatuh miskin)."

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala meridhai Umar ibn 'Abdul Aziz, dan menempatkan beliau kepada kedudukan yang tinggi di sisi Rabbnya. Amiin.

* Biografi Umar ibn 'Abdul Aziz selengkapnya lihat kitab-kitab berikut:
- al-Khalifah ar-Rasyid wa al-Muslih al-Kabir Umar ibn 'Abdul Aziz, karya Ibn Katsir
- Sirah wa Manaqib Umar ibn 'Abdul Aziz, karya Ibn al-Jauzi



24.12.11

Sahabat Nabi : 'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu

Nama Lengkap dan Nasab

'Ali adalah putra dari paman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Abi Thalib ibn 'Abdul Muththalib ibn Hasyim ibn 'Abdu Manaf ibn Qushay. Ibunya bernama Fathimah binti Asad ibn Hasyim ibn 'Abdu Manaf, salah satu wanita yang terdahulu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Jadi 'Ali adalah keturunan Hasyim dari ibu-bapaknya. Beliau lahir pada tahun 602 M. Nama asli 'Ali adalah Haydar yang berarti Singa, nama yang diberikan Abi Thalib karena berharap kelak 'Ali akan menjadi petarung sejati di kalangan suku Quraisy.

Dikemudian hari 'Ali ibn Abi Thalib memang tumbuh menjadi petarung sejati, tokoh yang disegani suku Quraisy dan panglima perang yang tak kenal rasa takut. Beliau dedikasikan seluruh jiwa, raga dan hidupnya untuk membela, mengembangkan ajaran Islam yang dibawa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Sedangkan nama 'Ali adalah pemberian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang berarti tinggi derajatnya di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sedangkan kunyah beliau adalah Abul Hasan dan Abu Turab. Abu Turab yang berarti Bapaknya Tanah adalah panggilan yang paling disenangi 'Ali karena nama kehormatan ini kenang-kenangan berharga dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

'Ali kemudian dijadikan anak angkat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam karena pernikahan beliau dengan Khadijah tidak dikaruniai anak laki-laki sekaligus sebagai wujud terimakasih Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada pamannya, Abi Thalib yang juga pernah mengasuhnya waktu kecil.

Ciri-ciri Fisik 'Ali ibn Abi Thalib

'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu memiliki kulit berwarna sawo matang, bola mata beliau besar dan berwarna kemerah-merahan, berperut besar dan berkepala botak. Berperawakan pendek dan berjanggut lebat. Dada dan kedua pundak beliau padat dan putih, beliau memiliki bulu dada dan bahu yang lebat, berwajah tampan dan memiliki gigi yang bagus, ringan langkah saat berjalan. (Silakan lihat penjelasan tentang sifat jasmani beliau dalam kitab ath-Thabaqatul Kubra karangan Ibn Sa'ad [3/25] dan [27], dan Tarikh ath-Thabari [5/153]).

Putra-putri 'Ali ibn Abi Thalib

Setelah wafatnya Fathimah binti Rasulullah, 'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu menikah dengan beberapa orang wanita lainnya lagi. Menurut catatan sejarah hingga wafatnya 'Ali radhiyallahu 'anhu menikah sampai 9 kali. Tentu saja menurut ketentuan-ketentuan yang tidak bertentangan dengan hukum Islam. Dalam satu periode tidak pernah lebih 4 orang istri.

Wanita pertama yang dinikahi 'Ali radhiyallahu 'anhu sepeninggal Fathimah radhiyallahu 'anha ialah Umamah binti Abi al-Ashiy. Ia anak perempuan iparnya sendiri, Zainab binti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kakak perempuan Fathimah. Pernikahan dengan Umamah radhiyallahu 'anha ini mempunyai sejarah tersendiri yaitu untuk melaksanakan pesan Fathimah radhiyallahu 'anha kepada suaminya sebelum ia wafat. Nampaknya pesan itu didasarkan kasih sayang yang besar dari Umamah kepada putra-putrinya.

Setelah menikah dengan Umamah, 'Ali ibn Abi Thalib menikah lagi dengan Khaulah binti Ja'far ibn Qais. Berturut-turut kemudian Laila binti Mas'ud ibn Khalid, Ummul Banin binti Hazzan ibn Khalid dan Ummu Walad. Istri 'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu yang ke-6 patut disebut secara khusus karena ia tidak lain adalah Asma' binti Umais sahabat terdekat Fathimah radhiyallahu 'anha. Asma' inilah yang mendampingi Fathimah dengan setia dan melayaninya dengan penuh kasih sayang hingga detik-detik terakhir hayatnya.

Istri-istri 'Ali ibn Abi Thalib yang ke-7, ke-8 dan ke-9 ialah ash-Shuhba, Ummu Sa'id binti 'Urwah ibn Mas'ud dan Muhayah binti Imruil Qais. Saat 'Ali ibn Abi Thalib mendapatkan mati syahid, beliau meninggalkan empat orang istri yang merdeka, yaitu: Umamah, Laila, Ummul Banin, dan Asma'. Serta 18 orang hamba sahaya wanita.

Dari 9 istri di luar Fathimah, 'Ali ibn Abi Thalib mempunyai banyak anak. Jumlahnya yang pasti masih menjadi perselisihan pendapat di kalangan para penulis sejarah. al-Mas'udiy dalam bukunya "Murujudz Dzahab" menyebut putra-putri 'Ali radhiyallahu 'anhu semuanya berjumlah 25 orang. Sedangkan dalam buku "Almufid Fil Irsyad" dikatakan 27 orang anak.

Ibn Sa'ad dalam bukunya yang terkenal "Thabaqat" menyebutnya 31 orang anak dengan perincian 14 orang anak lelaki dan 17 orang anak perempuan. Ini termasuk putra-putri 'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu dari istrinya yang pertama.

Keturunannya yang mulia kemudian mengalir dari al-Hasan, al-Husain, Muhammad ibn al-Hanafiyyah, Umar, dan Abbas.

KeIslaman 'Ali ibn Abi Thalib

Konsistensi dan totalitas 'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu dalam mendukung dakwah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam terlihat dari sikapnya sebagai orang yang pertama kali mempercayai wahyu-wahyu Allah Subhanahu wa Ta'ala yang diturunkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Saat itu usia 'Ali baru sekitar 10 tahun.

Sikap seperti ini sungguh sulit pada masa itu mengingat sudut pandang, pemikiran, dan pengetahuan suku Quraisy yang masih dalam masa kegelapan (Jahiliyah). Sikap yang diambil 'Ali juga bukan tanpa resiko. Cercaan, hinaan bahkan ancaman nyawa selalu mengintai.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjadi orangtua dan guru bagi 'Ali. 'Ali memiliki ikatan emosi dan menjadi orang terdekat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam hingga akhirnya pada usia dewasa dijadikan menantu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan mempersunting Fathimah. Ini terjadi setelah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam hijrah ke Madinah. Rasulullah menimbang 'Ali yang paling tepat dalam banyak hal seperti nasab keluarga (Bani Hasyim), sekaligus orang yang pertama kali mempercayai kenabian beliau shallallahu 'alaihi wa sallam setelah Khadijah. Selain itu Rasulullah jelas memahami seluk beluk kepribadian, watak dan karakter 'Ali. Gemblengan secara langsung dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, menjadikan 'Ali seorang pemimpin yang komplit, cerdas, berani, bijaksana dan berpengetahuan luas.

Keberanian 'Ali ibn Abi Thalib terlihat dari kesediannya tidur di kamar Rasulullah untuk mengecoh orang-orang kafir Quraisy yang berencana membunuh Rasulullah dan menggagalkan hijrah beliau. Kaum kafir Quraisy pun terkecoh ketika menjelang Subuh ternyata sosok yang tidur di kamar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah 'Ali. Sementara Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sudah berangkat menuju Madinah bersama Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu.

Dalam Perang Badar (perang pertama dalam sejarah Islam) 'Ali dan Hamzah ibn 'Abdul Muththalib (paman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam) menjadi pahlawan. Pedang 'Ali meluluhlantakkan barisan kaum musyrik sehingga perang ini akhirnya dimenangkan kaum Muslimin. Perang Khandaq juga saksi nyata keberanian 'Ali ibn Abi Thalib ketika memerangi Amr ibn 'Abdi Wud. Dengan satu tebasan pedangnya yang bernama Dzulfikar, Amr ibn 'Abdi Wud terbelah menjadi dua bagian.

Setelah Perjanjian Hudaibiyah yang memuat perjanjian perdamaian antara kaum Muslimin dengan Yahudi, dikemudian hari Yahudi mengkhianati perjanjian tersebut sehingga pecah perang. Kaum Yahudi bertahan di benteng Khaibar yang sangat kokoh, sehingga perang ini dikenal dengan nama Perang Khaibar yang terjadi pada bulan Shafar tahun 7 H. 'Ali ibn Abi Thalib adalah orang yang mampu menghancurkan benteng Khaibar dan berhasil membunuh Marhab lalu menebasnya dengan sekali pukul hingga terbelah menjadi dua bagian.

Semua peperangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menghadapi kaum kafir selalu diikuti 'Ali ibn Abi Thalib. Dan ia menjadi bagian penting dari setiap peperangan tersebut.

Kekhalifahan 'Ali ibn Abi Thalib

Peristiwa pembunuhan terhadap Khalifah 'Utsman ibn Affan radhiyallahu 'anhu mengakibatkan kegentingan di seluruh dunia Islam yang waktu itu sudah membentang sampai ke Persia dan Afrika Utara. Pemberontak yang waktu itu menguasai Madinah tidak mempunyai pilihan lain selain mengangkat 'Ali ibn Abi Thalib sebagai khalifah. Waktu itu 'Ali berusaha menolak, tetapi az-Zubair ibn al-Awwam dan Thalhah ibn Ubaidillah memaksa beliau, sehingga akhirnya 'Ali menerima bai'at mereka. Pembai'atan beliau dilakukan di Masjid Nabawi pada hari Jum'at tanggal 25 Dzulhijah 35 H/4 Juni 656 M. Hal ini menjadikan 'Ali satu-satunya khalifah yang dibai'at secara massal, karena khalifah sebelumnya dipilih melalui cara yang berbeda-beda.

Sebagai khalifah ke-4 yang memerintah selama sekitar 5 tahun, masa pemerintahannya mewarisi kekacauan yang terjadi saat masa pemerintah khalifah sebelumnya, 'Utsman ibn Affan radhiyallahu 'anhu. Untuk pertama kalinya perang saudara antara ummat Muslim terjadi saat masa pemerintahannya, yaitu terjadinya Perang Jamal. 20.000 pasukan pimpinan Khalifah 'Ali melawan 30.000 pasukan pimpinan az-Zubair ibn al-Awwam, Thalhah ibn Ubaidillah, dan Ummul Mu'minin 'Aisyah binti Abu Bakar, janda Rasulullah. Perang tersebut akhirnya dimenangkan oleh pihak 'Ali.

Peristiwa pembunuhan Khalifah 'Utsman ibn Affan yang menurut berbagai kalangan waktu itu kurang dapat diselesaikan karena fitnah yang sudah terlanjur meluas dan sudah diisyaratkan (akan terjadi) oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau masih hidup, dan diperparah oleh hasutan-hasutan para pembangkang yang ada sejak zaman 'Utsman ibn Affan, menyebabkan perpecahan di kalangan kaum Muslim sehingga menyebabkan perang tersebut.

Tidak hanya selesai di situ, konflik berkepanjangan terjadi hingga akhir pemerintahannya. Perang Shiffin, yaitu peperangan antara Khalifah 'Ali dengan Mu'awiyah ibn Abu Sufyan yang semakin melemahkan kekhalifahannya juga berawal dari masalah tersebut.

'Ali ibn Abi Thalib seseorang yang memiliki kecakapan dalam bidang militer dan strategi perang, mengalami kesulitan dalam administrasi negara karena kekacauan luar biasa yang ditinggalkan pemerintahan sebelumnya.

Kekhalifahan 'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berlangsung selama 4 tahun 9 bulan, sejak 19 Dzulhijah tahun 35 Hijriyah hingga 19 Ramadhan tahun 40 Hijriyah. Kemudian al-Hasan ibn 'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu dibai'at menjadi khalifah setelah wafatnya ayahnya.

Pada bulan Rabi'ul Awwal tahun 41 Hijriyah al-Hasan menyerahkan urusan kekhalifahan kepada Mu'awiyah ibn Abu Sufyan radhiyallahu 'anhu (dan kemudian Mu'awiyah menjadi raja pertama dalam sejarah perjalanan pemerintahan Islam).

Keutamaan 'Ali ibn Abi Thalib

Kedudukan 'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam seperti kedudukan Nabi Harun di sisi Nabi Musa.

Dari Sa'id ibn Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam telah menyuruh 'Ali ibn Abi Thalib agar tidak ikut serta dalam Perang Tabuk untuk mewakili beliau mengurus keluarganya. Maka 'Ali berkata, "Wahai Rasulullah, apakah Anda akan membiarkanku bersama-sama dengan para wanita dan anak-anak?" Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam bersabda, "Apakah kamu tidak ridha kalau posisimu di sisiku sama dengan posisi Harun di sisi Musa? Hanya saja memang tidak ada seorang nabi lagi sesudahku." (HR. Bukhari - Muslim dalam kitab Shahihain. Hadits ini diriwayatkan Bukhari [3706] dan Muslim [Fadha'il ash-Shahabah/32] pada bab Min Fadha'ilu 'Ali ibn Abi Thalib. Diriwayatkan juga Imam Ahmad [I/99]).

Beliau juga sangat dikenal dengan kepandaian dan ketepatan dalam memecahkan berbagai masalah yang sangat rumit sekalipun, dan beliau juga seorang yang memiliki `abqariyah qadha'iyah (kejeniusan dalam pemecahan ketetapan hukum) dan dikenal sangat dalam ilmunya. (Lihat 'Aqidah Ahlussunnah fi ash-Shahabah, jilid I, hal. 283).

'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu termasuk dalam golongan al-'Asyarah al-Mubasysyiriina bil Jannah atau 10 orang yang telah mendapat "busyra bil-jannah" (berita gembira sebagai penghuni surga), sebagaimana dinyatakan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak.

Wafatnya 'Ali ibn Abi Thalib

'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu meninggal di usia 63 tahun karena pembunuhan oleh 'Abdurrahman ibn Muljam, seseorang yang berasal dari golongan Khawarij (pembangkang) saat mengimami shalat Subuh di Masjid Kufah, pada tanggal 19 Ramadhan, dan 'Ali menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 21 Ramadhan tahun 40 H/661 M. Kemudian 'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu dimakamkan secara rahasia di Najaf. Semasa hidupnya, 'Ali ibn Abi Thalib telah meriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebanyak 586 hadits (yang diangap shahih, 50).

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala meridhai 'Ali ibn Abi Thalib dan menempatkan beliau pada kedudukan yang tinggi di sisi Rabb-Nya. Amiin.



23.12.11

Sahabat Nabi : 'Utsman ibn Affan radhiyallahu 'anhu

Nama Lengkap dan Nasab

Nama lengkap beliau adalah 'Utsman ibn Affan ibn Abil 'Ash al-Umawi al-Qurasy. Beliau lahir pada tahun 574 M. dan berasal dari keluarga yang kaya raya dari kabilah Bani Umayyah. Nasab beliau adalah 'Utsman ibn Affan ibn Abil 'Ash ibn Umayyah ibn 'Abdu asy-Syams ibn 'Abdu Manaf ibn Qushay ibn Kilab ibn Murrah ibn Ka'ab ibn Lu'ay ibn Ghalib ibn Fihr ibn Malik ibn an-Nadhr ibn Kinanah ibn Khuzaimah ibn Mudrikah ibn Ilyas ibn Mudhar ibn Nizar ibn Ma'addu ibn Adnan. Sedang ibu beliau bernama Arwa binti Kuraiz ibn Rabi'ah ibn Hubaib ibn 'Abdu asy-Syam dan neneknya bernama Ummu Hakim Bidha' binti 'Abdul Muththalib, bibi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ibu beliau kemudian menganut Islam yang baik dan teguh. Pada masa Jahiliyah, 'Utsman ibn Affan biasa dipanggil dengan Abu 'Amr dan pada masa Islam, nama julukannya (kunyah) adalah Abu 'Abdillah. Dan juga beliau digelari dengan sebutan "Dzun-Nurain" yang berarti yang memiliki dua cahaya, dikarenakan beliau menikahi dua puteri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu Ruqayyah dan Ummu Kaltsum.

Khaitsamah meriwayatkan di dalam kitab al-Fadha'il dan ad-Daruqthuni di dalam kitab al-Farad, bahwa pernah disebutkan nama 'Utsman di hadapan 'Ali. Ternyata 'Ali berkata, "Dialah seseorang yang dipanggil dengan sebutan Dzun-Nurain di surga."

Ciri Fisik 'Utsman ibn Affan

'Utsman ibn Affan radhiyallahu 'anhu adalah seseorang yang postur tubuhnya sedang-sedang saja dan berkulit putih, namun ada juga yang mengatakan bahwa warna kulit 'Utsman adalah sawo matang. Beliau adalah seorang laki-laki yang berkulit luar tipis, berwajah tampan, memiliki tulang persendian yang besar, jarak antara kedua pundaknya lebar, berambut lebat, dan memiliki jenggot yang diberi warna kuning.

Dari al-Hasan rahimahullahu, dia berkata, "Aku telah melihat 'Utsman, ternyata dia adalah seorang laki-laki yang berwajah tampan. Di bagian atas pipinya terdapat tahi lalat kecil yang menonjol, dan rambutnya telah menutupi bagian hastanya."

Putra-putri 'Utsman ibn Affan

Di antara putra 'Utsman yang berasal dari Ruqayyah bernama 'Abdurrahman. Putranya yang lain adalah 'Abdullah al-Ashgar yang berasal dari istrinya yang bernama Fahkitah binti Ghazwan. Amru, Khalid, Aban, Umar dan Maryam, yang berasal dari istrinya yang bernama Ummu Amru binti Junzud dari kabilah Uzd. al-Walid, Sa'id dan Ummu Sa'id, yang berasal dari istrinya yang bernama Fathimah binti al-Walid. 'Abdul Malik yang berasal dari istrinya yang bernama Ummul Banin binti Uyainah ibn Hashn; 'Aisyah, Ummu Aban dan Ummu Amru, yang berasal dari istrinya yang bernama Ramlah binti Syaibah ibn Rabi'ah. Maryam yang berasal dari istrinya yang bernama Na'ilah binti al-Farafishah. Dan Ummul Banin yang berasal dari istrinya yang merupakan Ummu Walad.

KeIslaman 'Utsman ibn Affan

'Utsman ibn Affan radhiyallahu 'anhu masuk Islam sebelum Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam masuk ke Darul Arqam. Beliau masuk Islam atas ajakan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu dan beliau termasuk golongan as-Sabiqun al-Awwalun (golongan yang pertama-tama masuk Islam).

Pada saat seruan hijrah pertama oleh Rasullullah shallallahu 'alaihi wa sallam ke Habsyah karena meningkatnya tekanan kaum Quraisy terhadap umat Islam, 'Utsman ibn Affan bersama istri dan kaum Muslimin lainnya memenuhi seruan tersebut dan hijrah ke Habsyah hingga tekanan dari kaum Quraisy reda. Tak lama setelah kembali dan tinggal di Makkah, 'Utsman mengikuti perintah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam untuk hijrah ke Madinah.

Pada peristiwa Hudaibiyah, 'Utsman ibn Affan dikirim oleh Rasullullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menemui Abu Sufyan di Makkah. 'Utsman diperintahkan Rasulullah untuk menegaskan bahwa rombongan dari Madinah hanya akan beribadah di Ka'bah, lalu segera kembali ke Madinah, bukan untuk memerangi penduduk Makkah.

Pada saat Perang Dzatirriqa dan Perang Ghatfahan berkecamuk, dimana Rasullullah shallallahu 'alaihi wa sallam memimpin perang, 'Utsman dipercaya menggantikan Rasulullah untuk mengurus Madinah. Saat Perang Tabuk, 'Utsman mendermakan 1000 ekor unta dan 70 ekor kuda, ditambah 1000 dirham sumbangan pribadi untuk perang Tabuk, nilainya sama dengan sepertiga biaya perang tersebut. 'Utsman ibn Affan juga menunjukkan kedermawanannya tatkala membeli mata air yang bernama "Rumah" dari seorang lelaki suku Ghifar seharga 35.000 dirham. Mata air itu beliau wakafkan untuk kepentingan rakyat umum.

Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terjun dalam Perang Badar, 'Utsman menggantikan Rasulullah untuk merawat putrinya yang bernama Ruqayyah ketika sedang menderita sakit. Maka, Rasulullah menetapkan jatah rampasan perang untuk 'Utsman yang pada waktu itu absen dalam perang Badar. Dalam hal ini 'Utsman dianggap seperti orang yang ikut perang Badar.

Pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq, 'Utsman juga pernah memberikan gandum yang diangkut dengan 1000 unta untuk membantu kaum miskin yang menderita di musim kering.

Dari 'Utsman ibn Muhib, dia berkata: Ada seorang laki-laki penduduk Mesir melakukan ibadah haji. Lalu dia melihat ada beberapa orang sedang duduk-duduk. Dia pun bertanya, "Siapakah mereka itu?" Orang-orang menjawab, "Mereka itu adalah orang-orang suku Quraisy." Lelaki itu kembali bertanya, "Siapakah syaikh di antara mereka?" Mereka menjawab, "'Abdullah ibn Umar." Lelaki itu berkata, "Wahai Ibn Umar, sesungguhnya aku akan bertanya kepadamu tentang sesuatu. Beritahukan kepadaku, apakah kamu mengetahui bahwa 'Utsman sempat melarikan diri pada waktu perang Uhud?" Ibn Umar menjawab, "Ya." Lelaki itu kembali bertanya, "Apakah kamu tahu bahwa dia tidak ikut hadir pada waktu perang Badar?" Ibn Umar menjawab, "Ya." Lelaki itu berkata lagi, "Apakah kamu juga tahu bahwa dia tidak ikut peristiwa bai'at Ridhwan?" Ibn Umar menjawab, "Ya." Maka lelaki itu berkata, "Allahu Akbar." (Mendengar lelaki tersebut berkata seperti itu) Ibn Umar berkata, "Kemarilah kamu, aku akan menjelaskannya untukmu! Adapun kalau 'Utsman lari pada waktu perang Uhud, maka aku bersaksi bahwa Allah telah memaafkan dan mengampuninya. Adapun kalau dia tidak hadir pada waktu perang Badar, maka itu karena dia harus mengurus putri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang pada waktu itu sedang menderita sakit. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya, 'Sesungguhnya kamu mendapatkan pahala dan jatah bagian perang seorang laki-laki yang ikut perang Badar.' Adapun absennya beliau pada peristiwa bai'at Ridhwan, maka seandainya ada seseorang yang lebih mulia di lembah Makkah melebihi 'Utsman, pasti Rasulullah akan mengutus orang itu untuk menggantikan posisi 'Utsman. Namun, ternyata Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengutus 'Utsman, sedangkan peristiwa bai'at Ridhwan sendiri baru terjadi setelah kepergian 'Utsman ke Makkah. Rasulullah bersabda dengan (memberikan isyarat) tangan kanannya, 'Ini adalah tangan Utsman.' Lalu beliau mempertemukan tangan itu ke tangan yang satunya lagi sambil bersabda, 'Ini (bai'at) untuk 'Utsman.'" Akhirnya Ibn Umar berkata kepada lelaki itu, "Sekarang, pergilah kamu dengan membawa keterangan ini." (HR. Bukhari).

Kekhalifahan 'Utsman ibn Affan

'Utsman ibn Affan radhiyallahu 'anhu menjabat sebagai khalifah sesudah Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu 'anhu berdasarkan kesepakatan ahlu syura.

Setelah wafatnya Umar ibn al-Khaththab akibat dibunuh oleh Abu Lu'luah pada 25 Dzulhijjah 23 H., maka diadakanlah musyawarah untuk memilih khalifah selanjutnya. Ada enam orang kandidat khalifah yang diusulkan yaitu 'Ali ibn Abi Thalib, 'Utsman ibn Affan, 'Abdurrahman ibn Auf, Sa'ad ibn Abi Waqqash, az-Zubair ibn al-Awwam dan Thalhah ibn Ubaidillah.

Selanjutnya 'Abdurrahman ibn Auf, Sa'ad ibn Abi Waqqash, az-Zubair ibn al-Awwam, dan Thalhah ibn Ubaidillah mengundurkan diri hingga hanya 'Utsman dan 'Ali yang tertinggal. Suara masyarakat pada saat itu cenderung memilih 'Utsman menjadi khalifah ketiga. Maka diangkatlah 'Utsman yang waktu itu telah berumur 70 tahun menjadi khalifah ketiga dan yang tertua, serta yang pertama dipilih dari beberapa calon. Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharram 24 H.

Beliau adalah khalifah kali pertama yang melakukan perluasan Masjid al-Haram (Makkah) dan Masjid Nabawi (Madinah) karena semakin ramai ummat Islam yang menjalankan rukun Islam kelima (haji). Beliau mencetuskan ide polisi keamanan bagi rakyatnya; membuat bangunan khusus untuk mahkamah dan mengadili perkara yang sebelumnya dilakukan di masjid; membangun pertanian, menaklukan Syiria, Afrika Utara, Persia, Khurasan, Palestina, Siprus, Rodhes, dan juga membentuk angkatan laut yang kuat yang digunakan dalam perang Dzatu Sawari. Jasanya yang paling besar adalah saat mengeluarkan kebijakan untuk memperbanyak salinan al-Qur'an yang telah tersusun dalam satu mushaf kemudian menyebarkannya ke berbagai wilayah kekuasaan Islam. Serta memerintahkan ummat Islam agar berpatokan kepadanya dan memusnahkan mushaf yang dianggap bertentangan dengan salinan tersebut.

Beliau terus menjabat khalifah hingga terbunuh sebagai syahid pada bulan Dzulhijah tahun 35 Hijriyah dalam usia 82 tahun menurut salah satu pendapat 'Ulama. (Lihat Syarh Lum'ah, hal. 141).

Kekhalifahan beliau berlangsung selama 12 tahun kurang 12 hari, beliau wafat dalam keadaan mati syahid pada tanggal 18 Dzulhijah tahun 35 Hijriyah. (Lihat al-Is'aad, hal. 71-72).

Keutamaan 'Utsman ibn Affan

Ibn 'Asakir dan yang lainnya menjelaskan dalam kitab Fadha'il ash-Shahabah bahwa 'Ali ibn Abi Thalib ditanya tentang 'Utsman, maka beliau menjawab, "'Utsman itu seorang yang memiliki kedudukan yang terhormat yang dipanggil dengan Dzun-Nuraini, dimana Rasulullah menikahkannya dengan kedua putrinya."

Dari Ummul Mu'minin 'Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah duduk dengan kondisi paha terbuka. Lalu Abu Bakar memohon izin untuk masuk dan Rasulullah tetap dalam kondisi semula. Kemudian Umar memohon izin untuk masuk sedangkan Rasulullah masih dalam kondisi seperti sedia kala. Namun ketika 'Utsman memohon izin untuk masuk, maka beliau segera menggeraikan pakaiannya. Ketika mereka semua berdiri, maka aku berkata, "Wahai Rasulullah, ketika tadi Abu Bakar dan Umar memohon izin untuk masuk menjumpai Anda, Anda telah mengizinkan keduanya dimana Anda tetap dalam posisi semula. Namun ketika 'Utsman yang memohon izin, maka Anda menggeraikan pakaian Anda." Rasulullah bersabda, "Wahai 'Aisyah, apakah aku tidak merasa malu kepada seorang laki-laki dimana Allah dan para Malaikat-Nya juga merasa malu kepadanya?" (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Fadha'il ash-Shahabah 26 pada bab "Min Fadha'ili 'Utsman ibn 'Affan radhiyallahu 'anhu).

'Utsman ibn Affan radhiyallahu 'anhu termasuk dalam golongan al-'Asyarah al-Mubasysyiriina bil Jannah atau 10 orang yang telah mendapat "busyra bil-jannah" (berita gembira sebagai penghuni surga), sebagaimana dinyatakan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak.

Wafatnya 'Utsman ibn Affan

Peristiwa pembunuhan 'Utsman ibn Affan radhiyallahu 'anhu berawal dari pengepungan rumah beliau oleh para pemberontak (kaum Khawarij) selama 40 hari, dimulai dari bulan Ramadhan hingga Dzulhijah. Meski 'Utsman mempunyai kekuatan untuk menyingkirkan pemberontak, namun beliau berprinsip untuk tidak menumpahkan darah ummat Islam. 'Utsman ibn Affan akhirnya wafat sebagai syahid pada pertengahan tasyrik tanggal 12 Dzulhijah 35 H. ketika para pemberontak berhasil memasuki rumahnya dan membunuh beliau saat sedang membaca al-Qur'an. Persis seperti apa yang disampaikan Rasullullah shallallahu 'alaihi wa sallam perihal kematian 'Utsman yang syahid nantinya.

Dari Sahl ibn Sa'ad radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Gunung Uhud pernah goncang, sedangkan di atas gunung tersebut ada Nabi shallallahu 'aiaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar dan 'Utsman. Maka Nabi bersabda, 'Tenanglah kamu wahai Gunung Uhud! Yang sedang berada di atasmu sekarang ini adalah seorang Nabi, seorang shiddiq, dan dua orang syahid!" (HR. Ahmad. Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari [3699] dari Anas dan diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad [III/112]).

Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam kitabnya Hulyah al-'Auliya dari Ibn Sirrin bahwa ketika 'Utsman terbunuh, maka istri beliau berkata, "Mereka telah tega membunuhnya, padahal ia telah menghidupkan seluruh malam dengan al-Qur'an."

'Utsman ibn Affan radhiyallahu 'anhu wafat dalam usia 82 tahun dan dimakamkan di kuburan Baqi', Madinah. Semasa hidupnya, 'Utsman ibn Affan telah meriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebanyak 146 hadits (Bukhari memasukkan 9 hadits, Muslim 5 hadits).

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala meridhai 'Utsman ibn Affan dan menempatkan beliau pada kedudukan yang tinggi di sisi Rabb-Nya. Amiin.



22.12.11

Sahabat Nabi : Amirul Mu'minin Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu 'anhu

Nama Lengkap dan Nasab

Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu 'anhu dilahirkan di kota Makkah tahun 581 M. dari Bani Adi, salah satu kabilah dari suku Quraisy. Beliau dilahirkan 12 tahun setelah kelahiran Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ayahnya bernama al-Khaththab ibn Nufail as-Shimh al-Quraisyi. Nasabnya adalah Umar ibn Khaththab ibn Nufail ibn 'Abdul Uzza ibn Riyah ibn 'Abdullah ibn Qarth ibn Razah ibn 'Adi ibn Ka'ab ibn Lu'ay ibn Ghalib. Nasab beliau bertemu dengan nasab Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pada Ka'ab ibn Lu'ay. Antara beliau dengan Nabi selisih 8 kakek. lbu beliau bernama Hantamah binti Hasyim ibn Mughirah ibn 'Abdullah ibn Umar ibn Makhzum. Rasulullah memberi beliau "kunyah" Abu Hafshah (bapak Hafshah) karena Hafshah adalah anaknya yang paling tua; dan memberi "laqab" (julukan) al-Faruq, yang berarti orang yang bisa memisahkan antara yang haq dan yang bathil.

Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu 'anhu termasuk dalam golongan al-'Asyarah al-Mubasysyiriina bil Jannah atau 10 orang yang telah mendapat "busyra bil-jannah" (berita gembira sebagai penghuni surga), sebagaimana dinyatakan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak.

Ciri-ciri Fisik Umar ibn al-Khaththab

Umar ibn Khaththab radhiyallahu 'anhu mempunyai perawakan yang tinggi besar dan tegap dengan otot-otot yang menonjol dari kaki dan tangannya, jenggot yang lebat dan berwajah tampan, serta warna kulitnya putih kemerah-merahan.

Putra-putri Umar ibn al-Khaththab

Di antara putra-putri Umar ibn Khaththab yang berasal dari istrinya yang bernama Zainab binti Mazh'un adalah 'Abdullah, 'Abdurrahman, Hafshah dan Ruqayyah. Dari istrinya yang bernama Ummu Kultsum binti Jarul adalah Zaid al-Ashgar dan Ubaidillah. Dari istrinya yang bernama Jamilah hanya memilki satu orang putra yang bernama Ashim. Dari istrinya yang bernama Lahiyyah juga hanya seorang putra yang bernama 'Abdurrahman al-Ausath. Dari istrinya yang merupakan Ummu Walad (hamba sahaya wanita yang digauli tuannya) juga membuahkan seorang putra yang bernama 'Abdurrahman al-Ashgar. Dari istrinya yang bernama Fakihah hanya mendapatkan seorang putri yang bernama Fathimah.

KeIslaman Umar ibn Khaththab

Sebelum masuk Islam, Umar ibn Khaththab dikenal sebagai seorang yang keras permusuhannya dengan kaum Muslimin, bertaklid kepada ajaran nenek moyangnya, dan melakukan perbuatan-perbuatan jelek yang umumnya dilakukan kaum Jahiliyah, namun tetap bisa menjaga harga diri. Beliau masuk Islam pada bulan Dzulhijah tahun ke-6 kenabian, tiga hari setelah Hamzah ibn 'Abdul Muththalib masuk Islam.

Masuknya Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu 'anhu ke dalam Islam adalah berkat do'a Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana hadits dari Ibn Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berdo'a, "Ya Allah, kokohkanlah agama Islam dengan salah satu dari dua orang yang paling Engkau cintai, yakni Umar ibn Khaththab atau dengan Amar ibn Hisyam (Abu Jahal)." Ternyata diantara kedua orang itu yang lebih dicintai adalah Umar ibn Khaththab radhiyallahu 'anhu. (Kualitas hadits ini shahih dan diriwayatkan oleh at-Tirmidzi [3681]. Dalam hal ini at-Tirmidzi berkata bahwa hadits ini berkualitas hasan shahih gharib serta berasal dari hadits Ibn Umar).

Kekhalifahan Umar ibn al-Khaththab

KeIslaman beliau telah memberikan andil besar bagi perkembangan dan kejayaan Islam. Beliau adalah pemimpin yang adil, bijaksana, tegas, disegani, dan selalu memperhatikan urusan kaum Muslimin. Pemimpin yang menegakkan ketauhidan dan keimanan, merobohkan kesyirikan dan kekufuran, menghidupkan sunnah dan mematikan bid'ah. Beliau adalah orang yang paling baik dan paling berilmu tentang al-Qur'an dan as-Sunnah setelah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu.

Hamzah ibn 'Amr berkata, "Abu Bakar radhiyallahu 'anhu meninggal dunia pada malam Selasa tanggal 8 Jumadil Akhir 13 H. Maka, Umar menggantikan kursi kekhalifahan pada pagi hari kematian Abu Bakar."

Dari Jami' ibn Syadad, dari ayahnya, dia berkata: Kalimat pertama yang diucapkan Umar ketika naik ke atas mimbar (pelantikan sebagai khalifah) adalah, "Ya Allah, sesungguhnya aku ini orang yang keras, maka lunakkanlah aku! Sesungguhnya aku adalah orang yang lemah, kuatkanlah aku! Sesungguhnya aku adalah orang yang bakhil, maka jadikanlah aku orang yang dermawan." (Hadits ini diriwayatkan oleh Ibn Sa'ad di dalam kitab Thabaqat-nya. Disebutkan pula oleh Abu Nu'aim di dalam kitab al-Hilyah [I/53]).

al-Askari berkata, "Umar ibn Khaththab adalah orang yang pertama kali diberi julukan Amirul Mu'minin, menetapkan penangggalan tahun Hijriyah, membuat Baitul Mal, mengadakan shalat qiyamu Ramadhan (tarawih) secara berjama'ah, mengadakan inspeksi pada malam hari, menjatuhkan hukuman bagi tukang fitnah, menghukum peminum khamr sebanyak 80 kali dera, mengharamkan nikah mut'ah, mengharamkan penjualan hamba sahaya perempuan yang telah melahirkan anak untuk majikannya, mengadakan shalat jenazah berjama'ah dengan empat takbir, membentuk departemen-departemen, mengirim makanan dari Mesir ke Madinah melalui jalur laut Ablah, menentukan aturan 'aul dalam ilmu faraid, menarik zakat kuda, dan orang yang pertama kali berkata, 'Ayyadakallah (semoga Allah mengokohkanmu) kepada 'Ali. Demikianlah akhir keterangan yang disampaikan oleh al-Askari.

Kekhalifahan Umar ibn al-Khaththab berlangsung selama 10 tahun 6 bulan lebih 3 hari. Semenjak tanggal 23 Jumadil Akhir 13 Hijriyah hingga 26 Dzulhijjah tahun 23 Hijriyah. (al-Is'aad fi Syarhi Lum'atil I'tiqad, hal. 71, Syarh Lum'ah, hal. 143).

Keutamaan Umar ibn al-Khaththab

Dari Sa'ad ibn Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau pernah bersabda kepada Umar, "Demi Dzat yang menguasai jiwaku, tidak akan ada syaitan yang bertemu denganmu di sebuah jalan, kecuali dia akan memilih jalan lain yang tidak kamu lewati." (HR. Bukhari-Muslim dalam kitab Shahihain. Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari [3683] dan Muslim [Fadha'il ash-Shahabah 23] pada bab Min Fadha'il Umar radhiyallahu 'anhu).

Selain pemberani, Umar ibn Khaththab juga seorang yang cerdas. Dalam masalah ilmu diriwayatkan oleh al-Hakim dan Thabrani dari Ibn Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata, "Seandainya ilmu Umar ibn Khaththab diletakkan pada tepi timbangan yang satu dan ilmu seluruh penghuni bumi diletakkan pada tepi timbangan yang lain, niscaya ilmu Umar ibn Khaththab lebih berat dibandingkan ilmu mereka."

al-Imam Ibn Majah rahimahullah berkata, "Telah menceritakan kepada kami Hisyam ibn 'Ammar: Telah menceritakan kepada kami Sufyan (ibn 'Uyainah), dari al-Hasan ibn al-Umarah, dari Firas, dari asy-Sya'bi, dari al-Harits, dari 'Ali, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Abu Bakar dan Umar adalah dua orang pemimpin bagi orang-orang dewasa penduduk surga, dari kalangan terdahulu maupun yang kemudian selain para Nabi dan Rasul. Jangan engkau khabarkan hal ini kepada mereka wahai 'Ali, selama mereka masih hidup." (Sunan Ibn Majah [95]).

Aktivitas Ibadah Umar ibn al-Khaththab

Dari Ibn Umar radhiyallahu 'anhuma, dia berkata, "Umar tidak meninggal dunia sampai beliau telah menunaikan ibadah puasa secara terus-menerus."

Dari Sa'id ibn al-Musayyib rahimahullah, dia berkata, "Umar senang sekali melakukan ibadah shalat di tengah malam, tepatnya di pertengahan malam."

Ketawadhu'an Umar ibn al-Khaththab

Disebutkan di dalam al-Mudawwanah al-Kubra: Ibn al-Qasim mengatakan, "Aku pernah mendengar Malik membawakan sebuah kisah bahwa pada suatu ketika di masa kekhalifahan Abu Bakar ada seorang lelaki yang bermimpi bahwa ketika itu hari kiamat telah terjadi dan seluruh ummat manusia dikumpulkan. Di dalam mimpi itu dia menyaksikan Umar mendapatkan ketinggian dan kemuliaan derajat yang lebih di antara manusia yang lain. Dia mengatakan: Kemudian aku berkata di dalam mimpiku, 'Karena faktor apakah Umar ibn al-Khaththab bisa mengungguli orang-orang yang lain?' Dia berkata: Lantas ada yang berujar kepadaku, 'Dengan sebab kedudukannya sebagai khalifah dan orang yang mati syahid, dan dia juga tidak pernah merasa takut kepada celaan siapapun selama dirinya tegak berada di atas jalan Allah.' Pada keesokan harinya, laki-laki itu datang dan ternyata di situ ada Abu Bakar dan Umar sedang duduk bersama. Maka dia pun mengisahkan isi mimpinya itu kepada mereka berdua. Ketika dia selesai bercerita maka Umar pun menghardik orang itu seraya berkata kepadanya, 'Pergilah kamu, itu hanyalah mimpi orang tidur!' Lelaki itupun bangkit meninggalkan tempat tersebut. Ketika Abu Bakar telah wafat dan Umar memegang urusan pemerintahan, maka beliau pun mengutus orang untuk memanggil si lelaki itu. Kemudian Umar berkata kepadanya, 'Ulangi kisah mimpi yang pernah kamu ceritakan dahulu.' Lelaki itu menjawab, 'Bukankah anda telah menolak cerita saya dahulu?!' Umar mengatakan, 'Tidakkah kamu merasa malu menyebutkan keutamaan diriku di tengah-tengah majelis Abu Bakar sementara pada saat itu dia sedang duduk di tempat itu?' Syaikh 'Abdul Aziz as-Sadhan mengatakan, 'Umar radhiyallahu 'anhu tidak merasa ridha keutamaan dirinya disebutkan sementara di saat itu ash-Shiddiq (Abu Bakar) -dan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu jelas lebih utama dari beliau- hadir mendengarkan kisah itu, walaupun sebenarnya dia tidak perlu merasa berat ataupun bersalah mendengarkan hal itu, akan tetapi inilah salah satu bukti kerendahan hati beliau radhiyallahu 'anhu'." (lihat Ma'alim fi Thariq Thalabil 'Ilmi, hal. 103-104).

Sifat Zuhud Umar ibn al-Khaththab

Dari Mush'ab ibn Sa'ad, dia berkata: Hafshah telah berkata kepada Umar, "Wahai Amirul Mu'minin, andai saja Anda mengenakan pakaian yang lebih halus dibandingkan dengan pakaian Anda (sekarang ini) dan juga mengkonsumsi makanan yang lebih baik dari makanan yang Anda makan (sekarang ini). (Bukankah) Allah telah melapangkan rezeki dan memberikan banyak kebaikan!" Umar menjawab, "Sesungguhnya aku akan memusuhimu (kalau terus menganjurkanku melakukan hal itu). Tidakkah kamu ingat bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam senantiasa mengalami hidup yang sangat payah? Begitu juga dengan Abu Bakar?" Umar terus mengingatkan Hafshah hingga akhirnya putrinya itu menangis. Lalu Umar berkata kepadanya, "Ingatlah, demi Allah pasti aku akan menjalani hidupku seperti kehidupan mereka berdua yang sangat sulit! Mungkin saja aku akan mendapatkan kehidupan sejahtera seperti keduanya (di alam berikutnya)." (HR. Ahmad).

Wafatnya Umar ibn al-Khaththab

Pada hari Rabu bulan Dzulhijah tahun 23 H/644 M., Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu 'anhu wafat. Beliau ditikam ketika sedang melakukan Shalat Subuh oleh seorang Majusi yang bernama Abu Lu'luah (Fairuz), budak milik al-Mughirah ibn Syu'bah, diduga ia mendapat perintah dari kalangan Majusi yang dendam pada Khalifah Umar ibn Khaththab.

Amr ibn Maimun berkata, "Pada pagi hari terbunuhnya Umar, aku berdiri dekat sekali dengan Umar. Penghalang antara aku dan beliau hanyalah 'Abdullah ibn Abbas. Kebiasaannya, jika beliau berjalan disela-sela shaf, beliau selalu berkata, 'Luruskan!' Setelah melihat barisan telah rapat dan lurus, beliau maju dan mulai bertakbir. Pada waktu itu mungkin beliau sedang membaca surat Yusuf atau an-Nahl ataupun surat lainnya pada raka'at pertama hingga seluruh jama'ah hadir berkumpul. Ketika beliau bertakbir, tiba-tiba aku mendengar beliau menjerit, 'Aku dimakan anjing (aku ditikam)'. Ternyata beliau ditikam oleh seorang budak, kemudian budak kafir itu lari dengan membawa pisau belati bermata dua. Setiap kali melewati orang-orang, dia menikamkan belatinya ke kanan maupun ke kiri hingga menikam tiga belas orang kaum Muslimim dan tujuh di antaranya meninggal. Ketika salah seorang dari kaum Muslimin melihat peristiwa itu, ia melemparkan burnus (baju berpenutup kepala) untuk menangkapnya. Ketika budak kafir itu yakin bahwa dia akan tertangkap, dia langsung bunuh diri.

Umar segera menarik tangan 'Abdurrahman dan menyuruhnya maju menjadi imam. Siapa saja yang berdiri di belakang Umar pasti akan melihat apa yang aku lihat. Adapun orang-orang yang berada disudut-sudut masjid, mereka tidak tahu apa yang telah terjadi, hanya saja mereka tidak mendengar suara Umar. Di antara mereka ada yang mengatakan, Subhanallah'. Maka akhirnya 'Abdurrahman yang menjadi imam shalat mereka dan ia sengaja memendekkan shalat. Selesai orang-orang mengerjakan shalat, Umar berkata, 'Wahai Ibn Abbas, lihatlah siapa yang telah menikamku'. Ibn Abbas pergi, sesaat kemudian kembali sambil berkata, 'Pembunuhmu adalah budak milik al-Mughirah. Umar bertanya, 'Budaknya yang lihai
bertukang itu?' Ibn Abbas menjawab, 'Ya'. Umar berkata, 'Semoga Allah membinasakannya. Padahal aku telah menyuruhnya kepada kebaikan. Alhamdulillah yang telah menjadikan sebab kematianku di tangan orang yang tidak beragama Islam. Engkau dan ayahmu (Abbas) menginginkan agar budak-budak kafir itu banyak tinggal di Madinah'."

Dari Utsman ibn Affan radhiyallahu 'anhu dia berkata, "Aku adalah orang yang terakhir kali menyaksikan kematian Umar di antara kalian. Aku mengunjunginya ketika kepalanya berada di pangkuan anaknya yang bernama 'Abdullah. Lalu Umar berkata kepada putranya itu, 'Letakanlah pipiku di atas permukaan bumi!' 'Abdullah berkata, 'Bukankah pahaku dan permukaan bumi sama saja?' Umar berkata lagi, 'Letakanlah pipiku di atas permukaan bumi!' Umar mengucapkan kalimat itu sampai dua atau tiga kali. Aku juga mendengarnya berkata, 'Sungguh celaka aku jika Engkau tidak mengampuniku'. Sampai akhirnya nyawanya dicabut dari jasadnya." (Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani dari hadits Ibn Umar radhiyallahu 'anhuma dengan kualitas hasan menurut al-Hafizh al-Haitsami. Lihat kitab al-Majma [9/76]).

Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu 'anhu wafat tiga hari setelah peristiwa itu, beliau dikebumikan pada hari Ahad di awal bulan Muharram tahun 24 Hijriyah dan dikebumikan di kamar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di samping Abu Bakar ash-Shiddiq setelah mendapat izin dari Ummul Mu'minin 'Aisyah radhiyallahu 'anha. Semasa hidupnya, Umar ibn al-Khaththab telah meriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebanyak 537 hadits (yang dianggap shahih, 50).

Abu Ma'syar berkata, "Umar terbunuh pada tanggal 25 Dzulhijjah tepat penghujung tahun 23 Hijriyah. Masa kekhalifahannya adalah 10 tahun 6 bulan 4 hari. Setelah itu 'Utsman diba'iat menjadi khalifah."

Umar ibn al-Khaththab wafat saat beliau berumur 63 tahun, dan dalam riwayat yang lain beliau wafat ketika berusia 57 tahun.

Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu berkata, "Usia Umar ketika meninggal dunia adalah 63 tahun."

Dari asy-Sya'bi rahimahullah disebutkan bahwa Abu Bakar meninggal dunia pada usia 63 tahun. Begitu juga dengan Umar yang meninggal dunia pada usia 63 tahun.

Menurut Salim ibn 'Abdullah rahimahullah, Umar meninggal dunia pada usia 65 tahun.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala meridhai Umar ibn al-Khaththab dan menempatkan beliau pada kedudukan yang tinggi di sisi Rabb-Nya. Amiin.



21.12.11

Sahabat Nabi : Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, Khalifah Pertama Kaum Muslimin

Nama Lengkap dan Nasab

Nama lengkapnya adalah 'Abdullah ibn 'Utsman ibn Amir ibn 'Amru ibn Ka'ab ibn Sa'ad ibn Taim ibn Murrah ibn Ka'ab ibn Lu'ay ibn Ghalib ibn Fihr al-Quraishy at-Tamimi. Bertemu nasabnya dengai Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pada kakeknya Murrah ibn Ka'ab bin Lu'ai. Dan ibu dari Abu Bakar adalah Ummu al-Khair salma binti Shakhr ibn Amir ibn Ka'ab ibn Sa'ad ibn Taim, yang ketika meninggal dunia telah menjadi seorang wanita Muslimah. Berarti ayah dan ibunya sama-sama dari kabilah Bani Taim suku Quraisy. Abu Bakar ash-Shiddiq, lahir pada 573 M di Makkah, usianya dua tahun lebih muda dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Nama pada zaman Jahiliyah adalah 'Abdul Ka'bah artinya 'hamba Ka'bah', yang kemudian setelah masuk Islam diubah oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjadi 'Abdullah artinya 'hamba Allah'. Panggilan Abu Bakar ash-Shiddiq sebenarnya adalah sebagai gelar saja. "Abu" artinya bapak, "Bakar" artinya dengan segera (beliau dinamai demikian karena beliau masuk Islam dengan segera, mendahului yang lain).
Kemudian "ash-Shiddiq" artinya yang amat membenarkan. Karena beliau amat membenarkan berbagai pengalaman dan ajaran yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, terutama peristiwa Isra' Mi'raj.

Dari Hakim ibn Sa'ad, dia berkata, "Aku telah mendengar 'Ali bersumpah dengan nama Allah bahwa Dia menurunkan dari langit nama ash-Shiddiq untuk Abu Bakar." (al-Haitsami berkata, "Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani dengan para perawi yang tsiqah." Lihat kitab al-Majma' [9/41]).

Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu termasuk dalam golongan al-'Asyarah al-Mubasysyiriina bil Jannah atau 10 orang yang telah mendapat "busyra bil-jannah" (berita gembira sebagai penghuni surga), sebagaimana dinyatakan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak.

Ciri-ciri Fisik Abu Bakar ash-Shiddiq

Diriwayatkan dari Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu, dia berkata, "Aku bersama ayahku berkunjung ke rumah Abu Bakar ash-Shiddiq. Lalu aku melihat Asma' berdiri di hadapan beliau, sedangkan rambut Abu Bakar sudah putih semua. Aku benar-benar melihat Abu Bakar sebagai seorang yang telah beruban dan berperawakan kurus. Dia menaikanku dan ayahku ke atas dua ekor kuda. Kemudian kami pamit kepadanya, dan diapun mempersilakan kami untuk pergi." (al-Haitsami berkata, "Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani dengan para perawi yang biasa meriwayatkan di dalam kitab ash-Shahih." Lihat al-Majma' [9/41]).

Putra-putri Abu Bakar ash-Shiddiq

Di antara putra-putri Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu adalah 'Abdullah dan Asma' yang mendapatkan julukan Dzatun-Nithaqain. Ibu dari kedua anak ini adalah Qutailah. Anak Abu Bakar yang lainnya adalah 'Abdurrahman dan 'Aisyah, keduanya berasal dari ibu yang bernama Ummu Ruman. Kemudian anak beliau yang lain lagi adalah Muhammad. Ibu anak ini bernama Asma' binti Umais.

Anak Abu Bakar lainnya adalah Ummu Kultsum. Ibu dari putrinya yang satu ini adalah Habibah binti Kharijah ibn Zaid. Ceritanya, ketika Abu Bakar ash-Shiddiq hijrah ke Madinah, beliau singgah di rumah Kharijah. Lalu beliau menikah dengan putrinya yang bernama Habibah tersebut.

Mengenai 'Abdullah, dia sempat ikut serta pada perang Tha'if. Sedangkan Asma', dia dinikahi oleh az-Zubair ibn al-Awwam dan sempat melahirkan beberapa putra. Namun kemudian az-Zubair menceraikannya. Dia terus hidup bersama putranya yang bernama 'Abdullah sampai akhirnya putranya tersebut terbunuh. Asma' sendiri meninggal dalam usia 100 tahun.

Adapun 'Abdurrahman, dia sempat ikut perang Badar bersama-sama orang musyrik. Namun kemudian dia memeluk agama Islam. Berbeda lagi dengan Muhammad, dia termasuk ahli ibadah dari kalangan orang-orang Quraisy. Dia memberikan pertolongan kepada 'Utsman ibn 'Affan radhiyallahu 'anhu pada hari kekhalifahannya dikudeta. Pada masa kekhalifahan 'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, dia diangkat sebagai penguasa di Mesir. Ketika terjadi perselisihan antara Khalifah 'Ali dengan Mu'awiyah, dia terbunuh di negeri tersebut. Sedangkan Ummi Kultsum, dia dinikahi oleh Thalhah ibn Ubaidillah radhiyallahu 'anhu.

KeIslaman Abu Bakar ash-Shiddiq

Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu adalah salah satu Sahabat yang paling awal memeluk Islam, sehingga beliau termasuk ke dalam golongan "as-Sabiqun al-Awwalun".

Diriwayatkan oleh Abu Hasan al-Athrabulusi, sebagaimana disebutkan dalam al-Bidayah [3/29] 'dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata, "Sejak zaman Jahiliyah, Abu Bakar adalah kawan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Pada suatu hari, dia hendak menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, ketika bertemu dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dia berkata, 'Wahai Abul Qosim (panggilan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam), ada apa denganmu, sehingga engkau tidak terlihat di majelis kaummu dan orang-orang menuduh bahwa engkau telah berkata buruk tentang nenek moyangmu dan lain-lain lagi?' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Sesungguhnya aku adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan aku mengajak kamu kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala." Setelah selesai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berbicara, Abu Bakar pun langsung masuk Islam. Melihat keIslamannya itu beliau gembira sekali, tidak ada seorangpun yang ada di antara kedua gunung di Makkah yang merasa gembira melebihi kegembiraan beliau. Kemudian Abu Bakar menemui 'Utsman ibn 'Affan, Thalhah ibn 'Ubaidillah, az-Zubair ibn al-Awwam, dan Sa'ad ibn Abi Waqqash radhiyallahu 'anhum, mengajak mereka untuk masuk Islam. Lalu, merekapun masuk Islam. Hari berikutnya Abu Bakar menemui 'Utsman ibn Mazhum, Abu Ubaidah ibn al-Jarrah, 'Abdurrahman ibn Auf, Abu Salamah ibn 'Abdul Saad, dan al-Arqam ibn Abu al-Arqam radhiyallahu 'anhum, juga mengajak mereka untuk masuk Islam."

Hassan ibn Tsabit, Ibn Abbas, Asma' binti Abu Bakar, dan Ibrahim an-Nakha'i berkata, "Orang yang pertama kali memeluk agama Islam adalah Abu Bakar."

Yusuf ibn Ya'qub ibn al-Majasyun berkata, "Aku masih sempat menjumpai kehidupan ayahku dan beberapa orang syaikh-ku. Mereka itu adalah Muhammad ibn al-Munkadir, Rabi'ah ibn Abi 'Abdirrahman, Shalih ibn Kaisan, Sa'ad ibn Ibrahim, dan 'Utsman ibn Muhammad al-Akhnasi. Mereka semua tidak meragukan bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq adalah orang yang pertama kali memeluk agama Islam."

al-Hafizh berkata, "Jumhur 'Ulama sepakat bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq adalah orang yang pertama kali memeluk agama Islam dari kalangan laki-laki dewasa." (Lihat Fathul Bari [7/207]).

Ibn Asakir meriwayatkan hadits ini dengan sanad yang baik dari Muhammad ibn Sa'ad ibn Abi Waqqash, bahwa dia berkata kepada ayahnya, "Apakah Abu Bakar ash-Shiddiq merupakan orang yang pertama kali masuk Islam di antara kalian?" Sa'ad menjawab, "Tidak, akan tetapi ada sekitar lima orang yang memeluk Islam lebih dahulu dibandingkan dia. Hanya saja dia memang orang yang kualitas Islamnya paling bagus di antara kita."

Ibn Katsir berkata, "Yang jelas, anggota keluarga Rasulullah adalah orang-orang yang memeluk Islam lebih awal dibandingkan orang lain. Mereka itu adalah istri beliau Khadijah, hamba sahaya beliau yang bernama Zaid, istri Zaid yang bernama Ummu Aiman, kemudian 'Ali dan Waraqah."

Muhammad ibn Ishaq menyebutkan bahwa dari 10 orang yang pertama kali masuk Islam, ada 5 orang yang menyatakan keIslamannya di hadapan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu. Mereka itu adalah 'Utsman ibn 'Affan, Thalhah ibn Ubaidillah, az-Zubair ibn al-Awwam, Sa'ad ibn Abi Waqqash, dan 'Abdurrahman ibn Auf radhiyallahu 'anhum. (Lihat dalam kitab Sirah Ibn Hisyam [I/250]).

Para 'Ulama ahli sejarah menyebutkan bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq ikut perang Badar bersama-sama dengan Rasulullah dan juga ikut pada peperangan yang lain. Dia tidak pernah absen dalam setiap peperangan. Pada waktu perang Uhud, tepatnya ketika orang-orang Islam sudah mulai terdesak, Abu Bakar masih setia di barisan peperangan. Abu Bakar juga telah dipercaya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk memegang panji kebesaran ummat Islam pada waktu perang Tabuk.

Ketika Abu Bakar ash-Shiddiq memeluk agama Islam, dia memiliki uang sebesar 40.000 Dirham. Uang itulah yang beliau gunakan untuk memerdekakan para hamba sahaya yang disiksa tuannya karena memeluk agama Allah. Uang itu juga digunakan untuk memperkuat perjuangan kaum Muslimin. Beliau-lah orang yang pertama kali mengkodifikasikan kitab suci al-Qur'an.

Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu senantiasa menjauhkan dirinya dari segala jenis khamr (minuman keras), baik pada masa Jahiliyah maupun masa Islam. Beliau juga orang yang menjauhkan dirinya dari sesuatu yang bersifat syubhat. Pernah suatu kali beliau memuntahkan kembali makanan yang telah ditelannya karena ragu akan kehalalan makanan tersebut.

Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu adalah orang pertama yang diangkat sebagai khalifah setelah wafatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan waktu itu ayahandanya masih hidup. Ia juga khalifah yang pertama kali digaji oleh rakyatnya.

Imam Bukhari meriwayatkan dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, dia berkata, "Ketika Abu Bakar diangkat sebagai khalifah, dia pun berkata, 'Kaumku telah mengetahui bahwa mata pencaharianku masih mampu mencukupi kebutuhan keluargaku. Namun aku disibukkan menangani urusan kaum Muslimin. Oleh karena itu, keluarga Abu Bakar akan makan dari harta (gaji) ini dan Abu Bakar sendiri akan menangani urusan kaum Muslimin'."

Masa Kekhalifahan

Dari Ibn 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, dia berkata: Umar ibn Khaththab telah berkata, "Di antara berita yang beredar di tengah-tengah kami pada hari wafatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah 'Ali dan az-Zubair berada di rumah Fathimah, sedangkan para Sahabat kalangan Anshar sedang berada di Saqifah Bani Sa'idah. Berbeda dengan para Sahabat kalangan Muhajirin yang pada waktu itu berkumpul di sekitar Abu Bakar. Maka aku (Umar) berkata kepadanya, 'Wahai Abu Bakar, mari beranjak bersama kami menuju saudara-saudara kita dari kalangan Anshar!'

Akhirnya kami semua bertolak sampai akhirnya bertemu dengan dua orang lelaki shalih. Keduanya memberitahu kami tentang apa yang sedang dikerjakan orang-orang. Keduanya berkata, 'Wahai orang-orang Muhajirin, kalian semua hendak pergi kemana?' Aku menjawab, 'Kami hendak mengunjungi saudara-saudara kami dari kalangan Anshar'. Namun keduanya malah berkata, 'Kalian tidak usah mengunjungi mereka, kerjakan saja urusan kalian!' Maka aku berkata, 'Demi Allah, kami tetap akan mengunjungi mereka.'

Kami terus bertolak sampai akhirnya tiba di tengah-tengah mereka, tepatnya di Saqifah Bani Sa'idah. Ternyata mereka semua telah berkumpul. Di hadapan mereka ada seorang laki-laki berselimut. Maka aku pun bertanya, 'Siapakah ini?' Orang-orang menjawab, 'Sa'ad ibn Ubadah'. Aku kembali berkata, 'Ada apa dengannya?' Mereka kembali menjawab, 'Dia tengah menderita sakit'.

Ketika kami duduk, tiba-tiba orator kaum Anshar berdiri sambil melafazhkan kalimat pujian kepada Allah 'Azza wa Jalla sebagai Dzat yang memang layak untuk menerima segala bentuk pujian. Dia juga berkata, 'Amma ba'du, kita semua adalah para penolong Allah sekaligus juga sebagai pasukan berkuda agama Islam. Sedangkan kalian -wahai sekalian orang-orang Muhajirin- hanyalah sekelompok orang dari kita. Sesungguhnya ada sekelompok orang dari kalian yang diam-diam hendak menyingkirkan kami dan menjauhkan kami dari sebuah urusan yang besar'."

Umar berkata, "Ketika orang itu telah diam, maka aku hendak berbicara. Sungguh aku telah mempersiapkan sebuah kalimat yang menurutku sangat bagus untuk diutarakan. Aku hendak mengutarakannya juga di hadapan Abu Bakar, sebab aku juga pernah tidak sependapat dengannya dalam beberapa hal. Namun, bagaimanapun juga, Abu Bakar adalah orang yang lebih sabar dan lebih berwibawa dibandingkan aku. Ternyata Abu Bakar berkata kepadaku, 'Bersikaplah agak pelan!' Tentu saja aku tidak suka kalau marah kepadanya. Demi Allah, ternyata Abu Bakar tidak meninggalkan beberapa konsep kalimat yang aku persiapkan. Semua ide yang ada dalam benakku telah dia lontarkan di hadapan orang-orang dengan redaksi yang sangat santun. Dia terus mengucapkan hal itu sampai akhir perkataannya.

Dalam hal ini Abu Bakar berkata, 'Amma ba'du, adapun hal-hal positif yang telah kalian utarakan, memang sudah terbukti kalian lakukan. Namun tidak ada orang Arab yang mengetahui permasalahan (kekhilafahan) ini kecuali memang berada di tangan salah seorang penghuni kampung dari kalangan suku Quraisy ini. Mereka itu adalah orang-orang yang memiliki nasab dan tempat tinggal yang paling baik. Aku ridha kalau salah seorang dari kedua orang ini menjadi pemimmpin kalian. Terserah, mana di antara keduanya yang akan kalian pilih'."

Umar berkata, "Ternyata Abu Bakar mengandeng tanganku dan tangan Abu Ubaidah ibn al-Jarrah. Sesungguhnya semua perkataan Abu Bakar yang telah dilontarkan tidak ada yang aku benci kecuali hanya yang terakhir ini. Demi Allah, hal itu sama dengan aku disuruh maju kemudian tengkukku dipenggal. Tidak ada sesuatu yang mendekatkan aku kepada sebuah dosa, kecuali dia masih lebih aku sukai daripada harus memimpin sebuah kaum sedangkan di tengah-tengah mereka masih ada Abu Bakar, kecuali apabila dia memang membujukku untuk menerima jabatan tersebut ketika dia sudah hendak meninggal dunia.

Tiba-tiba ada seseorang dari kalangan Anshar berkata, 'Aku adalah orang yang bisa dipercaya pendapatnya lagi berpengalaman. Aku juga tokoh yang cukup dihormati. (Lebih baik) di antara kita ada seorang pemimpin dan di antara kalian juga ada seorang pemimpin'. Maka, suara gaduh pun terdengar sampai aku khawatir kalau persatuan orang-orang Muslimin pecah.

Ketika itulah aku berkata, 'Julurkanlah tanganmu, wahai Abu Bakar! Karena aku akan membai'atmu sebagai khalifah'. Maka, Abu Bakar dibai'at oleh orang-orang Muhajirin yang kemudian diikuti oleh orang-orang Anshar." (HR. Imam Ahmad).

Dari Humaid ibn Hilal, dia berkata: Ketika Abu Bakar diangkat sebagai khalifah, maka para Sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Tetapkanlah gaji yang mencukupi untuk khalifah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam." Lalu sebagian yang lain berkata, "Ya, berilah dia dua helai kain beludru. Apabila kedua kain itu telah usang, maka hendaklah dia mengembalikannya dan mengambil lagi kain yang lain. Berikanlah juga fasilitas kendaraan jika dia bepergian dan sejumlah uang belanja untuk keluarganya, sebagaimana yang dia berikan sebelum diangkat sebagai khalifah." Maka Abu Bakar radhiyallahu 'anhu berkata, "Aku rela dengan hal itu."

Umair ibn Ishaq berkata, "Abu Bakar pernah keluar memanggul beban di atas pundaknya. Maka ada seorang lelaki berkata kepadanya, 'Biarkanlah aku yang membawa barang itu untukmu!' Abu Bakar berkata, 'Jangan memperdulikan aku, dan jangan pula memperdaya diriku! Sebab, Ibn Khaththab telah mencukupi kebutuhan keluargaku'."

Menurut para 'Ulama ahli sejarah, Abu Bakar menerima jasa memerah susu kambing untuk penduduk desa. Ketika beliau telah dibai'at menjadi khalifah, ada seorang wanita desa berkata, "Sekarang Abu Bakar tidak akan lagi memerahkan susu kambing kami." Perkataan itu didengar oleh Abu Bakar sehingga dia berkata, "Tidak, bahkan aku akan tetap menerima jasa memerah susu kambing kalian. Sesungguhnya aku berharap dengan jabatan yang telah aku sandang sekarang ini sama sekali tidak merubah kebiasaanku di masa silam."

Ibn Asakir meriwayatkan keterangan dari Aniah. Dia berkata, "Abu Bakar berada di tengah-tengah kita selama setahun sebelum diangkat sebagai khalifah, dan setahun setelah beliau menjabat sebagai khalifah. Ketika itu kaum perempuan desa itu datang dengan membawa kambing mereka kepada Abu Bakar, sebab Abu Bakar menerima jasa memerahkan susu kambing."

Ketika Abu Bakar diangkat sebagai khalifah, dia memerintahkan Umar untuk mengurusi urusan haji kaum Muslimin. Barulah pada tahun berikutnya Abu Bakar menunaikan haji. Sedangkan untuk ibadah umrah, beliau lakukan pada bulan Rajab tahun 12 H.

Dia memasuki kota Makkah sekitar waktu dhuha dan langsung menuju rumahnya. Pada waktu itu, Abu Quhafah -ayah beliau- sedang duduk di depan pintu rumahnya. Dia ditemani oleh beberapa orang pemuda yang sedang berbincang-bincang dengannya. Lalu dikatakan kepada Abu Quhafah, "Ini putramu (telah datang)!" Maka, Abu Quhafah berdiri dari tempatnya. Abu Bakar bergegas menyuruh untanya untuk bersimpuh. Dia turun dari untanya ketika unta itu belum sempat bersimpuh dengan sempurna sambil berkata, "Wahai ayahku, janganlah Anda berdiri!" Lalu Abu Bakar memeluk Abu Quhafah dan mengecup keningnya. Tentu saja Abu Quhafah menangis sebagai luapan rasa bahagia dengan kedatangan putranya tersebut.

Setelah itu, datanglah beberapa tokoh kota Makkah seperti Attab ibn Usaid, Suhail ibn Amru, Ikrimah ibn Abi Jahal, dan al-Harits ibn Hisyam. Mereka semua mengucapkan salam kepada Abu Bakar, "Assalaamu'alaika, wahai khalifah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam!" Mereka semua menjabat tangan Abu Bakar. Lalu Abu Quhafah berkata, "Wahai Atiq (julukan untuk Abu Bakar), mereka itu adalah orang-orang (yang baik). Oleh karena itu, jalinlah persahabatan yang baik dengan mereka!" Abu Bakar berkata, "Wahai ayahku, tidak ada daya dan kekuatan kecuali hanya dengan pertolongan Allah. Aku telah diberi beban yang sangat berat, tentu saja aku tidak akan memiliki kekuatan untuk menanggungnya kecuali hanya dengan pertolongan Allah." Lalu Abu Bakar berkata, "Apakah ada orang yang akan mengadukan sebuah perbuatan dzalim?" Ternyata tidak ada seorang pun yang datang kepada Abu Bakar untuk melaporkan sebuah kedzaliman. Semua orang malah menyanjung pemimpin mereka tersebut.

Kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq berlangsung selama 2 tahun 3 bulan 9 hari. Semenjak 13 Rabi'ul Awwal 11 H hingga 22 Jumadil Akhir 13 H.

Kebijakan Abu Bakar ash-Shiddiq

Memerangi Golongan yang tidak mau membayar Zakat

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau meriwayatkan: Setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam wafat dan kemudian Abu Bakar radhiyallahu 'anhu diangkat sebagai khalifah sesudahnya, maka pada saat itu sebagian bangsa Arab kembali kepada kekafiran. Ketika itu Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu 'anhu berkata kepada Abu Bakar, "Bagaimana engkau akan memerangi orang-orang itu -maksudnya adalah kaum yang enggan membayar zakat- sementara Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Aku
diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan la ilaha illallah. Barangsiapa yang telah mengucapkan la ilaha illallah maka dia telah menjaga harta dan jiwanya dariku kecuali apabila ada alasan yang benar -untuk mengambilnya-. Adapun hisabnya adalah terserah kepada Allah Ta'ala?'" Maka Abu Bakar pun mengatakan, "Demi Allah! Benar-benar aku akan memerangi orang-orang yang membeda-bedakan antara sholat dengan zakat. Karena sesungguhnya zakat itu adalah hak atas harta. Demi Allah! Seandainya mereka tidak mau menyerahkan kepadaku seikat karung (zakat) yang dahulu biasa mereka tunaikan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam niscaya aku akan memerangi mereka kalau mereka tetap berkeras tidak mau menyerahkannya." Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu 'anhu pun mengatakan, "Demi Allah! Tidaklah mungkin hal itu berani dilakukannya melainkan karena aku yakin bahwa Allah telah melapangkan dada Abu
Bakar untuk berperang. Dari situlah Aku mengetahui bahwa dia berada di atas kebenaran." (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Minnatul Mun'im fi Syarh Shahih Muslim [1/69-70], dan Syarh Muslim li an-Nawawi [2/50-51]).

Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq memerangi mereka bukan karena murtad -walaupun ada juga yang murtad di antara mereka-. Namun hal itu beliau lakukan karena mereka telah membatalkan ikatan perjanjian keselamatan yang berupa pembayaran zakat, sehingga mereka dikategorikan sebagai pemberontak (ahlul baghyi). Sebagaimana orang yang menolak kewajiban shalat berhak untuk diperangi, maka demikian pula orang yang menolak membayar zakat. Oleh sebab itu Abu Bakar mengatakan, "Sungguh, aku akan memerangi orang yang membeda-bedakan antara shalat dengan zakat. Karena sesungguhnya zakat adalah hak atas harta."

Perang Riddah

Dalam perang Riddah peperangan terbesar adalah memerangi "Ibn Habib al-Hanafi" yang lebih dikenal dengan nama Musailamah al-Kazab (Musailamah si pembohong), yang mengklaim dirinya sebagai nabi baru menggantikan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Musailamah kemudian dikalahkan pada pertempuran Akraba oleh Khalid ibn Walid radhiyallahu 'anhu. Perang Riddah (perang melawan kemurtadan) pun berjalan alot. Di bawah kepemimpinan Khalid ibn Walid, akhirnya perang dapat diakhiri dengan kemenangan di tangan pemerintahan Abu Bakar ash-Shiddiq. Namun akibat yang muncul adalah tewasnya banyak di antara Sahabat yang hafal al-Qur'an (Qori) karena keikutsertaan mereka dalam perang tersebut. Mereka adalah penghafal bagian-bagian al-Qur'an.

Pembukuan al-Qur'an

Pada tahun 12 H., Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu memerintahkan Zaid ibn Tsabit radhiyallahu 'anhu agar mengumpulkan al-Qur'an dari berbagai tempat penulisan, baik yang ditulis di kulit-kulit, dedaunan, maupun dari hafalan yang tersimpan dalam dada kaum Muslimin. Peristiwa itu terjadi setelah para Qari penghafal al-Qur'an banyak yang terbunuh dalam peperangan Yamamah.

Zaid ibn Tsabit radhiyallahu 'anhu pernah berkata, "Abu Bakar mengirim surat kepadaku tentang orang-orang yang terbunuh di perang Yamamah. Pada saat aku mendatanginya, aku melihat Umar ibn Khaththab berada di sampingnya. Abu bakar lalu berkata, 'Umar mendatangiku dan berkata, 'Sesungguhnya banyak Qari penghafal al-Qur'an yang telah gugur dalam peperangan Yamamah. Aku takut jika para Qari yang masih hidup, lalu di kemudian hari terbunuh dalam peperangan, akan mengakibatkan hilangnya sebagaian besar dari ayat al-Qur'an. Menurut pendapatku, engkau harus menginstruksikan agar segera mengumpulkan dan membukukan al-Qur'an.' Aku (Abu Bakar) bertanya kepada Umar, 'Bagaimana aku melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rasulullah?' Umar menjawab, 'Demi Allah, ini adalah kebaikan!'" Dan Umar terus menuntut Abu Bakar hingga Allah melapangkan dadanya untuk segera melaksanakannya, akhirnya Abu Bakar pun setuju dengan pendapat Umar.

Zaid ibn Tsabit radhiyallahu 'anhu berkata, "Kemudian Abu Bakar berkata kepadaku, 'Engkau adalah seorang pemuda yang jenius, berakal, dan penuh amanah. Selain itu, engkau pun telah terbiasa menulis wahyu untuk Rasulullah, maka carilah seluruh ayat al-Qur'an yang berserakan dan kumpulkanlah.'"

Lalu, Zaid berkata pada dirinya sendiri, "Demi Allah, jika mereka memerintahkan aku untuk memikul gunung, tentulah lebih ringan bagiku daripada melaksanakan perintah Abu Bakar untuk mengumpulkan al-Qur'an." Kemudian Zaid ibn Tsabit pun mulai mengumpulkan tulisan-tulisan al-Qur'an yang tertulis di daun-daunan, kulit, maupun dari hafalan para penghafal al-Qur'an.

Ekspansi Islam

Kebijakan lain yang dijalankan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq adalah melakukan ekspansi/perluasan wilayah Islam. Ada dua ekspansi yang dilakukan Abu Bakar ash-Shiddiq, yaitu :
1. Ekspansi ke wilayah Persia di bawah pimpinan Khalid ibn Walid. Dalam ekspansi ini (tahun 634 M), pasukan Islam dapat menguasai dan menaklukkan Hirah, sebuah kerajaan Arab yang loyal kepada Kisra di Persia. Daerah ini merupakan penyebaran bangsa Arab dari selatan, namun mereka dijadikan pintu masuk penyebaran islam ke wilayah belahan timur dan utara.
2. Ekspansi ke Romawi di bawah empat panglima perang, yaitu Ubaidah ibn al-Jarrah, 'Amr ibn al-'Ash, Yazid ibn Sufyan dan Syurahbil. Ekspansi ke wilayah Romawi yakni kerajaan Ghassaniyah, yang merupakan daerah protektorat Romawi dan menjadi benteng pertahanan dari serbuan Persia.

Keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq

Pembela Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

al-Bazzar meriwayatkan dari Muhammad ibn 'Ali, dari ayahnya bahwa dia telah berkhutbah sebagai berikut, "Siapakah orang yang
paling berani?" Orang-orang
menjawab, "Engkau, wahai Amirul Mu'minin." 'Ali -yang tidak lain ayah Muhammad- berkata, "Kalau aku, maka tidak pernah berduel dengan seorang pun kecuali aku yang akan jadi pemenangnya. Akan tetapi orang yang paling pemberani adalah Abu Bakar. Aku pernah menyaksikan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah dianiaya oleh orang-orang kafir Quraisy. Beberapa orang telah menyakiti dan menzhalimi beliau. Orang-orang Quraisy berkata kepada Rasulullah, "Apakah kamu akan menggantikan beberapa Tuhan yang ada hanya menjadi satu Tuhan saja?' Demi Allah, tidak ada seorang pun di antara kita yang menerima ajakan beliau (untuk memeluk Islam) kecuali hanya Abu Bakar. Tetapi, tetap saja ada orang yang berusaha menyakiti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam." Maka Abu Bakar berkata, "Apakah kalian akan membunuh seorang laki-laki yang berkata, 'Tuhanku adalah Allah?'" 'Kemudian 'Ali menangis sambil berkata, "Aku bersumpah dengan nama Allah di hadapan kalian, apakah orang Mu'min pada masa Fir'aun lebih utama dibandingkan dengan Abu Bakar?" Maka semua orang terdiam. 'Ali kembali berkata, "Demi Allah, itulah waktu paling baik yang dimiliki oleh Abu Bakar. Orang Mu'min pada masa Fir'aun adalah orang yang menyembunyikan keimanannya. Sedangkan lelaki ini (Abu Bakar) adalah orang yang mengumumkan keimanannya."

Khusyu' dalam Shalat

Adapun kekhusyukan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu serta tangisan beliau di dalam shalat, benar-benar berpengaruh besar kepada orang-orang di sekelilingnya. Hal ini menyebabkan orang-orang Quraisy yang menguasai Makkah pada waktu itu mengajukan sejumlah syarat kepada beliau ketika beliau menunaikan shalat.

Akhirnya kaum kafir Quraisy menemui Ibn ad-Daghinah yang saat itu memberikan jaminan keamanan kepada Abu Bakar ash-Shiddiq. Mereka berkata kepadanya, "Wahai Ibn ad-Daghinah, suruhlah Abu Bakar untuk beribadah kepada Rabb-nya di rumahnya, hendaklah dia shalat dan membaca apa yang dia kehendaki dan janganlah dia menyakiti kami. Sesungguhnya kami khawatir perkara itu menjadi fitnah bagi anak dan istri kami."

Ibn ad-Daghinah pun mengatakan hal itu kepada Abu Bakar, sehingga beliau mulai beribadah kepada Allah di rumahnya, dengan tidak mengeraskan shalatnya begitupun dengan bacaannya.

Kemudian Abu Bakar ash-Shiddiq mulai membangun sebuah masjid di halaman rumahnya, beliau shalat dan membaca al-Qur'an di masjid itu. Pada saat itu, berkumpullah istri-istri dari kalangan orang musyrik dan anak-anak mereka, mereka begitu kagum akan shalat yang didirikan Abu Bakar dengan terus memperhatikannya. Abu Bakar adalah seorang laki-laki yang sering menangis, beliau tidak bisa menahan air matanya ketika membaca al-Qur'an (Kisah ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Ibn Hiban).

Sahl ibn Sa'ad berkata, "Abu Bakar radhiyallahu 'anhu tidak pernah melirik ketika dalam shalat." (Fadha'il ash-Shahabah [I/208], Imam Ahmad).

Mujahis menuturkan, "Keadaan Ibn az-Zubair ketika dia berdiri menunaikan shalat, seperti sebuah kayu yang kokoh (tidak bergerak)." Dikisahkan pula bahwa Abu Bakar pun seperti itu ketika shalat. Abdurrazaq berkata, "Penduduk Makkah menuturkan bahwa Ibn az-Zubair mencontoh shalat dari Abu Bakar, dan Abu Bakar mencontohnya dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam." (Fadha'il ash-Shahabah [I/208], Imam Ahmad).

Sifat Dermawan

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Umar ibn Khaththab, dia berkata: Rasulullah menyuruh kami untuk mengeluarkan sedekah. Kebetulan saat itu aku sedang memiliki harta. Lalu aku katakan, "Hari ini aku akan mengalahkan Abu Bakar dimana aku tidak pernah mengalahkan Abu Bakar sebelum ini. Aku datang kepada Rasulullah untuk menginfakkan sebagian dari harta milikku. Rasulullah bertanya kepadaku, "Lalu apa yang kamu sisakan untuk keluargamu?" Aku katakan kepada Rasulullah bahwa aku meninggalkan (untuk keluargaku) seperti apa yang aku infakkan (masih tersisa setengah harta untuk keluargaku) Kemudian Abu Bakar datang kepada Rasulullah dengan menginfakkan seluruh hartanya.

Rasulullah menanyakan padanya, "Lalu apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?" Abu Bakar menjawab, "Aku menyisakan untuk mereka Allah dan Rasulullah." Aku (Umar) berkata setelah itu bahwa aku tidak mungkin untuk mengalahkannya dalam segala hal untuk selamanya." (Hadits ini berkualitas shahih dan diriwayatkan oleh Abu Daud [1678] dari riwayat Ahmad ibn Shalih dan 'Utsman ibn Abi Syaibah. Tirmidzi juga menyebutkan hadits ini di dalam kitab al-Manaqib [3675] dari Harun ibn 'Abdillah. Ketiga perawi hadits ini mendapatkan riwayat hadits ini dari Abu Nu'aim al-Fadhl ibn Dakin, dari Hisyam ibn Sa'ad. Sedangkan Tirmidzi sendiri telah berkata, "Hadits ini berkualitas hasan shahih).

Do'a Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Abu Bakar ash-Shiddiq

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mendo'akan Abu Bakar ash-Shiddiq ketika dalam perjalanan hijrah ke Madinah.

Dari Anas radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Pada waktu malam di dalam gua, Abu Bakar berkata, "Wahai Rasulullah, biarkanlah aku yang masuk terlebih dahulu sebelum Anda. Jika memang ada seekor ular atau hewan penyengat yang lain, maka dia akan menyengatku terlebih dahulu sebelum menyengat Anda. Rasulullah bersabda, "Kalau begitu masuklah!" Maka, Abu Bakar masuk sambil menutup setiap lubang yang dilihatnya. Dia menutup lubang-lubang itu dengan sobekan pakaiannya. Abu Bakar terus melakukan hal itu sampai dia menyobek seluruh bajunya.

Anas berkata, "Namun ternyata masih ada satu lubang yang tersisa. Maka, Abu Bakar menyumbat lubang itu dengan tumitnya. Barulah setelah itu Abu Bakar mempersilahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk masuk. Pada keesokan harinya, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya, 'Dimana bajumu wahai Abu Bakar?' Abu Bakar memberituhukan apa yang telah dia perbuat semalam. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya sembari berdo'a, 'Ya Allah, jadikanlah Abu Bakar berada di derajatku pada hari kiamat nanti'. Lalu Allah 'Azza wa Jalla memberikan wahyu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, 'Sesungguhnya Allah Ta'ala akan mengabulkan permohonanmu itu'."

Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah mendo'akan Abu Bakar ash-Shiddiq agar bisa masuk surga dari semua pintunya.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan di dalam Shahih mereka berdua hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang menginfakkan sepasang hartanya di jalan Allah maka dia akan dipanggil -oleh Malaikat- dari pintu-pintu surga, 'Wahai hamba Allah! Inilah kebaikan -yang akan kamu peroleh-.' Barangsiapa yang tergolong ahli shalat, maka dia akan dipanggil dari pintu shalat. Barangsiapa yang tergolong ahli jihad, maka dia akan dipanggil dari pintu jihad. Barangsiapa yang tergolong ahli sedekah, maka dia akan dipanggil dari pintu sedekah. Barangsiapa yang tergolong ahli puasa, maka dia akan dipanggil dari pintu ar-Rayyan." Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, "Wahai Rasulullah, bahaya apa lagi yang perlu dikhawatirkan oleh orang yang dipanggil dari pintu-pintu itu. Lantas, apakah ada orang yang dipanggil dari ke semua pintu itu". Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Ada. Dan aku berharap semoga kamu termasuk di dalamnya." (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari di beberapa tempat; Kitab ash-Shaum [hadits no. 1897]; Kitab al-Jihad wa as-Siyar [hadits no. 2841]; Kitab Bad'u al-Khalq [hadits no. 3216], [4] Kitab Fadha'il ash-Shahabah [hadits no. 3666], dan juga diriwayatkan oleh Imam Muslim di Kitab az-Zakah [hadits no. 1027], lihat Fathul Bari [4/132] dan Syarh Shahih Muslim [4/351]).

Hadits ini menunjukkan keutamaan yang ada pada diri Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu. Karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan tentang beliau, "Aku berharap semoga kamu termasuk di dalamnya." Yaitu golongan orang-orang yang dipanggil dari semua pintu surga. Hal itu karena harapan dari Allah atau Nabi-Nya pasti terjadi, sebagaimana yang diterangkan oleh para 'Ulama. (lihat Fathul Bari [7/31] dan Syarh Shahih Muslim [4/353]).

Di antara keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq yang lainnya adalah sebagaimana yang telah dikatakan oleh al-Hakim sebagai berikut, "Julukan yang pertama kali muncul dalam Islam adalah julukan yang diberikan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu. Beliau dijuluki dengan sebutan 'Atiq (orang yang terbebas dari api neraka)."

Paling 'Alim di antara para Sahabat

Hal itu sebagaimana tergambar dengan jelas dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu, Suatu saat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam duduk berceramah di atas mimbar. Beliau mengatakan, "Seorang hamba yang telah diberikan pilihan oleh Allah untuk mendapatkan segala perhiasan dunia ataukah apa yang ada di sisi-Nya. Maka hamba tersebut lebih memilih apa yang ada di sisi-Nya." Abu Bakar pun menangis dan menangis. Lalu dia berkata, "Kami rela untuk menebus anda dengan bapak-bapak dan anak-anak kami (ya Rasulullah)." Dia (Abu Bakar) berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam itulah hamba yang diberi pilihan tersebut." Ternyata Abu Bakar adalah orang yang paling berilmu di antara kami tentangnya..." (HR. Bukhari di beberapa tempat; Kitab ash-Shalah [hadits no. 466]; Kitab Fadha'il ash-Shahabah [hadits no. 3654], Kitab Manaqib al-Anshar [hadits no. 3904] dan Muslim di Kitab Fadha'il ash-Shahabah [hadits no. 2382], lihat Syarh Shahih Muslim [8/7]).

Masa Sakit dan Wafat

Dari Ibn Hisyam, bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq dan al-Harits ibn Kaladah pernah memakan makanan yang bernama harirah, yang dihadiahkan kepada Abu Bakar. Lalu al-Harits berkata kepada Abu Bakar, "Angkatlah (tanganmu), wahai khalifah Rasulullah! Demi Allah, sesungguhnya dalam makanan itu terdapat racun. Aku dan dirimu akan mati pada hari yang sama." Lalu Abu Bakar mengangkat tangannya (untuk menyudahi makannya). Ternyata, keduanya sama-sama jatuh sakit sampai akhirnya meninggal dunia (pada hari yang sama pula), tepatnya di penghujung tahun." (Kualitas sanad hadits ini shahih. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Hakim (III/64) dari Ibn Syihab, juga dengan kualitas sanad yang shahih. Bahkan, al-Hafizh as-Suyuthi juga mengakui keshahihannya. Diriwayatkan juga oleh Ibn Sa'ad di dalam kitab Thabaqatnya dengan kualitas sanad yang shahih).

Dari 'Abdurrahman ibn 'Abdillah ibn Sabith, dia berkata: Ketika Abu Bakar ash-Shiddiq mengalami sakaratul maut, maka dia memanggil Umar. Lalu Abu Bakar berkata, "Bertakwalah kamu kepada Allah, wahai Umar! Ketahuilah, sesungguhnya Allah memiliki sebuah amalan yang dikerjakan pada siang hari sehingga tidak akan diterima apabila dikerjakan pada malam hari. Begitu juga sebaliknya, Allah memiliki amalan yang dikerjakan pada malam hari sehingga tidak akan diterima apabila dikerjakan pada siang hari. Allah tidak akan menerima amalan sunnah sampai kefardhuan-Nya ditunaikan terlebih dahulu. Bobot neraca seseorang akan berat pada hari kiamat hanya dengan cara mengikuti hal-hal yang benar ketika di dunia. Sesuatu yang benar akan menjadi berat apabila diletakkan di atas neraca timbangan amal. Namun bobot neraca akan ringan apabila ditumpuki kabathilan.

Sesungguhnya Allah Ta'ala mengingat para penghuni surga melalui amal baik mereka dan upaya mereka menjauhi keburukan. Jika aku mengingat para ahli surga, maka aku sangat khawatir kalau tidak termasuk dalam golongan mereka. Sesungguhnya Allah juga akan mengingat penduduk neraka melalui amal perbuatan buruk mereka. Jika aku telah mengingat para penghuni neraka, maka sesungguhnya aku berharap tidak termasuk golongan mereka. Hendaklah seorang senantiasa merasa harap cemas. Janganlah dia hanya berangan-angan mengenai Allah (tanpa beramal apapun). Hendaklah dia juga tidak putus asa terhadap rahmat Allah. Jika kamu memelihara wasiatku ini, maka tidak ada sebuah perkara ghaib yang paling kamu sukai melebihi kematian. Sebab, dia pasti akan mendatangimu. Jika kamu sampai menyia-nyiakan wasiatku, maka tidak ada perkara ghaib yang paling kamu benci melebihi kematian, dan kamu tidak akan bisa mengelak darinya." ('Abdurrahman ibn 'Abdillah ibn Sabith adalah seorang perawi yang tsiqah. Dia menilai hadits tersebut mursal dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana yang telah dikemukakan oleh al-Hafizh di dalam kitab at-Tahdzib [3/364]).

Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, dia berkata: Ketika Abu Bakar jatuh sakit yang akhirnya menyebabkannya meninggal dunia, maka dia berkata, "Periksalah harta milikku, apa yang masih lebih semenjak aku menjabat sebagai khalifah! Kalau memang ada hartaku yang lebih, maka kirimkanlah kepada khalifah yang akan menjabat setelah aku!" Maka kami memeriksa harta miliknya. Ternyata kami menemukan seorang hamba yang biasa mengasuh anaknya dan seekor hewan tunggangan yang dipergunakan untuk menyiram kebunnya. Maka kami menyerahkan kedua harta itu kepada Umar.

'Aisyah berkata, "Aku diberi kabar oleh kakekku bahwa Umar menangis (ketika menerima harta tersebut). Lalu Umar berkata, 'Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada Abu Bakar. Dia telah memberikan contoh yang sangat sulit bagi para penggantinya'."

Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, dia berkata: Ketika sedang mengalami sakaratul maut, Abu Bakar duduk sambil mengucapkan kalimat syahadat. Kemudian dia berkata, "Amma ba'du, wahai putriku, sesungguhnya orang yang paling aku sukai kekayaannya sepeninggalku adalah dirimu. Sesungguhnya orang yag paling mulia kefakirannya sepeninggalku adalah dirimu. Aku telah meninggalkan untukmu buah kurma sebanyak dua puluh wasaq. Demi Allah, aku ingin kamu mengumpulkannya! Sesungguhnya harta itu juga menjadi milik dua saudara laki-laki dan dua orang saudara perempuanmu."

'Aisyah berkata, "Aku berkata, 'Ini memang dua saudara laki-lakiku. Lalu, siapakah saudara perempuanku (selain Asma')?' Abu Bakar menjawab, 'Anak yang ada di dalam kandungan Habibah binti Kharijah, karena aku menduganya akan terlahir sebagai anak perempuan'."

Di dalam sebuah riwayat disebutkan dengan menggunakan redaksi, "Telah terlintas dalam hatiku bahwa anak itu akan terlahir sebagai anak perempuan." Lalu terbukti lahirlah anak perempuan, yakni Ummu Kultsum. (Hadits diriwayatkan oleh Imam Malik).

Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, dia berkata: Ketika sakit Abu Bakar semakin parah, maka dia berkata, "Ini hari apa?" Kami menjawab, "Hari Senin." Abu Bakar berkata lagi, "Sesungguhnya aku berharap aku meninggal dunia maksimal pada malam ini."

'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, "Di atas tubuh Abu Bakar ada pakaian yang terdapat bekas parfum dari bahan misik. Maka Abu Bakar berkata, 'Jika aku meninggal dunia nanti, basuhlah pakaianku ini kemudian gabung dengan dua kain baru yang lain. Kafanilah tubuhku dengan ketiga kain tersebut!' Maka kami berkata, 'Apakah tidak lebih baik kita menyediakan tiga lembar kain yang baru semua?' Abu Bakar menjawab, 'Tidak, karena pakaian yang lama akan terkena nanah yang mengalir di badan (kalau jenazahku sudah dimakamkan nanti)'. Ternyata Abu Bakar meninggal pada malam Selasa." (Hadits diriwayatkan oleh Imam Bukhari).

Menurut para 'Ulama ahli sejarah, Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu meninggal dunia pada malam Selasa, tepatnya antara waktu Maghrib dan Isya' pada tanggal 8 Jumadil Akhir 13 H. Usia beliau ketika meninggal dunia adalah 63 tahun. Beliau berwasiat agar jenazahnya dimandikan oleh Asma' binti Umais, istri beliau. Maka, Asma' memandikan jenazahnya kemudian dikebumikan di samping makam Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang berada di kamar 'Aisyah (sekarang lokasinya di areal Masjid Nabawi, Madinah). Umar ibn al-Khaththab menshalati jenazahnya di antara makam Nabi dan mimbar. Sedangkan yang turun langsung ke dalam liang lahat adalah putranya yang bernama 'Abdurrahman, Umar ibn al-Khaththab, 'Utsman ibn 'Affan, dan Thalhah ibn Ubaidillah. Semasa hidupnya, Abu Bakar ash-Shiddiq telah meriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebanyak 142 hadits (yang dimasukkan dalam Bukhari, 22).

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala meridhai Abu Bakar ash-Shiddiq dan menempatkan beliau pada kedudukan yang tinggi di sisi Rabb-Nya. Amiin.



FeedCount

Cari artikel di blog ini

Loading

Ikuti via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Followers

Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template